
Alex berinisiatif untuk menelepon Sabrina ingin tahu kegiatan apa yang dilakukan oleh gadis itu, jangan-jangan seperti waktu kemarin sebelum ia berangkat keluar kota, keadaan rumah berantakan seperti sudah terjadi perang. Ia pun mengetahui kalau remote tv-nya rusak, apalagi di kamar. Jangan dikata sangat berantakan sekali bagai kapal pecah.
Untuk apa aku menelepon si cupu, yang ada gadis itu kegirangan dan berpikir kalau aku merindukannya. Ngelunjak nantinya si cupu.
Lagian, ini masih sangat pagi, si cupu pasti lagi beres-beres rumah. Namanya juga asisten rumah tangga. Pikir Alex, sama sekali tak mengetahui kalau Bibi An dan Bibi Ar sudah kembali bekerja.
Alex kembali berkutat dengan laptopnya mengecek semua pekerjaan yang dikirim lewat email oleh sekretarisnya semalam. Sambil menikmati secangkir kopi hangat di pagi hari.
Rey datang memberi tahu kalau meeting akan dilakukan di sebuah Resort pinggir pantai. Alex bergegas mandi dan memakai pakaian casual membuat penampilannya sempurna.
Alex dan Rey bergegas menuju Resort untuk menemui Tuan Charlie, mereka akan melakukan kerjasama dalam bisnis otomotif yang kini sedang Alex rintis, memperlihatkan semua koleksi mobil-mobil mewahnya kepada Tuan Charly dan akan dipasarkan lewat media online terlebih dulu di Amerika. Alex juga menunjukkan rancangan mobil mewah yang sudah dirancangnya kepada Tuan Charly.
Tuan Charly begitu terkesan melihat hasil karya Alex, rancangan mobil baru yang Alex buat menunjukkan kalau Alex memiliki bakat yang menakjubkan.
"Senang bisa bekerja sama dengan, Tuan Alex. Masih muda sudah berbakat," pujinya sambil berjabat tangan.
"Terimakasih Tuhan Charly, justru saya lebih beruntung bisa bekerjasama dengan Anda," balas Alex. Mereka melanjutkan makan bersama.
Tuan Charly mengajak Alex untuk melihat beberapa resort miliknya, barangkali saja Alex akan tertarik pada salah satu resortnya dan bisa dijadikan tempat untuk berbulan madu nanti setelah menikah.
Setelah menikah? Bukannya dia itu memang sudah menikah. Sayangnya tidak mau mengakui karena gengsi menikahi pembantunya sendiri.
Selesai makan Alex menuju kamar hotelnya kembali, sedangkan Rey masih menemani Tuan Charly. Nanti sore jadwal Alex pergi bersama Tuan Charly untuk melihat beberapa resort miliknya, dan sekarang ia hanya ingin istirahat. Lebih tepatnya ingin mengetahui kegiatan si cupu.
Alex duduk di sofa sambil menyilangkan sebelah kaki, menikmati asap nikotin yang pria itu lakukan dan mengepulkan asapnya keudara, pikirannya kacau. Antara rasa penasaran dan rasa gengsi.
Sedangkan Sabrina sedang menikmati mandi, ia baru selesai menanam bunga di pot hias bersama kedua asisten rumah tangganya. Samar-samar terdengar suara ponselnya berdering. Sabrina tergesa menyelesaikan kegiatan mandinya, meraih handuk yang tergantung segera memakainya. Ia keluar dari kamar mandi sedikit berlari, meraih ponsel yang berada di atas nakas. Namun ternyata nomor tersebut tak dikenalinya.
Seketika mata Sabrina terbelalak, membulat sempurna. Betapa terkejutnya saat ia melihat wajah seorang pria di ponsel miliknya itu adalah Alex. Tanpa sadar kain yang membalut tubuh Sabrina melorot ke lantai, membuat Alex yang melihat hal itu sampai-sampai tak bisa mengedipkan mata sama sekali.
Sabrina yang menyadari hal itu segera melemparkan ponselnya, untungnya saja ponselnya itu mendarat sempurna ke tempat tidur, kalau ke lantai bisa ancur. Saking paniknya Sabrina mencari pakaian ke lemari dengan tubuh gemetar dan segera memakainya.
Benar-benar memalukan. Sabrina mondar-mandir sambil menggit ujung jari, tak berani menyentuh ponselnya, takut kalau ekspresi wajah Alex yang memburu itu masih memenuhi layar ponsel miliknya.
Sial! Apa-apaan si cupu! Alex mengerang keras, kepalanya dipenuhi keindahan tubuh Sabrina. Alex ingin kembali merasai gadis itu sampai puas, membuatnya menangis, merintih menyebut namanya.
Gundah yang Alex rasakan, disisi lain. Ia tak bisa pulang mendadak untuk memenuhi kerinduannya. Bisnis baru yang sangat menguntungkan berada di depan matanya dan Alex tak bisa menyia-nyiakannya. Namun disisi lain ada rasa yang memburu ingin segera dituntaskan, dan itu membuatnya menggila terbayang-bayang dalam benak sulit untuk terlupakan.
Sabrina! Awas saja nanti jika aku pulang, jangan harap aku akan melepaskanmu. Alex kembali mengerang, terlalu kesal. Membuatnya harus menuntaskan kerinduan di kamar mandi.
Selesai mandi. Alex memilih menyelesaikan pekerjaannya, ponselnya masih tergeletak di kasur. Ia tak mau menyentuhnya takut bayangan indah itu menghantuinya kembali.
Konsentrasi Alex terpecah saat ponselnya berdering kembali. Mengumpat, mengambil ponsel yang tergeletak itu karena tak berhenti berbunyi.
"Sayang, kenapa lama sekali mengangkat teleponnya. Aku berterima kasih sekali, kamu sudah mengirimkan mobil keluaran terbaru yang sangat aku impikan dan sekarang aku tidak marah lagi. Aku semakin mencintaimu." Ternyata itu Karlina yang menelepon, melakukan video call. Mengutarakan kata-kata manja atas kiriman hadiah yang Alex berikan kepadanya.
"Syukurlah, jika kamu tidak marah lagi. Aku merasa tenang," jawab Alex datar.
"Sayang, kenapa seperti itu menjawabnya. Apakah kamu berbalik marah kepadaku?" Karlina merasa diacuhkan dengan ekspresi wajah Alex yang tidak manis kepadanya. Setelah itu Karlina berinisiatif berpose manja yang biasanya membuat Alex semakin tergila-gila kepadanya, apalagi Karlina memakai pakaian yang sangat terbuka.
Melihat pose manja Karlina dengan pakaian yang terbuka itu. Alex malah membayangkan wajah Sabrina, kepalanya semakin pusing. Alex berkata kepada Karlina, harus segera menyelesaikan pekerjaannya dan berjanji kalau Alex akan kembali menghubunginya lagi. Karlina sampai mengerucutkan bibir merasa tak terima. Padahal sangat rindu. Namun, bagaimana lagi kekasihnya itu sedang semangat bekerja. Semakin banyak harta yang Alex miliki maka Karlina akan semakin bahagia.