
Merasa bosan menunggu Rey yang tak kunjung datang. Alex keluar dari ruangannya untuk mencari kesenangan, ia harus menemui Karlina. Alex memakai motor yang selalu di pakai Rey, agar cepat sampai ke apartemen sang kekasih.
"Sayang, kamu akhirnya datang. Aku sudah sangat merindukanmu." Karlina menyambut kedatangan Alex dengan pesona keseksiannya.
Karlina merangkul pinggang Alex, membawa prianya ke kamar. "Kanapa kamu diam saja, tidak mau menciumku?" Karlina menyodorkan pipi.
Alex menyapu pipi wanitanya sekilas. "Aku lapar," ucap Alex.
Karlina seketika membuka kancing kemeja kekasihnya dengan manja. Ia menyapukan bibir pada dada bidang kekasihnya.
"Bukan ini maksudku, buatkan aku makanan. Seperti nasi goreng, atau apalah." Alex berdiri dari duduknya, berjalan menuju jendela yang terbuka.
Karlina merangkul Alex dari belakang. "Bisakah kita melakukannya, aku sangat rindu akan setiap sentuhanmu dan ...." Karlina memberi sentuhan kebagian bawah dari perut Alex.
Gila, Karlina begitu terpesona pada setiap sentuhanku, tapi si cupu ... malah nangis dan ketakutan. Sekarang saja dia tak pulang-pulang.
Alex mengerang keras, sentuhan Karlina semakin beringas saja. Ia sampai kehilangan kendali dan membopong tubuh Karlina ke tempat tidur. Alex terburu-buru bahkan terasa kasar dalam setiap sapuan bibir yang diberikan. Namun, Karlina malah kegirangan dan terus meracau.
"Kenapa berhenti?" Karlina kecewa, Alex menghentikan kegiatannya di tengah jalan. "Kamu nggak pernah mempermainkanku seperti ini, Lex. Ada apa?"
Alex memegangi kepalanya, ucapan maminya terngiang di kepala. Dan yang paling membuat kepala Alex pusing adalah suara Sabrina yang sedang menangis dalam kungkungannya. Alex lebih menyukai hal itu, dari pada wanita yang terlalu agresif terhadapnya. Ada apa? Kelainan apa yang Alex miliki saat ini. Biasanya ia selalu tergoda dengan rayuan wanita dan berakhir di tempat tidur. Namun kali ini, ia bosan dan tak menginginkan hal itu lagi.
"Sial!" Alex mengumpat sambil berteriak.
Membuat Karlina kaget dan gugup, baru pertama kalinya Karlina melihat raut kecewa yang berkabut sepi dari mata Alex.
Karlina bergegas memakai bajunya kembali. Memberikan Alex segelas minuman yang biasa diminumnya.
Namun, tangan Alex menghempaskan gelas tersebut sampai jatuh kelantai. Karlina menelan salipanya kuat-kuat, tenggorokannya terasa kering. Bingung dengan kemarahan kekasihnya yang tiba-tiba.
"Apa ada masalah dengan pekerjaan, Lex?" Karlina memeluk tubuh Alex, menyandarkan kepala di dada bidang pria yang kini berdiri mematung samping jendela yang terbuka.
"Tidak," jawabnya datar.
"Lantas, kenapa kamu mengacuhkanku? Sudah satu minggu kita tak bertemu, kamu terlalu sibuk kerja. Enggak ada waktu untuk kita bersama memadu kasih."
Ponsel Alex berdering, membuat Karlina seketika kesal karena sangat mengganggu. Alex melepaskan pelukan kekasihnya, bergegas mengambil ponsel yang berada di saku jas.
"Kenapa Rey?"
"Tuan pergi kemana? Mobil ada, kuncinya nggak ada."
Alex terbahak. Ia lupa kalau kunci mobil telah dibawanya. "Tunggu sebentar, aku akan segera kesana. Motormu aku pakai sebentar." Alex mematikan ponselnya kembali, memakai kemeja beserta jasnya meninggalkan Karlina tanpa pamit sama sekali.
Karlina memanggil-manggil Alex, kekasihnya itu benar-benar berubah. Ingin mengutarakan kalau besok ia mengikuti fashion show yang diadakan oleh maminya di hotel Berliana Garden, salah satu hotel yang didirikan oleh papinya Alex.
Aku nggak bisa diacuhkan seperti ini, besok kamu pasti akan terpana oleh penampilanku. Bukan hanya kamu, mamimu juga. Kesempatan menunjukan kualitas seorang Karlina Silviani.
***
"Mi, aku gugup sekali. Aku risi memakai baju seperti ini, bagaimana kalau nanti malah mempermalukan." Sabrina mondar-mandir bagaikan gosokan pakaian.
Mami Tiwi memegang pundak Sabrina. "Tenang Sabrina, Mami yakin kamu bisa."
"Nanti kalau Tuan Alex datang bagaimana Mami?" Wajah Sabrina berubah cemas.
Sabrina benar-benar gugup ya tak sanggup menghadapi Alex yang pastinya akan mentertawakan. Tidak, ia tidak boleh gugup harus menunjukkan kualitasnya juga agar Sabrina tidak lagi di ledek oleh pria buas itu.
Terdengar keriuhan para wartawan, ternyata mereka sedang mengerumuni kedatangan model terkenal yang bernama Karlina Silviani. Wow, gayanya benar-benar sempurna, sangat cantik dengan balutan gaun satin warna hitam panjang yang dibelah sampai bagian paha. Gaya rambut panjang mengembang yang sedikit ikal.
Namanya juga model terkenal penampilannya pasti akan selalu sempurna dan menarik perhatian, apalagi postur tubuhnya begitu menggoda dan sempurna. Pantas saja Alex begitu terpesona, tak mau melepaskan wanita itu, pasti permainannya pun benar-benar memuaskan si pria pemangsa.
Acara fashion show sudah dimulai, suara tepuk tangan terdengar riuh di gedung mewah tersebut. Apalagi ketika seorang Karlina menaiki panggung, suara tepuk tangan dan pujian menghujaninya. Membuat nyali Sabrina semakin ciut. Namun, tiba-tiba saja terdengar suara jeritan dan ternyata Karlina terpeleset dari atas panggung ada yang menatap kasihan dan ada juga yang mentertawakan walau sedikit ditahan.
Karlina merasa malu dengan tatapan para tamu yang memperhatikannya, ia dibantu berdiri oleh asistennya untuk duduk di sofa. Kakinya terkilir sakit sekali rasanya, hak sepatunya sampai patah. Karlina benar-benar merasa heran, padahal sepatu itu adalah yang diberikan oleh Mami Tiwi kepadanya, pastinya sepatu mahal kan. Nggak mungkin sepatu murahan sampai membuatnya tergelincir seperti itu, kecuali kalau ada yang sengaja mengerjainya, sialan!
Tiba saatnya penampilan Sabrina. Gadis itu dengan percaya dirinya menaiki panggung fashion show, memberikan senyum termanis menyapa para tamu yang tengah duduk di kursi. Sanggul model chignon, ditambah balutan gaun satin merah marun tanpa lengan yang memperlihatkan leher jenjangnya. Gaun panjang selutut itu juga memperlihatkan kaki putih mulus Sabrina. Sepatu highhels glitar silver menghias kaki jenjangnya, membuat para tamu terpesona akan keanggunan gadis itu. Suara suitan dan tepuk tangan mengiringi, ada juga seorang pria yang memberikan satu buket bunga mawar merah kepada Sabrina atas pencapaiannya.
"Gadis muda cantik yang berbakat."
"Terimakasih."
Sedangkan di sebuah kursi paling ujung, ada dua pasang mata yang terus memperhatikan keindahan penampilan Sabrina. Dia adalah Andra Wilson, terpesona akan kecantikan Sabrina. Gadis itu benar-benar membuatnya terkejut penampilan sederhana yang selalu dipakainya, kini berubah menjadi seorang tuan putri yang sangat cantik.
Selesai acara, Andra menyapa Sabrina dan memberikan sebuket bunga mawar putih yang menurutnya sangat cocok untuk penampilan cantik Sabrina saat ini.
Sedangkan Karlina dikerumuni oleh para wartawan yang terus menanyainya karena kejadian memalukan yang sudah dilaluiny, jatuh di depan banyaknya penonton. Karlina sama sekali tak menjawab, dengan marahnya ia bergegas pergi bersama kedua asistennya dengan menaiki mobil.
Mami Tiwi yang melihat itu semua merasa senang melihat Karlina dipermalukan, dan bukan hanya rasa malu saja tapi rasa sakit juga. Itu balasan untuk wanita seperti itu karena sudah berani menyakiti Sabrina. Mami Tiwi juga tahu kalau mobil yang Kalina pakai itu adalah pemberian Alex, mobil keluaran terbaru yang sudah Alex rancang. Dasar bule bodoh, selalu saja memanjakan wanita menyebalkan itu.
Selesai berbincang dengan Andra dan Mami Tiwi. Sabrina berpamitan menuju kamar untuk mengganti pakaiannya, karena merasa tak nyaman mengenakan pakaian tersebut, untungnya saja Alex tak hadir. Hal itu yang membuat Sabrina merasa senang.
Sesampainya di kamar. Sabrina mengunci pintu, bergegas membuka gaun yang dipakai. Namun, ia dikejutkan dengan penampakan seorang pria dicermin, berdiri menatapnya dengan rakus seolah tak sabar ingin menerkam. Sabrina kembali memakai gaunnya tak jadi dilepas, bergegas meloncat ke tempat tidur dan menutupi tubuhnya dengan selimut.
"K-kenapa Tuan bisa ada disini?"
Alex tak menjawab pertanyaan Sabrina, ia semakin mendekat dan lebih dekat lagi sampai-sampai terasa sapuan hangat di bibir Sabrina, pria itu menatapnya lekat. Sangat dalam seolah menyalurkan keinginan yang terpendam.
Sabrina semakin gugup dan panik, itu yang membuat Alex suka. Ekspresi Sabrina tak pernah berubah saat bertemu dengannya, selalu saja ketakutan, padahal Alex sering menyentuhnya.
"Kenapa tidak pulang?" pertanyaan yang ringan. Namun, mempunyai arti mendalam.
"Aku lebih suka bersama Mami, lebih aman."
"Apa aku sangat menakutkan?"
"Iya, Tuan menakutkan." Sabrina sampai berkeringat dingin, karena Alex tak memberi celah padanya untuk bergerak.
"Apa kamu tak merindukan sentuhanku?" Alex membelai pipi Sabrina.
"Sama sekali tidak."
Alex mengerutkan kening, tak dapat dipercaya. Seorang Alex tak dirindukan.
"Apa kamu menyukai keindahan tubuhku, apalagi bagian terdalamnya?"
"Tidak, itu lebih menakutkan lagi. Aku tak mau merasainya kembali, rasanya juga nggak enak. Sakit."
Sial! Jujur sekali gadis cupu ini!