
Ingat Sabrina, kali ini kamu harus berani. Nggak boleh takut dengan ancaman Alex dan Karlina. Jangan cengeng lagi, tunjukkanlah perubahanmu kepada pria ganas itu.
Sabrina menyemangati dirinya sendiri, menatap pantulan dirinya dicermin. Ia pasti bisa menghilangkan ketakutan dalam dirinya, jika ia terus diam tak melawan maka akan semakin ditindas dan jika ia terus lemah. Kelemahannya itu akan mengancam jiwanya sendiri, kini Sabrina yakin dengan keputusannya, menjadi gadis pemberani.
Tepatnya jam sepuluh. Sabrina mendengar suara Karlina yang terus memanggilnya, wanita itu memang menyebalkan. Tak memberinya celah sekedar untuk istirahat.
"Kamu itu tuli, aku panggil-panggil dari tadi nggak nyaut," omel Karlina usai Sabrina membuka pintu kamarnya.
"Apalagi?" tanya Sabrina acuh.
"Nggak lihat, kolam renang kotor dan penuh sampah. Bersihkan sanah." Karlina mendorong tubuh Sabrina.
"Matamu buta kali ya, ini tuh sudah jam sepuluh malam, buat apa aku membersihkan kolam renang. Pokoknya aku nggak mau, dan lagi siapa kamu beraninya nyuruh-nyuruh."
"Dia calon istriku, yang lebih berhak atas rumah ini." Suara Alex menggelegar bagai petir menyambar. "Dan kamu, kini aku anggap sebagai membantu di rumah ini. Jadi jangan pernah ada bantahan lagi," ucap Alex penuh penekanan.
"Itu lebih baik, aku dengan senang hati menuruti perintah, Tuan." Lantang Sabrina menjawab, hatinya terlalu sakit menerima hinaan dari Alex yang bertubi-tubi.
"Satu lagi, kamarmu pindah ke kamar belakang tempat pembantu berada," titah Alex.
Ayo menangis, dan memohonlah dibawah kakiku.
"Tak masalah." Sabrina segera mengemasi pakaiannya, berlalu pergi melewati Alex yang menatapnya tak percaya.
"Tunggu." Alex menyentuh bahu Sabrina, "bersihkan kolam renang sekarang juga, besok pagi aku mau berenang dengan calon istriku."
Sabrina menepis tangan Alex. "Akan aku laksanakan."
"Bagus, ayo sayang. Kita tidur." Alex merangkul bahu Karlina mesra.
Tuan pikir saya akan cemburu, tidak sama sekali. Dengan adanya wanita itu aku akan terhindar dari keganasanya.
Kalian pikir aku akan cengeng, tidak akan lagi. Aku harus membalas semua kelakukan kalian berdua. Manusia tak berperasaan.
Sedangkan Alex tertawa puas melihat Sabrina yang sedang marah-marah sampai mematahkan gagang sapu. Ternyata gadis cupu itu mulai melawannya. Akan sampai mana keberanianmu melawanku.
"Merusak barang-barang dirumahku, aku denda sepuluh juta!" teriak Alex dari balkon kamarnya.
Sabrina menengadahkan kepala melihat wajah si mesum yang sedang mengejeknya, saking kesalnya bukannya membersihkan kolam renang. Sabrina malah menaburkan kembali sampah yang sudah dipungutinya ke dalam kolam lagi.
"Sabrina!" teriak Alex bergegas turun dari kamarnya. Menggoceh yang Alex lakukan. "Apa-apaan kamu, hah?" Alex menarik kasar tangan Sabrina.
"Aku sedang mengotori kolam ini, Tuan," jawab Sabrina dengan santainya. Tak peduli dengan mata melotot Alex, seolah ingin menelannya hidup-hidup.
"Aku menyuruhmu untuk membersihkan kolam ini, bukan mengotorinya." Alex menggertakan gigi.
"Siapa suruh Tuan mengotori kolam ini, aku tahu semua ini sengajakan untuk mengerjaiku. Tapi kini aku bukan Sabrina yang bodoh yang selalu menerima jika ditindas." Sabrina balas berteriak.
Alex mendekatkan tubuhnya, merangkul pinggang Sabrina hendak memberi sapuan di leher gadis itu.
"Arkhhh!" Alex memekik mengangkat sebelah kakinya.
"Itu balasan untuk pria mesum seperti, Tuan." Sabrina menginjak kaki Alex, mendorong tubuh pria itu agar menjauh darinya. Sabrina segera berlari menuju kamar sebelum Alex mengejarnya.
"Deg ... deg ... deg." Jantung Sabrina berdegup kencang, sulit sekali ingin bernapas. Haus, Sabrina memilih meminum air kran dari kamar mandi.
Jangan lupa like dan komentarnya jika suka, jangan loncat-loncat bacanya. Karena kelihatan dari jumlah likenya. 🤧🤧
Makasih yang sudah mendukung dan memberikan votenya.