Hasrat Sang Majikan

Hasrat Sang Majikan
BAB. 67


Alex berteriak sekencang mungkin, tak peduli jika orang lain memperhatikan. Mencibirnya atas kemalangan yang kini terjadi padanya dan sebentar lagi stasiun televisi akan menggosipkannya. Seorang putra dari keluarga kaya telah diusir dan hidup terlunta di jalanan.


"Tidak! Sangat memalukan! Mami dan Papi benar-benar keterlaluan!" teriak Alex lagi membuat orang yang berlalu lalang dijalan raya melihat kearahnya.


Alex berjalan menyusuri trotoar. Bingung, kemana harus ia pergi membawa tubuh malangnya. Apalagi tak ada duit yang dimilikinya, hidup tanpa sepeser uang bagaikan memakan empedu. Sangat pahit sampai ke dalam hati.


Tubuh tegap itu merasa letih, berjalan tanpa henti sebab tak ada tujuan yang bisa disinggahi. Alex tiba di sebuah taman dan duduk di sana untuk mengurangi rasa letih dan rasa pusing di kepala akibat kemarahan yang ia bendung sendiri. Memikirkan betapa keterlaluannya Mami dan Papinya itu.


Bukan hanya gertakan lagi tapi sebuah kenyataan pahit yang harus Alex terima, diusir oleh kedua orang tuanya sendiri. Sungguh hal ini tak pernah disangkanya, ia akan benar-benar terlunta di jalanan tanpa ada orang lain yang menolong atau pun peduli kepadanya. Kemana lagi ia harus melangkahkan kaki?


Terpikir dalam benak, lebih baik meminta ampun kepada papinya agar semua fasilitas yang dimiliki dikembalikan lagi. Akan tetapi hal itu tak semudah membalikkan telapak tangan, tak mudah membujuk papi dan maminya. Terkecuali jika ia menemukan Sabrina terlebih dulu dan membawa gadis itu kehadapan mami dan papinya.


Alex mengambil gawai dari saku celana untungnya saja ponselnya tak ikut disita, jika sampai terjadi. Ia benar-benar menjadi gembel yang sesungguhnya. Dipandanginya foto Sabrina yang ia simpan di galeri. Ada seulas rindu ingin bertemu dan seulas rasa yang tak bisa diuraikan dengan kata-kata.


Sebuah pesan masuk membuyarkan lamunan Alex, pria itu memang banyak akalnya. Sampai meminta dikirim uang pada sang bodyguardnya.


Sabrina, tunggu aku. Sebentar lagi kamu akan dalam dekapanku dan jangan salahkan aku jika tak mengampunimu.


Mami dan Papinya bisa saja mencabut semua fasilitas kemewahannya, akan tetapi tak bisa mengambil kecerdikannya. Alex masih punya cara lain untuk menemukan Sabrina.


***


Pagi hari yang sangat indah. Sabrina duduk di sofa sembari menikmati secangkir susu coklat hangat, tangannya berkutat dengan pensil karena gadis itu sedang menggambar sebuah gaun pengantin di sebuah kertas warna putih yang diminta oleh Mami Tiwi.


Sabrina akhirnya bisa bernapas lega. Alex tak bisa menemukan keberadaannya dan kini ia sudah kembali ke rumah yang semula ditinggali. Gadis cantik berambut lurus itu tak menyangka, keinginan semula untuk menjadi seorang bidan tak bisa terlaksana. Namun ternyata ada bakat terpendam dalam dirinya, yaitu menjadi desainer pakaian. Sabrina sangat berbakat dalam hal itu.


Sebuah berita di televisi telah mencuri perhatiannya, memberitakan diusirnya seorang pengusaha muda oleh kedua orang tuanya yang bernama Alexander Wijaya. Kabar tersebut menjadi perbincangan hangat di beberapa stasiun televisi. Bagaimana bisa seorang anak dari keluarga kaya menjadi terlunta-lunta dan mereka kini mencari kebenaran tentang kabar tersebut dan ingin tahu permasalahan yang terjadi pada pengusaha muda itu dan dimana Alexander Wijaya kini tinggal?


Ada desiran rasa khawatir menghampiri Sabrina. Kenapa bisa sampai seperti itu? Mami dan Papi mertuanya sama sekali tak memberitahu pengusiran Alex dari rumah, sedangkan melihat kehidupan Alex terbiasa dalam kemewahan. Bagaimana bisa pria yang bergelar suaminya itu hidup di jalanan dan tak mempunyai apa-apa?


Apa Sabrina salah sudah meninggalkan Alex? Tidak, ini pilihan yang tepat. Pasti pria itu juga lebih senang dan leluasa bisa dengan bebas menemui Karlina. Apakah Karlina bisa menerima Alex dalam keadaannya yang sekarang?


Sabrina jadi tak tenang, kepikiran akan nasib Alex. Bagaimana pun pria itu masih suami sahnya.