
"Sayang, kenapa kamu teriak sama si cupu, apa dia menjengkelkanmu?" tanya Alex usai dipasangkan dasi oleh Karlina.
"Istri cupumu itu pemalas, aku kesal." Karlina melipat tangan di dada. Kesal karena bukan dia yang menikah dengan Alex.
Alex merangkul pinggang kekasihnya. "Aku akan memberi hadiah kejutan untukmu."
"Benarkah, apa itu?"
"Kamu lihat saja nanti di apartemenmu, aku yakin kamu pasti suka."
Aku lebih suka menjadi nyonya Alexander Wijaya. Sepertinya si cupu harus disingkirkan.
"Jangan melamun, nanti cantiknya hilang."
"Sayang, aku nggak mau pulang dulu. Aku ingin melihat kegiatan si cupu saat berada di rumah, jangan sampai ia jadi pencuri."
"Baiklah, Sayang. Tapi jangan sampai ketahuan Mami. Aku nggak mau kamu kena marah."
Sabrina membuat kebisingan dengan memukul panci. Merusak kemesraan Alex dan Karlina, kedua wanita dan pria yang belum menikah satu kamar, jangan sampai mereka melakukan adegan tak senonoh.
"Berisik banget, sih," tegur Karlina. Tangannya diangkat keudara, ingin melayangkan sebuah tamparan.
Sigap Alex menahan tangan Karlina. "Jangan mengasarinya."
"Oh, kamu mulai peduli pada si cupu dan perlahan mencintainya. Bagus, kamu diam-diam menikah dengan gadis berambut kepang ini tanpa memberi tahuku. Menuruti setiap perkataan Mami tercintamu, dan hubungan kita digantung tak pasti seperti ini. Sepertinya kita bisa menikah jika Mami mu itu mati!"
Plak.
Sebuah tamparan membuat Karlina merasakan perih di pipi. Alex menamparnya, membuat wanita itu bergegas pergi meninggalkan rumah Alex dengan emosi yang membara.
"Sayang!" Alex mengejar mobil Karlina. Merasa bersalah sudah berbuat kasar pada kekasihnya.
Sedangkan Sabrina masih tertegun, kejadian tadi membuatnya sangat panik. Tak menyangka Alex akan memberi tamparan pada kekasihnya. Sabrina menuju ke dapur, meraih gelas di meja yang berisi air putih. Meminumnya sampai tandas.
Terdengar suara deru mobil berhenti di halaman, Sabrina berpikir kalau itu adalah Alex. Namun, ternyata itu adalah Mami Tiwi dan Bi Eis. Mengunjunginya pagi-pagi sekali, untungnya saja Alex dan kekasihnya sudah pergi, enggak kebayang kalau Mami Tiwi melihat keberadaan Karlina pasti akan terjadi perang kembali.
"Gimana kabarmu, Sayang?"
"Baik, Mi," jawab Sabrina menyalami tangan Tiwi.
Sabrina memeluk Bi Eis, sangat merindukannya. Bibinya itu membawakan makanan kesukaan Sabrina. Betapa antusiasnya gadis itu segera melahap masakan yang dibuat bibinya, mereka makan bersama di meja makan.
Sedangkan Tiwi merasa heran kenapa rumah seakan sepi tidak ada orang lain, biasanya ada beberapa tukang kebun dan asisten rumah tangga. Namun, sekarang mereka tak terlihat sama sekali. Selesai makan Tiwi menuju kamar Alex, ia memeriksa dan menemukan hal yang membuatnya kecewa dan sangat marah. Semalam pasti Alex sudah membawa kekasihnya lagi, sangat tak berperasaan sebagai seorang pria. Apalagi sudah memiliki istri, kenapa harus membawa wanita lain lagi.
Ada jeda sejenak sebelum Sabrina menjawab, ia ragu-ragu dan mengatakan kalau asisten rumah tangga sedang cuti. Kalau dipikir-pikir, kenapa juga harus membela Alex. Rasanya kasihan kalau melihat pria menyebalkan itu dimarahi terus-terusan oleh Maminya.
"Benarkah." Tiwi sampai mengerutkan kening seolah tak percaya dengan apa yang sudah dijelaskan oleh Sabrina kepadanya.
Mengurus rumah besar seperti ini, sendiri. Itu akan sangat meletihkan. Tiwi enggak mau kalau Sabrina sampai kecapean atau sakit, sepertinya Tiwi harus memberikan sebuah hukuman yang akan membuat Alex sadar kalau hidup itu bukan untuk bersenang-senang saja, tapi harus bisa saling menghargai antar sesama. Apalagi sama pasangan sendiri, walaupun belum ada cinta di antara mereka tapi tak seharusnya juga Alex bertingkah semena-mena.
"Iya, Mi. Tuan Alex tak pernah bersikap kasar."
Dia juga melindungiku saat Karlina ingin menamparku. Ingin rasanya Sabrina berucap demikian, tapi rasanya tak mungkin. Mami pasti akan semakin banyak bertanya dan meminta penjelasan.
"Sekarang bersiaplah, kita akan pergi keluar," ajak Tiwi.
Sabrina bergegas ke kamar, mandi dan mengganti bajunya. Tak menunggu terlalu lama, Sabrina sudah siap dengan baju sederhananya memakai celana jins dan kaos lengan panjang warna hitam.
Butik ternama yang didatangi Tiwi, dia memilihkan baju-baju bagus yang akan membuat penampilan Sabrina semakin cantik. Tiwi menyuruh Sabrina mencoba baju pilihannya, sempurna. Cantik dan anggun.
Wah, harganya sangat mahal. Aku nggak punya uang untuk membeli baju-baju bagus seperti ini. Sabrina mengoceh dalam hati, apa gaya hidup orang kaya itu seperti ini. Menghabiskan uang untuk belanja barang yang disenangi.
Selesai membeli beberapa baju. Tiwi mengajak Sabrina kesalon melakukan perawatan kulit. Kulit Sabrina memang putih dan halus, Tiwi ingin gadis ini bisa lebih cantik lagi. Agar bisa menarik perhatian putranya dan melupakan pacar matrenya. Bukan tanpa alasan Tiwi tak menyukai Karlina. Namun, karakter wanita itu mendekati Alex karena ada maksud tertentu.
Eis ikut senang melihat perhatian Tiwi kepada Sabrina. Semoga saja Tuan Alex pun akan bersikap baik juga kepada Sabrina.
***
Sore harinya. Sabrina baru selesai memasak, sebelum Alex datang semuanya harus siap agar pria itu tak mengomel lagi. Bosan telinga Sabrina mendengar omelannya dan lagi kalau dingin masih bisa dihangatkan kembali. Namun, jika pria itu kembali menjahilinya, pasti Sabrina akan disuruhnya untuk masak yang baru lagi.
Sabrina bergegas ke kamar, ia duduk di sofa sejenak. Menyandarkan kepalanya kesandaran sofa, mengingat kebersamaan tadi siang saat jalan-jalan bersama Tiwi dan Eis. Melihat anak sekolahan bersama teman-temannya di mall, mereka sangat bahagia dengan kebebasan mereka.
Sabrina menghela napas berat, seharusnya ia juga bisa brsenang-senang di masa mudanya. Menghabiskan waktu bersama teman-temannya pergi bermain sesuka hati dan belajar. Namun, nyatanya kini ia sudah menjadi seorang istri, mempunyai suami yang sama sekali tak menghargai kehadirannya.
Sabrina memejamkan mata sejenak membayangkan. Bagaimana rasanya rumah tangga yang rukun dan dicintai pasangan? Apakah sangat menyenangkan. Entahlah, sepertinya hal itu tak akan pernah terjadi kepadanya, melihat Alex begitu mencintai kekasihnya itu.
Karlina memang sangat sempurna, dia sangat cantik, menarik, bodynya juga sangat seksi dan lagi seorang model terkenal. Sabrina jadi mengkhawatirkan hubungan Alex dan Karlina karena kejadian tadi pagi, pasti mereka bertengkar. Ada rasa bersalah di hati Sabrina, kenapa juga harus mengganggu kebersamaan Alex bersama kekasihnya? Toh, dia hanya istri diatas Kertas saja, bukan.
Masa pernikahannya juga cuma enam bulan. Sabrina berharap waktu akan cepat berlalu agar waktu kebebasannya itu cepat tiba. Sabrina tak sabar ingin menghirup udara kebebasan, ia berencana ingin melanjutkan pendidikannya, ingin kuliah dan menjadi seorang bidan yang dicita-citakan kan oleh almarhum kedua orang tuanya.
Sabrina bergegas menuju kamar mandi, berendam di bak mandi dengan memakai aromaterapi itu bisa menyejukkan pikirannya. Sabrina teringat akan kartu nama yang didapatnya dari Andra, kalau minta izin kepada Alex untuk bekerja. Apakah akan diijinkan? Sabrina ingin kuliah, agar bisa secepatnya menjadi seorang bidan. Namun, rasanya tak mungkin, Alex pasti nggak akan mengijinkan.
Waktu berputar begitu cepat, ini sudah jam tujuh malam. Namun, Alex belum juga datang. Pria itu pasti pulang ke apartemen kekasihnya untuk membujuk sang kekasih agar tidak marah atas kejadian tadi pagi. Syukurlah, kalau pria itu tidak pulang mungkin malam ini ia bisa tidur nyenyak tanpa ada gangguan.