
Sabrina dipaksa turun dari mobil, gadis itu tak menggubris ucapan Alex dan memilih diam. Alex geram dengan diamnya Sabrina.
"Lepaskan aku, Tuan. Aku tidak mau ikut denganmu." Sabrina melawan berusaha menarik tangannya dari cengkraman Alex.
"Diam!" tegas Alex membawa Sabrina masuk ke dalam vila yang sangat asing untuknya.
Alex kesal Sabrina terus melawan. Mengangkat tubuh gadis itu membawanya ke kamar dan menghempaskannya ke ranjang.
"Kenapa Tuan membawaku kesini, aku mau pulang?!" Teriak Sabrina memasang wajah kesal.
"Pulang kemana, kerumah Andra lagi?" Alex melonggarkan dasinya yang sedari tadi terasa mencekiknya.
"Iya, aku mau pulang kerumah Tuan Andra, disana aku lebih dianggap manusia."
Alex menarik sudut bibirnya. Merangkak naik ke kasur mendekati Sabrina. "Termasuk ditidurinya juga," ucap Alex dengan tatapan menghina.
"Aku bukan wanita murahan yang bisa ditiduri banyak pria!" Sabrina meninggikan suaranya, ia tak boleh takut. Semakin banyak diam hanya hinaan yang didapat.
"Lantas, kenapa kamu memakai pakaian terbuka seperti ini, hah! Sengaja agar pria diluar sana menikmati tubuhmu."
"Ini keinginanku agar aku tidak terus dihina!"
"Ouh ... tidak mau dihina dan menikmati sentuhan tangan Andra. Menyentuh pinggangmu mesra, di puji setiap pria dan itu malah membuat mata mereka ingin menjamahmu!" teriak Alex menyobek baju bagian depan yang Sabrina kenakan.
"Tuan!" jerit Sabrina menyilangkan kedua tangan menutupi bagian depan tubuhnya.
"Aku tak mau jadi pemuas lagi, aku capek. Lebih baik aku bersama Tuan Andra yang memberiku perlindungan dan kenyamanan. Sedangkan sebagai istri aku sama sekali tak dianggap, bukannya Tuan juga sudah memiliki Karlina yang jauh lebih sempurna." Sabrina berusaha turun dari tempat tidur.
Sigap Alex menahan tangan Sabrina dan mengungkung tubuh kecil itu, menarik gaun dan menghempasnya ke lantai. Sabrina kembali menangis dia sangat takut kali ini Alex benar-benar marah dan kemarahannya itu tak pernah Sabrina lihat sebelumnya. Ada apa dengan pria ini, sulit sekali untuk menebak kepribadiannya. Sabrina meminta untuk dilepaskan. Namun, Alex malah berkata kalau tangisan Sabrina itu bagaikan alunan lagu yang sangat merdu dan membuat Alex semakin menginginkannya, kerapuhan Sabrina menjadi sesuatu yang sangat indah yang selalu ingin Alex rasai.
Alex menggila, beberapa hari tak merasai Sabrina membuatnya hilang kendali. Ada rasa yang sangat berbeda dan sulit di utarakan. Jangan tanya masalah pengaman, Alex selalu memakainya sebelum bertempur. Namun, kali ini tak ada penghalang dan sensasinya sangat tak tertahankan.
Sabrina merasa Alex itu bukanlah manusia tapi monster berwujud manusia. Pria ini tak ada puasnya, membuat Sabrina sampai lemas tak berdaya.
Setelah puas. Alex bergegas keluar meninggalkan Sabrina yang masih menangis sampai membanting pintu kamar. Pria itu sangat menakutkan, namun sulit juga untuk melawan. Apalagi setatus Sabrina masih seorang istri. Setidaknya Sabrina masih mempunyai kewajiban untuk melayaninya.
Tubuh gemetar itu masuk ke dalam kamar mandi, mengisi bak mandi dengan air sampai penuh dan memasukkan tubuh lemas itu untuk berendam di sana. Rasanya ingin mati saja jika sudah merasakan perlakuan kasar seperti ini. Sabrina juga manusia yang seharusnya diperlakukan dengan lembut bukan dengan kekerasan.
Sudah setengah jam Alex berdiri di balkon, berapa banyak ia menyesap asap nikotin sampai tak terhitung jumlahnya. Ia menyadari atas perlakuan kasarnya kepada Sabrina. Seharusnya tak seperti itu, entah kenapa serasa ada gelombang panas yang menggerogoti hati dan pikirannya.
Alex menghela nafas panjang, pikiran kalutnya mulai terasa tenang. Ia harus melihat keadaan Sabrina, pasti gadis itu masih menangis di bawah selimut.
Sesampainya dikamar Alex tak mendapati keberadaan Sabrina. Terdengar suara gemericik air di kamar mandi pasti Sabrina sedang mandi. Alex mencoba memanggilnya, namun tak ada jawaban sampai beberapa kali Alex memanggil tetap tak ada jawaban juga. Panik, pastinya. Tak hentinya Alex menggedor pintu kamar mandi dengan sangat keras. Masih tak ada jawaban. Alex terpaksa mengambil ancang-ancang untuk mendobrak pintu tersebut.
"Gadis bodoh, mau mati kamu!" Alex mengangkat tubuh Sabrina yang hampir tenggelam di dalam bak mandi.
"Bunuh saja aku Tuan, aku tak sanggup jika terus-terusan diperlakukan seperti ini," balas Sabrina lemas tak berdaya.
Alex meraih handuk yang tergantung, segera memakaikannya ke tubuh Sabrina dan menggendong gadis itu keluar dari kamar mandi membaringkannya di kasur.