Hasrat Sang Majikan

Hasrat Sang Majikan
BAB. 62


Malam harinya. Tepatnya jam delapan malam, Sabrina dan mertuanya baru sampai disuatu tempat yang begitu asing.


"Mami, ini dimana?" Sabrina bertanya, matanya menelaah setiap sudut rumah yang baru didatangi.


"Ini adalah tempat Mami dan Papi mencari ketenangan, hanya kami berdua yang tahu tempat ini. Alex sama sekali tidak mengetahuinya, disini kamu bisa belajar ilmu kesehatan dengan tenang."


"Sekarang aku tak ada minat lagi menjadi dokter, Mami. Ternyata aku lebih menyukai menjadi desainer saja, membuat rancangan gaun yang indah. Termasuk gaun pengantin yang akan dipakai oleh pasangan-pasangan yang saling mencintai dan menghargai."


"Kamu yakin dengan keputusanmu itu?"


"Sangat yakin," jawab Sabrina bersungguh-sungguh.


Akhirnya Mami Tiwi dan Papi Tanto mendatangkan seorang guru desainer terbaik untuk mengajari Sabrina, agar gadis itu bisa menjadi wanita karir yang sukses dibidangnya.


"Apakah Mami dan Papi akan tinggal bersamaku juga?"


Mami Tiwi tersenyum, "tentu saja tidak, kamu dan Bi Eis yang akan tinggal di sini. Lingkungan baru ini pasti akan membuatmu betah, masyarakat di sekitaran sini juga sangat ramah ramah," jelas Mami Tiwi.


"Iya, Benar. Apalagi dekat dengan kampus, kamu bisa belajar dengan tenang tanpa gangguan Alex," tambah Papi Tanto.


"Kamu juga jangan khawatir, beberapa bodyguard akan melindungimu dan Bi Eis disini."


Mami Tiwi memeluk Sabrina sebagai pertanda perpisahan. Dia harus kembali ke Jakarta agar Alex tak curiga dengan perginya Sabrina, drama menitikan air mata pun terjadi. Sabrina merasa sedih harus jauh dengan mami mertuanya itu.


"Ini ponsel dan nomor baru untukmu, ponsel lama Mami ambil. Kalau ada keperluan yang lain, hubungi Mami."


Sabrina melepas pelukannya. "Iya, Mi. Makasih."


"Sama-sama, jaga Sabrina dengan baik ya, Bi."


"Iya, Bu. Terimakasih atas kebaikannya selama ini sudah menyayangi keponakan saya."


"Sudah menjadi tugas kami menyayangi Sabrina," balas Mami Tiwi dan Papi Tanto.


***


Pagi-pagi sekali Alex sudah sampai di rumahnya. Namun, aneh. Suasana sepi tak seperti biasanya, dia mencari sosok wanita yang membuatnya marah. Banyak pertanyaan yang akan Alex ajukan, termasuk Andra yang ikut ke puncak.


Alex mulai gusar, ada kepanikan dari raut wajahnya usai mendapati lemari baju Sabrina yang kosong.


Kemana si cupu pergi? Padahal sudah tak sabar ingin memadu kasih.


Alex mencoba menghubungi nomor Sabrina. Namun, tidak aktif. Berkali-kali mencoba hasilnya tetap sama.


Sial!


Alex mulai mengumpat, tergesa kerumah maminya.


***


"Mami!" Alex berteriak, memanggil dengan nada tinggi bagai orang tak waras.


Papi Tanto yang mendengar teriakan Alex. Menjewer telinganya, tak sopan berteriak seperti orang gila di rumah orang tua.


Alex mengusap telinganya yang terasa panas. Namun, dia tak peduli dengan amarah papinya. Tujuannya hanya ingin membawa Sabrina pulang kerumah. Alex menuju kelantai atas, masuk ke kamar maminya.


Alex duduk di sofa samping meja rias. "Mi, si cupu mana?"


"Mami usir," jawabnya acuh sembari membenarkan kerah baju, siap berangkat ke kantor.


"Apa? Ah, jangan bercanda, Mi. Mana tega Mami mengusir Sabrina."


"Kenapa tidak, bukannya itu yang kamu harapkan dan Mami mengabulkan."


Alex tak percaya dan menuduh Mami Tiwi menyembunyikan Sabrina dan kembali berteriak-teriak memanggil nama Sabrina, mencari keberadaan gadis itu di setiap ruangan rumah Mami Tiwi. Bertanya pada asisten rumah tangga, namun mereka pun menjawab hal yang sama kalau Sabrina dan Bi Eis sudah diusir oleh Mami Tiwi.


"Mami keterlaluan, mengusir istri orang seenaknya!"


"Kamu yang lebih keterlaluan, mengajak si ulat bulu ke Bali. Sudah puas bersenang-senang dengan si Karlina, hah! Dan kamu tak perlu lagi mencari Sabrina, biarkan dia mencari kebahagiaannya diluar sana. Menemukan pasangan baru yang lebih mencintainya!" tegas Mami Tiwi dengan sorot mata tajam.


"Pasangan baru! Dia tak bisa pergi kemana pun sebelum aku merasa bosan. Dan aku akan menemukannya, Mami ingat itu!"


Alex keluar dari rumah Mami Tiwi dengan amarah yang membara di dada. Tak menyangka maminya bisa setega itu mengusir Sabrina dan tampa izin terlebih dulu kepadanya.