
"Tenang, Bro. Nggak usah marah gitu dong, tapi aku nggak peduli dengan marahmu itu. Terlanjur kagum pada Sabrina, kalau bisa aku ingin memilikinya."
"Terserah! Yang pasti gadis cupu itu nggak akan mau pergi denganmu," balas Alex penuh penekanan.
"Oke, kita lihat saja nanti." Andra keluar dari ruangan Alex dengan penuh keyakinan kalau Sabrina mau pergi dengannya.
Gila! Andra tak pernah bersikap keras seperti itu sebelumnya, apalagi masalah wanita. Sabrina hanya gadis biasa dan bukan tipenya. Tapi sorot mata Andra menunjukan rasa ingin memiliki teramat dalam.
"Kita lihat saja, Sabrina itu terlalu takut kepadaku. Gadis itu tak akan berani datang kepesta," gumam Alex tersenyum kecut penuh percaya diri.
Waktu menunjukan jam empat sore. Sabrina masih setia duduk di bangku taman, walau cacing di perutnya sudah bergoyang minta jatah. Namun bagaimana lagi, untuk membeli makanan pun tak sepeser uang yang ia bawa. Mau pulang ke rumah malas dengan pertengkaran yang selalu terjadi dengannya dan Karlina, apalagi ia harus berhadapan dengan Alex yang nantinya akan berakhir di tempat tidur. Sabrina merasa lelah.
Sabrina mengelus perutnya yang terasa perih. Ia benar-benar lapar tadi pagi saja tak sempat sarapan gara-gara wanita sialan itu. Ingin sekali Sabrina mengunyah makanan walau hanya secuil saja, masa iya harus minta-minta bagai pengemis. Itu sangat memalukan sedangkan tangan diatas lebih baik daripada tangan dibawah.
Oh, Tuhan. Beginikah nasib orang susah, takdir hidup yang dipermainkan oleh orang kaya. Sempat terpikir ingin menghubungi Mami Tiwi. Namun, Sabrina tak mau menyusahkannya, ujung-ujungnya Alex yang akan kena marah dan pertengkaran antara ibu dan anak itu akan terjadi lagi. Sabrina tak mau hal itu sampai terjadi, ini masalah rumah tangganya sebisa mungkin. Ia yang harus bisa menyelesaikannya.
"Boleh aku duduk disini?"
Suara bariton seorang pria mengagetkan Sabrina dari lamunannya. Ia pun melirik ke arah suara tersebut, setelah itu tersenyum canggung.
"Silahkan." Sabrina menggeser duduknya.
"Kenapa sore-sore gini kamu masih di sini?" Andra memberanikan diri bertanya, ternyata sejak pulang dari kantor. Ia tak lepas memperhatikan Sabrina yang sedang duduk termenung di sebuah bangku taman, karena terlalu penasaran akhirnya ia pun turun dari mobil.
"A-aku ...." Sabrina merasa canggung untuk menjawab. Namun, tak disangka suara perutnya mengiringi keheningan diantara mereka.
"Kamu lapar Sabrina, apa kamu belum makan?" tanya Andra sembari tersenyum.
Sebelum Sabrina menjawab perutnya kembali bersuara. Andra seketika tertawa. Namun, tawa itu terasa mengejek bagi Sabrina dan setelah itu Andra mengulurkan tangan mengajak Sabrina makan, kebetulan Andra pun merasa lapar. Sabrina sempat menolak. Namun, suara bujukan lembut dari Andra mematahkan ego Sabrina.
Hal yang tak terduga terjadi lagi. Sabrina tak menyangka kalau Andra akan bersikap manis kepadanya dengan membukakan pintu mobil, rasanya sangat canggung sekali mendapat perlakuan seperti itu.
"Jangan kebanyakan bengong, nanti cacing di perutmu keburu pingsan karena kelaparan," celoteh Andra menarik sudut bibirnya.
Sabrina dengan ekspresi canggungnya itu masuk ke dalam mobil sedan mewah warna hitam itu dan duduk di kursi depan. Setelah itu Andra menyusul masuk. Pipi Sabrina kembali memerah bagai kepiting rebus saat Andra meminta izin memakaikan sabuk pengaman.
"Degup ... degup ... degup." Seperi itulah suara jantung Sabrina saat ini, jantungnya seakan mau loncat ke luar dari sarangnya.
Mobil sedan pun melaju dengan kecepatan sedang. Andra tak lupa bertanya. Sabrina ingin makan di restoran mana? Namun, jawaban Sabrina meminta agar Andra saja yang memutuskannya, karena Sabrina tidak tahu tempat-tempat makan di kota besar ini.
Mobil Andra berhenti di sebuah restoran Jepang. Restoran itu sangat mewah, Sabrina malah merasa risih untuk masuk ke sana. Apalagi dengan pakaiannya yang tak sesuai, hanya memakai celana jeans dan hoodie warna biru muda. Setelah keluar dari mobil Andra. Sabrina tak yakin bisa masuk ke restoran tersebut dalam keadaan berantakan seperti ini. Apalagi melihat para pengunjung yang datang terlihat dari kalangan orang-orang kaya dengan penampilan yang super mewah.
"Sepertinya aku tidak bisa makan disini?" Sabrina menunduk malu, tangannya meremas celana jeans yang dipakai.
"Apa yang kamu khawatirkan Sabrina, ini restoran milikku sendiri. Tenanglah, ayo masuk. Aku sudah sangat lapar, aku juga nggak mau kamu sampai pingsan karena kelaparan di restoranku dan hal itu akan membuat heboh nantinya."
Sambutan hangat Sabrina rasakan saat Andra sudah masuk ke dalam restoran, para pegawai menyambut kedatangan Andra dengan senyuman hangat dan juga kepada Sabrina mendapat perlakuan yang sama, memang ya kalau kita berdekatan dengan orang yang terhormat pastinya akan dihormati juga.
"Siapkan makanan terbaik yang ada di restoran ini," titah Andra pada pramusaji.
"Baik, Tuan," jawab ramah pramusaji tersebut.
Lima menit kemudian makanan super mewah dan lezat sudah tertata di meja membuat mata Sabrina terbelalak ingin segera menyantap makanan tersebut. Sepertinya cacing di perutnya itu tak bisa lagi diajak kompromi, reflex tangan Sabrina mengambil lobster bakar saus keju pedas yang sangat ingin sekali ia cicipi.
"Makan yang banyak, agar tubuhmu sehat," celetuk Andra.
Sabrina sampai melirik badannya sendiri. Karena ia merasa terlalu kurus, setelah itu mendongakkan kepala melihat wajah Andra sambil tersenyum canggung.
"Aku tak bermaksud mengejek, bentuk tubuhmu sudah pas dan aku suka."
Sabrina yang mendengar penuturan Andra, sampai tersedak makanan yang sedang dikunyahnya. Baru pertama kalinya ada seorang pria yang memuji, jantung Sabrina kembali berdebar seolah baru selesai berlari maraton.
"Kalau makan hati-hati jangan terburu-buru, santai saja, lagian tidak ada yang sedang menunggumu, bukan?"
Menunggu, memang tidak ada. Akan tetapi pekerjaan rumahlah yang menunggunya. Karlina mana mau beres-beres. Kekasih Alex itu terlalu cinta pada kulit halusnya.
"Itu ... pekerjaanku," jawab Sabrina ragu-ragu.
"Kamu itu masih muda, jangan terlalu keras-keras bekerja. Kamu pun harus menikmati hidup ini dengan bersantai. Apakah Alex sering memarahimu? Jika memang seperti itu, aku akan memintamu untuk tinggal bersamaku saja."
"T-tidak, Tuan. Aku merasa nyaman bekerja di rumah Tuan Alex."
"Baiklah, aku tidak akan memaksa untuk kamu ikut bersamaku. Tapi kalau Alex berbuat macam-macam, laporkan saja kepadaku. Aku pasti akan membantumu. Oh, ya, Sabrina, besok malam aku akan mengadakan pesta dan aku meminta kepadamu tanpa ada penolakan sedikitpun untuk ikut bersamaku."
"Pesta, Tuan. Tapi aku ...."
"Kamu nggak usah khawatir, aku akan mengatur segala kebutuhanmu. Yang aku ingin dengar sekarang adalah kesediaanmu ikut ke pesta dan ingat tak ada penolakan lagi. Masalah Alex kamu nggak usah takut, aku akan menjamin semuanya," ucap Andra penuh penekanan, itu tandanya Sabrina tak bisa menolak lagi.
"Iya, Tuan."
Andra tersenyum bahagia. Sabrina mau pergi dengannya.
🌹🌹Terimakasih atas dukungannya, semoga masih setia membaca novel ini walaupun jarang up. Bukannya tak mau double up, namun bagaimana lagi. Terdapat kendala yang mungkin belum bisa double up, sesudah ada level. Ada kesulitan yang author rasa, mungkin dari segi pendapatan. Novel ini ada di level 3 dan itu sangat sedih buat author, kita nulis saja butuh modal juga.
Bukan maksud curhat ya, sekedar mohon pengertiannya. Penulis juga tak akan berhasil tanpa adanya pembaca. Namun penulis juga tak akan lancar kalau modalnya lagi tak ada, apalagi terkendala kuota. 🤧🤧🤧
Jangan lupa like dan komentarnya, juga dukungan votenya.🙏🙏🙏☺