Hasrat Sang Majikan

Hasrat Sang Majikan
BAB. 9


Alex kesal dengan sikap maminya yang perhatian kepada Sabrina. Gadis cupu itu sudah mencuri hati maminya. Alex ingin protes, sayangnya tak bisa. Ancaman maminya itu terlalu menyeramkan.


Ponsel Alex bergetar, sudah pasti sang kekasihlah yang menghubunginya. Alex sudah janji akan menemuinya di kafe favorit tempat mereka pertama bertemu.


"Ingatnya bule arab, jangan macam-macan diluar sana," anjaman itu kembali keluar dari mulut sang mami.


Bisa nggak sih tak ada ancaman. Alex ingin sekali melawan setiap perintah maminya yang menghalangi kebebasannya. Tak mau berdebat panjang, mengalah yang lebih baik dilakukan.


Alex masih punya banyak ide agar bisa pergi menemui sang kekasih. Menyogok satpam penjaga rumah yang kini dilakukannya usai mami dan papinya pergi. Awalnya ia akan pergi ke kantor. Namun, maminya mencium gelagat aneh dari Alex sehingga ia tak dapat izin kemana-mana. Sungguh sial!


"Tapi, Tuan muda. Nanti Mami bisa marah," ujar satpam ragu.


"Tenang saja, aman. Hanya sebentar saja." Alex segera memacu kuda besi yang dipinjamnya dari satpam.


Satpam tersebut tak bisa berkutik setelah motor maticnya dibawa Alex, terkesima dengan rayuan manis Alex membuat satpam tersebut menuruti setiap ucapannya.


Alex memacu kendaraannya dengan kecepatan tinggi agar bisa cepat sampai menemui sang kekasih di kafe. Sesampainya ditempat tujuan, Alex mencari-cari keberadaan kekasihnya. Namun sayang, wanita itu sudah tidak ada ditempat lagi. Seorang pramusaji memberikan secarik kertas.


'Sayang, kamu sangat lama. Aku tunggu di apartemen.'


Tak menunggu lama lagi Alex segera menuju ke apartemen tersebut. Dan tanpa sepengetahuan Alex ada yang membuntutinya, melaporkan semua kegiatannya sampai tempat yang ditujunya sekarang.


Baru saja sampai depan pintu apartemen sang kekasih, tiba-tiba saja ada yang membekap mulut Alex sampai ia tak sadarkan diri.


"Tugas kami selesai, Mami," ucap pria tersebut usai mereka berada di dalam mobil.


"Bagus, bawa si bule arab itu ke vila."


"Siap, Mami."


***


Sabrina sangat bingung dengan situasi yang kini sedang dirasanya. Sepulang dari butik dan salon bukannya pulang kerumah, Sabrina malah dibawa ke vila. Mau bertanya tapi tak berani, takut yang Sabrina rasa dan memilih diam.


Vila yang cukup besar dan mewah. Suasananya nampak sejuk, banyak pohon menjulang tinggi disamping vila. Terdapat juga taman bunga yang indah di depan dan di belakang vila.


Sabrina yang kini berada di kamar hanya bisa menikmati keindahan tempat tersebut dari balkon.


"Maaf, Nona. Kami diutus oleh Mami untuk mendandani Anda," ucap seorang wanita dengan gaya modisnya, disampingnya juga ada seorang asisten pria manis nan gemulai menenteng dua koper besar ditangan kanan dan kiri.


"Untuk apa?" Sabrina bertanya, raut wajahnya sedikit kaget.


"Bukannya hari ini Nona akan menikah dengan Tuan Alex."


"Apa, me-menikah?" Sabrina terbata, pasalnya ia tidak tahu soal pernikahan ini.


Kenapa mendadak sekali, aku belum siap. Apa Bi Eis sudah tahu akan hal ini.


Sabrina menggigit jari telunjuknya, ini sebuah keberuntungan atau musibah. Tidak, ini pasti cuma mimpi.


"Ini bukan mimpi anak manis, kamu cantik banget sih. Coba kalau kepangnya dibuka." Pria kemayu itu mulai menyisir rambut Sabrina.


Gadis itu nampak diam membisu, pernikahan adalah suatu hal indah yang menjadi impian setiap wanita. Seharusnya Sabrina pun bahagia, justru sebaliknya. Ia malah merasa bersedih dengan pernikahannya.


Ia hanya ingin menikah dengan pria yang dicintai dan mencintainya, agar bisa merasakan indahnya bahtera rumah tangga.


"Selesai, sempurna sekali. Semakin cantik," puji perias tersebut.


Sabrina menatap pantulan dirinya dicermin, memang tampak berbeda dengan gaun putih tanpa lengan bertabur mutiara. Rambut lurus yang sedikit ikal dibagian bawah, sangat jauh dengan penampilannya setiap hari yang hanya dikepang dua.


Benarkah ia akan menikah? Rasanya tak mungkin, Sabrina menghela napas panjang, gugup yang kini ia rasakan. Sebisa mungkin ia harus mengubur kegugupannya itu.


"Kamu cantik sekali," puji Tiwi kepada Sabrina. Duduk ditepi dipan memandangi gadis yang masih duduk terpaku didepan cermin.


"Mi, apa yang Mami lakukan?"


"Putra Mami dah bangun, ini kejutan untukmu? Lihat Sabrina, cantik 'kan?" ucap Tiwi kepada Alex yang kini duduk disampingnya.


"Ini nggak adil buat aku, Mi. Bukannya pernikahan ini akan dilaksanakan dua hari lagi, kenapa malah sekarang," protes Alex. Ingin sekali ia marah besar depan maminya, apalagi dengan susah payah Alex berniat menemui sang kekasih dan kini tinggal angan.


"Kamu mau membantah perintah Mami demi wanita murahan itu? Sampai kapan pun Mami nggak akan setuju kamu menjalin hubungan dengan wanita itu. Dia bukan wanita baik untukmu, wanita itu hanya memanfaatkannya saja."


"Jangan pernah menjelekkan Karlina didepanku, Mi. Selama ini aku selalu mengalah, menuruti perintah Mami. Namun, Mami sama sekali tidak pernah menghargai perasaanku yang sangat mencintai Karlina."


"Mencintai sebagai teman tidurmu, itu yang kamu sebut cinta. Wanita yang sudah mau disentuh sebelum menikah. Itu bukan cinta, akan tetapi napsu belaka. Sekarang lebih baik kamu ganti pakaianmu, penghulu sudah datang. Papi dan yang lain sudah menunggu dibawah."


Alex berteriak kesal, pergi keluar dari kamar Sabrina dengan emosi menggebu didada. Seharusnya dulu ia melawan saja akan perintah maminya. Masalah harta belakangan, yang penting ia bisa bersama dengan sang gadis pujaan. Lagian walau pun ia lari dari tanggung jawab, si cupu paling juga bunuh diri.


'Sial! Gara-gara gadis cupu itu hidupku jadi susah. Awas saja kau cupu, jangan harap kamu bisa hidup enak bersamaku. Aku akan menyusahkan dirimu, gadis cupu,' gumam Alex memukul meja rias didepannya.


Pernikahan Alex berjalan lancar, kini mereka sudah sah menjadi suami istri. Namun, tak nampak kebahagiaan dari wajah keduanya, walau pun begitu Tiwi dan Tanto merasa senang. Putranya bisa bertanggung jawab dari kesalahan yang sudah diperbuatnya, semoga dengan pernikahan ini juga Alex bisa berubah lebih baik lagi dan melupakan Karlina.


Dengan wajah tanpa ekspresi itu Alex memasangkan cincin di jari manis Sabrina, begitu juga dengan Sabrina memakaikan cincin di jari manis Alex.


"Jangan berharap aku akan bersikap baik padamu," bisik Alex.


Pernikahan sederhana yang dihadiri oleh keluarga terdekat saja. Tak ada yang spesial, gaun mewah yang Sabrina pakai tak ada artinya sama sekali.


Eis memeluk Sabrina, memberikan doa terbaik untuk keponakannya itu. Begitu juga Tanto dan Tiwi, berharap besar pada pernikahan ini. Alex sudah terlalu jauh dari jangkauan Tiwi dan Tanto, semenjak menjalin hubungan dengan Karlina. Alex sangat berubah, poya-poya, mabuk-mabukan sampai bermain wanita di klub malam.


Tiwi dan Tanto mengakui kurang membagi waktu dan memberi perhatian kepada Alex karena keduanya sibuk kerja mengurus perusahaan dan bisnis kuliner.


Semenjak Sabrina datang ke rumah Tiwi untuk bekerja. Gadis itu sudah mencuri perhatiannya, sikap polos dan jujur Sabrina membuat Tiwi menyayanginya.


"Jadilah suami yang baik untuk Sabrina," pesan Tanto.


"Heum ...." gumam Alex acuh.