
"Papi," ucap Sabrina tersenyum canggung.
Tak lama Mami Tiwi pun muncul berdiri samping suaminya itu. Sabrina menyuruh keduanya masuk dan mempersilahkan duduk.
Mami Tiwi menegur Sabrina, gadis itu bergeming bagai patung. Membuat mertuanya heran, apa yang terjadi pada menantunya itu.
"Kenapa kamu hanya berdiri saja, kemarilah." Mami Tiwi menepuk sofa agar Sabrina duduk disampingnya. "Kamu sakit." Mami Tiwi menyentuh dahi Sabrina. "Tegang gitu mukanya," lanjut Mami Tiwi lagi.
Papi Tanto berasumsi kalau Sabrina marah. Karena tak dijemput sewaktu terjadinya insiden yang menimpa Alex.
"Aku sama sekali tidak marah, Pi," jawab Sabrina. Gadis itu duduk di sofa sebelah mami mertuanya.
Saking tegangnya. Sabrina tak lepas meremas jemarinya sendiri, mertuanya sampai saling pandang. Apa yang membuat menantunya itu merasa resah? Karena tak biasanya Sabrina bersikap seperti itu, terlihat sangat khawatir.
Mami Tiwi kembali bertanya, permasalahan apa yang sedang Sabrina hadapi sampai terlihat gusar seperti itu? Sabrina yang sejak tadi menunduk mengangkat kepalanya, netralnya pun sampai berkaca-kaca. Setelah itu, ia meminta maaf. Membuat mertuanya terheran-heran dengan tingkah gadis itu.
"Aku sudah menghilangkan kalung pemberian Mami," ucap Sabrina terisak.
Mertuanya malah tergelak. Terjawab sudah apa yang menjadi keresahan Sabrina.
"Yang ini, bukan." Mami Tiwi membuka kepalan tangannya, memperlihatkan sebuah logam mulia yang berkilau.
Sabrina membelalakan mata, barang yang dicarinya ternyata ada ditangan mami mertuanya sendiri. Bagaimana bisa?
Mami Tiwi memberi tahu Sabrina. Jono lah yang sudah menemukan kalung di halaman rumah dan dia memberitahukan kepada Mami Tiwi atas temuannya dengan mengirimkan foto.
Huh, Sabrina bernafas lega. Ternyata kalungnya bisa ditemukan kembali. Sabrina berterima kasih kepada sang bodyguard yang sudah menemukan barang berharganya tersebut.
**
"Permisi, saya mau mengantar jamu," suara itu yang kini mengisi hari-hari Sabrina, berteman dengan kang jamu ternyata menyenangkan.
Sudah satu minggu ini kang jamu selalu datang kerumah. Karena Bi Eis yang selalu pesan jamu pegal linu yang katanya bikin badan jadi seger.
"Eh, Kak. Bibinya lagi ke pasar dulu, silahkan masuk." Sabrina menyapa dengan ramah dan mempersilahkan duduk.
"Mau minum kopi atau teh, Kak?" tanya Sabrina, bergegas ke dapur untuk membuat kopi yang diinginkan tamunya itu.
"Silahkan diminum, Kak," ucap Sabrina setelah kopi tersebut disimpannya di meja.
"Terimakasih, maaf merepotkan," ucap kang jamu yang namanya belum diketahui.
"Oh, ya, nama kakak siapa? Kita sering bertemu tapi aku selalu lupa menanyakan nama."
"Tentu saja, biar lebih enak saja manggilnya."
"Namaku Xander," jawabnya menyodorkan tangan dan kembali berkenalan.
Sabrina tertegun sebelum menjabat tangan Xander.
"Kenapa?" tanya Xander memecah keheningan.
"Ah, tidak. Namaku Sabrina," jawabnya ragu. Kenapa nama Xander seolah mengingatkan Sabrina pada Alex. Akan tetapi mereka orang yang berbeda, ciri-ciri mereka tak sama. Pria ini lebih sopan dan sedikit pendiam. Kalau Alex, sangat beringas. Apalagi dalam urusan ... ah, tidak. Jangan mengingat kesana, rasanya geli.
"Apa namaku mengingatkanmu pada seseorang?" tanya Xander lagi, pria itu tersenyum ramah dengan bulu lebat di rahangnya. Terlihat lucu, ditambah tompel yang tebal.
"Tidak, aku hanya mengingat seseorang saja," jawab Sabrina, gadis itu menghela napas panjang. Agar rasa yang bergejolak di dada menghilang.
"Pacarmu?" Xander menatap lekat wajah Sabrina.
"Bukan." Sabrina memalingkan muka, tak nyaman dengan tatapan pria tersebut.
"Oh, kirain sudah punya pacar. Mamimu sudah pulang lagi? Beberapa hari ini aku tak melihatnya."
"Mami sudah pulang, banyak pekerjaan yang harus diselesaikan," jawab Sabrina. Ya, gadis itu mengatakan Mami Tiwi ibu kandungnya, pesan dari Mami Tiwi kalau Sabrina harus menyembunyikan identitasnya sebelum Alex ditemukan dan lagi Mami Tiwi pun sudah bertemu dengan Xandar. Pria itu yang memberikan obat kepada Mami Tiwi, karena selalu merasakan sakit kepala.
"Apakah mamimu itu sering merasa pusing? Aku lihat mukanya sangat pucat atau punya penyakit lain."
"Tidak. Mami bilang hanya sakit kepala biasa, mungkin karena sering bergadang terlalu banyaknya pekerjaan yang harus ditanganinya."
"Kalau begitu aku permisi pulang dulu," pamit Xander kepada Sabrina.
"Iya, Kak Xander. Makasih," ucap Sabrina samping pintu.
Xander membalikkan badan. "Untuk apa berterimakasih."
"Heum, berterimakasih saja," jawab Sabrina malu-malu.
"Sama-sama." Xander tersenyum, tangannya mengulur mengelus rambut Sabrina.
**
"Apa kalian yakin itu adalah si cupu, kalau memang benar. Singkirkan gadis itu untuk selamanya." Suara tawa itu menggema di sebuah ruangan bercat putih. Tak sabar dengan setiap rencana yang akan berhasil diraihnya.