Hasrat Sang Majikan

Hasrat Sang Majikan
BAB. 77


Sudah satu minggu semenjak insiden penculikan terjadi. Alex mendekati Sabrina dengan masih menjadi Xander, dari situlah Alex tahu kalau Sabrina adalah wanita baik. Gadis yang tak pernah merasa risih dengan penampilannya dan hanya menilai dari kepribadian.


Sabrina juga sangat sederhana dan tak mengedepankan harta sebagai jaminan bahagia, walau nyatanya harta juga sangat penting untuk menunjang rumah tangga yang bahagia. Namun, jika harta hanya akan menjadi bumerang saja. Sabrina lebih memilih hidup sederhana yang penting selalu giat bekerja. Dan yang paling utama, memiliki pasangan yang setia mencintainya apa adanya. Sabrina mencurahkan semua keinginannya kepada Alex yang dianggapnya Xander. Dari situlah Alex menyadari betapa terzoliminya Sabrina saat masih bersamanya.


Sepertinya Alex memang sudah salah besar sudah menelantarkan Sabrina dan sering mengasarinya. Otak Alex tak hentinya berpikir cara untuk memberitahukan Sabrina kalau dia adalah Alex, pria yang kini mencintainya.


"Kak, aku sudah memantapkan hati untuk bercerai dengan Tuan Alex," ucap Sabrina ditengah obrolan santai keduanya.


"Apa?" Alex benar-benar terkejut, "alasannya?" sambungnya lagi.


Sabrina menghela napas panjang, ada jeda sebelum ia menjawab pertanyaan Alex. "Aku tak sanggup lagi hidup bersama pria yang tak pernah menghargai kehadiranku." Sabrina berucap dengan sungguh-sungguh, walau sedih dengan penyataan tersebut. Namun, tidak Sabrina tunjukan.


"Apakah tidak bisa dibicarakan dulu dengan pria bernama Alex itu?"


Sabrina mengalihkan pandangan. "Untuk apa? Pria itu bahkan ingin membunuhku, justru dia akan senang aku pergi dari kehidupannya."


"Bagaimana jika semua itu hanya salah paham saja?"


Sabrina menggeleng. "Itu tak mungkin, selama ini Alex tak pernah mencintaiku." Sabrina berdiri, meraih daun ilalang di depannya dan meremas kuat.


"Bagaimana jika pria bernama Alex itu mencintaimu dan pria itu ada dihadapanmu."


"Semuanya terlambat, dan aku tak sanggup lagi menjadi wanita mainannya. Selama ini aku sudah cukup sabar dengan sikapnya," jawab Sabrina membelakangi Xander.


"Bagaimana dengan Mami yang kini sangat merindukanmu, menunggumu di rumah. Sabrina, kembalilah pulang ke rumah bersamaku."


"Sabrina, aku ini Alex dan aku juga ...."


"Tak perlu di lanjutkan, dasar pria penipu. Belum cukupkah Tuan mempermainkan hidupku selama ini. Aku sangat membencimu dengan seluruh jiwaku!" ucap Sabrina dengan nada tinggi sembari menyeka air matanya. Terlalu mahal air matanya dibuang-buang menangisi kekecewaannya terhadap Alex.


Alex memeluk Sabrina, sembari mengucapkan maaf. Gadis itu meronta, mengumpat. Tak sudi dengan sentuhan Alex.


"Jangan harap aku akan memaafkanmu, hatiku sudah terlanjur sakit dengan semua tipuanmu. Tuan Alexander Wijaya yang terhormat!" ucap Sabrina penuh penekanan sembari mendorong tubuh Alex agar menjauh darinya.


"Aku mencintaimu, Sabrina. Sungguh." Alex kembali meraih tubuh wanita yang dirindukannya itu.


"Kubur saja cinta palsumu itu, aku nggak akan pernah tertipu!" tegasnya penuh keseriusan.


Setelah itu Sabrina berlari meninggalkan kebun ilalang yang menjadi saksi pernyataan Xander yang selama ini sudah membohonginya.


Penipu! Penghianat, aku benci Alexander. Aku benci!


Sabrina terus berlari. Meskipun Alex terus memanggilnya bahkan mengejar. Gadis itu sekuat tenaga menghindar dari kejaran Alex dan bersembunyi.


"Sabrina, aku benar-benar mencintaimu!" teriak Alex dengan napas tersengal-sengal. Gadis itu tak dapat dikejarnya.


Ah, Sial! Alex merutuki dirinya sendiri. Ia memang bodoh, terlalu terburu-buru mengungkap identitasnya. Pikir Alex, Sabrina akan memaafkannya dan menjadi wanita patuh seperti harapannya. Ternyata, tanpa disadari. Alex sudah terlalu dalam membuat luka di hati Sabrina.


"Setelah Sabrina merasa tenang. Aku akan mengajaknya bicara dari hati ke hati," gumam Alex dengan harapan Sabrina akan mengerti.