
"Gadis sialan!" Pria berambut panjang ikal itu menampar pipi Sabrina. Membuat wanita itu tersungkur ke aspal.
Sabrina memegangi sudut bibir yang terasa perih dan ternyata berdarah. Gadis itu berusaha bangkit, naas. Perut Sabrina ditendang sampai tubuh gadis itu terkulai kembali diaspal, sakit. Sabrina memegangi perutnya, ia tak boleh lemah. Harus segera menolong mami mertuanya yang berjuang untuk menyelamatkannya.
Dengan sisa tenaga yang masih ada. Sabrina mencoba bangkit lagi dan memberi perlawanan semampunya. Mami Tiwi meneriaki Sabrina, khawatir dengan keadaan gadis itu.
Sebuah benda tajam siap ditancapkan keperut Sabrina. Tak lama terdengar suara tembakan dan mengenai salah seorang penjahat tersebut, pertolongan datang tepat waktu. Kepungan dari pria berseragam hitam berhasil melumpuhkan lawan, walaupun sempat terjadi perlawanan di antara para bodyguard dan para penjahat itu akan tetapi berhasil dikalahkan.
Pelaku kejahatan mendapat hukuman setimpal dibawa ke kantor polisi. Sedangkan Sabrina terkulai tak berdaya, gadis itu hampir tak sadarkan diri. Papi Tanto dibantu oleh supir membopong tubuh Sabrina ke dalam mobil untuk dibawa kerumah sakit.
"Sabrina kamu pasti baik-baik saja," ucap Mami Tiwi sangat khawatir.
"Mami tenang saja, aku tidak apa-apa," suara lemas dan gemetar itu menjawab sembari tersenyum dan akhirnya tak sadarkan diri.
Sesampainya di rumah sakit. Dokter segera memeriksa keadaan Sabrina, gadis itu terlihat sangat mengkhawatirkan dengan luka lebam di pipi dan sudut bibir. Mami Tiwi minta dokter untuk memeriksa Sabrina lebih detail lagi, apalagi ia mendapat pukulan dibagian perut takutnya ada cedera di rahim atau bagian usus Sabrina.
Setelah Sabrina siuman dokter segera melakukan pengecekan di bagian rahim dan usus menggunakan endoskop yang digunakan untuk diagnosis atau penyembuhan. Namun, tak berdampak serius dan kabar itu membuat Mami Tiwi dan Papi Tanto merasa lega.
***
Mami Tiwi sengaja mengirim foto Sabrina yang terluka kepada Alex. ingin tahu bereaksi seperti apa yang akan putranya itu berikan. Benar saja, si bule arab jadi cemas dan ingin segera pulang ke Indonesia, tak peduli dengan pekerjaan yang belum selesai. Dan menyuruh Rey untuk mempersiapkan kepulangannya.
Rey hanya bengong saja, melihat Alex ketar-ketir tak karuan. Pria itu tak bisa diam bagai setrika, maju mundur cantik yang terus dilakukannya. Alex geram melihat Rey yang diam saja dan mengomel agar keinginannya cepat terlaksana.
"Tuan khawatir sama Non Sabrina?" Alex bertanya penuh selidik.
"Tidak, aku hanya ingin melihat keadaan Mami saja," jawab si bule acuh, kini ia duduk di sofa menyilangkan sebelah kaki sambil melihat-lihat majalah fashion.
Lagi-lagi tak mau ngaku dengan perasaannya sendiri. Terbuat dari apa hati Alex itu, sehingga ia belum juga bisa memahami isi hati sendiri. Rey jadi kesal, ingin sekali melempar pria itu dari jendela.
Rey mencebik. "Jujur saja gengsi," gumamnya bergegas pergi.
Namun, Alex masih bisa mendengar walau samar.
Alex bangkit dari duduknya, berjalan kearah jendela berdiri disana sambil menikmati indahnya kota Singapura dari lantai delapan yang kini ditempatinya. Merogoh ponsel dari saku celana dan kembali melihat wajah lebam Sabrina. Diusapnya layar ponsel tersebut seolah menyentuh lembut pipi sang gadis.
Tak bisa dipungkiri kalau nyatanya Alex benar-benar khawatir melihat Sabrina yang terkulai lemas. Apa lagi Sabrina terluka seperti itu karena menyelamatkan Mami tercintanya, sungguh besar cinta Sabrina kepada Mami Tiwi. Alex merasa kagum.