
"Cari gara-gara nih cewek murahan!" Ketiga pria kompak menyerukan kata menghina.
Arma lagi-lagi mengeratkan gigi, tak ada sedikitpun ketakutan dalam dirinya untuk menghadapi keempat cunguk yang hobi keroyokan.
"Cari mati kalian! Beraninya menghina gue bilang cewek murahan." Arma melipat lengan bajunya sampai ke pundak. Rambut panjangnya diikat sangggulkan. Wajah garangnya siap bertempur.
'Nih, cewek sungguhan apa siluman macan.' Rey membatin melihat gelagat Arma, lebih baik jadi penonton dulu saja. Setelah ni cewek nyerah baru Rey memberi bantuan, menunjukan kebolehannya dalam bela diri. Biar tak dikatai lembek!
"Lo diam saja di situ lembek," tunjuk Arma pada Rey. Hancur sudah martabat kelelakiannya, ogah betul harus dilindungi cewek.
Tawa renyah terdengar nyaring, kata lembek membuat Rey semakin terhina. Arma sungguh keterlaluan, membuat jiwa perang Rey berkobar.
"Nggak ada nyali lo sekarang, sampai dilindungi cewek. Ha ha ha!"
Gelak tawa itu membuat amarah Rey memuncak, kobaran api dalam dada semakin panas.
"Brengsek!" umpat Rey, replek menendang motor Arma sampai terjungkal.
"Motor kesayangan gue!" Arma berteriak kesal. Sempatnya dalam situasi berbahaya ini membangunkan motornya lagi. Bahkan Arma berniat memberi tendangan pada lutut Rey. Namun, kali ini Rey berhasil menghindar.
Sudah cukup ia berpura lembek, tingkah Arma yang sok jagoan membuat Rey muak saja.
"Kalian berdua cari mati rupanya!" Pria berkupluk meludah kesamping. Kompak membuka penutup wajah mereka.
Rey tak salah duga, mereka anak buah Andra yang pernah memukuli dirinya dan Alex.
"Masih ingat wajah kami, sekarang katakan dimana Alex dan Sabrina. Atau lo akan mati sama wanita murahan ini," tunjuknya pada Arma.
Tendangan maut Arma layangkan, dengan cepat Arma menendang pula dibagian perut dengan sangat kasar. Mulut Arma mengoceh sembari menginjak perut salah satu dari penjahat itu dengan brutal.
Rey sampai menelan salivanya sendiri melihat keberutalan Arma, lebih mirip orang kesurupan setan ganas.
Bahkan tangan kirinya masih bisa menangkis tinjuan kawanan lain, setelah tendangan diarea sensitif diberikan Arma pada ke tiga cunguk tak bermoral itu.
"Kalian masuk kampung ini mau cari mati, hah! Sampai berani ngatain gue cewek murahan segala. Dasar setan alas kalian semua." Arma memelintir kedua tangan pimpinan mereka.
"Ngelawan cunguk kayak kalian itu mudah bagi gue!" teriak Arma ditelinga pria rambut ikal itu. Yang kini sedang memohon pengampunan Arma.
"Lo pikir gue akan lepasin gitu saja, setelah harga diri gue kalian injak-injak. Sorry, kalian tahu. Gue itu suka sekali memotong bagian kebanggaan lelaki sampai habis tak tersisa," ancam Arma nampak sangat serius.
Membuat Rey ikut bergidik ngeri. Mau menelan salipa saja tenggorokannya terasa sangat kering sekali. Bahkan tanpa sadar Rey menutupi barang bergarganya dengan kedua tangan.
Rasanya ingin kabur dan menjauh dari wanita iblis pemangsa ini. Namun, gelap sekali. Takut malah kekasar dan masuk hutan, dimangsa macan.
Kenapa? Rey jadi penakut sekali. Keberaniannya hilang seketika, yang ada kini ia hanya ingin segera pulang dan bersembunyi dibawah selimut.
'Tuhan, kenapa aku harus bersama wanita ganas seperti dia.' Rey sangat membatin, sampai keringat dingin.
Heran juga sama keberanian ni cewek, juga gaya bela dirinya yang lihai menangkis lawan. Kena pukul juga Arma sama sekali tak terlihat kesakitan, apa kulitnya bercampur baja.
"Ampun! Kali ini kita menyerah, nggak akan berani mengganggu lo lagi," ucap si gondrong meringis sakit.
"Basi!" teriak Arma memelintir tangan penjahat itu lebih keras lagi.
"Sumpah, sumpah. Kita nggak akan datang lagi." Suara kompak ke tiga pria yang terkulai lemas di jalan. Tubuh mereka serasa remuk semua, dibanting Arma sampai berulang kali.
Arma tertawa lepas. Bangga sekali bisa menaklukkan empat cunguk sampai terkapar tak berdaya.
"Gue dilawan," ucapnya lagi berbangga diri sembari menepuk dada.
Aksi Arma membuatnya lengah. Sampai si gondrong yang dalam kungkungan Arma lepas dan bergabung dengan para kawanan.
Sebuah benda tajam mereka keluarkan. Dengan tawa kemenangan seolah mereka siap membalas kekalahan.
Benda tajam yang dipegang ditangan mereka putar-putar dengan keangkuhan. Siap mencabik kedua mangsa.