Hasrat Sang Majikan

Hasrat Sang Majikan
BAB. 75


"Tuan Alexander Wijaya!" Mata keempat pria yang sudah babak belur itu membulat sempurna, tak percaya dengan sosok pria yang kini mereka lihat. Setelah rambut palsu, tompel, kacamata tebal dan jambangnya yang lebat itu dibuang. Terpampanglah sosok nyata, bos mereka sendiri di depan mata.


Alex menarik kasar rambut pria gondrong yang terus minta ampun. "Katakan sekali lagi, siapa yang sudah menyuruh kalian melenyapkan Sabrina?"


"Nona Karlina yang menyuruh, Tuan," jawab pria berkepala plontos dan sebuah tinjuan pun kembali mendarat di pipinya.


"Kurang ajar kalian, beraninya membawa nama kekasihku!" Alex murka dan kembali memberi pukulan.


"Itu benar, Tuan. Nona Karlina yang meminta kami untuk mencelakai sampai menodai gadis itu."


"Katanya perintah dari, Tuan."


"Kami tidak tahu kalau Nona Sabrina itu istri, Tuan."


"Kami tak berhianat. Tuan menghilang, kami berusaha mencari tak kunjung ketemu."


"Dan sekarang kalian lihat, kalau aku masih hidup dan baik-baik saja. Lantas, kenapa aku sampai diberitakan meninggal, hah!" Sorot mata penuh amarah itu seolah ingin menerkam habis setiap lawan yang kini berada di depan mata.


"I-itu juga ...."


"Juga apa!" Alex kembali memotong.


"Rencana Nona Karlina, Tuan."


"Sialan! Lagi-lagi kalian membawa nama kekasihku. Beri mereka hukuman yang setimpal!"


"Ampun, Tuan. Kami berkata yang sejujurnya, semua itu adalah rencana Nona Karlina," ucap keempat pria itu, diseret paksa keluar dari gudang sembari dipukuli.


Alex duduk di kursi kayu, menghela napas berat disertai kepulan asap nikotin mengepul keudara. Tak bisa dipercaya, jika benar Karlina dalang dari semua insiden ini. Apa tujuannya? Selama ini Alex sengaja menjauhi Karlina agar bisa mengetahui kesetiaan wanitanya itu.


Namun, bukti menunjukan. Sabrina lah yang lebih setia kepadanya dan selalu menganggapnya ada, apakah gadis itu benar-benar tulus mencintainya. Ataukah hanya keterpaksaan, permintaan sang mami saja.


**


"Bagaimana keadaanmu, Sabrina?" tanya Xander, pagi-pagi sekali pria itu sudah datang ke rumah Sabrina untuk melihat keadaannya.


"Aku baik-baik saja, Kakak sendiri? Apa lukanya sudah membaik?"


"Hanya luka kecil, kamu tak usah khawatir."


"Maaf, semalam aku lupa mengobati luka Kak Xander."


"Tak apa Sabrina, kamu tak perlu minta maaf. Bukannya kamu lebih terluka dan masih memikirkan orang lain."


"Sama-sama, sudah seharusnya aku melindungimu."


Sabrina merasa terharu, ada pria yang dengan rela ingin melindunginya. Sedangkan Alex sendiri lebih sering menyakitinya, tampang sederhana tapi prilakunya baik dan perhatian.


"Bagaimana jika pria yang bernama Alex itu muncul di depanmu, apa yang akan kamu lakukan?" tanya Xander membuat Sabrina gamang.


"Aku akan minta cerai."


"Cerai, dia suamimu? Dan kamu sudah menikah?" Xander terlihat sangat kaget.


"Iya, aku sudah menikah. Namun, kehadiranku tak pernah berarti untuknya." Mata Sabrina mulai berkaca-kaca.


"Apa kamu mencintai suamimu?"


"Entahlah, Kak. Aku tak mau rasa cinta ini bertepuk sebelah tangan," jawab Sabrina sendu.


Bi Eis yang sedari tadi berkutat di dapur, mengajak Sabrina dan Xander untuk sarapan bersama. Xander sempat menolak karena merasa tak enak. Namun, Sabrina dan Bi Eis memaksa. Akhirnya Xander menyetujui sarapan bersama dengan Sabrina dengan suka cita.


"Makasih, Bi. Masakannya enak," ucap Xander setelah selesai makan.


"Sama-sama Nak Xander. Lain kali kita makan bersama lagi, rasanya sangat menyenangkan."


"Dengan senang hati, aku tak akan menolak," jawab Xander. Sembari pamit pulang karena ingin berjualan jamu lagi.


Sepanjang perjalanan menuju ketempat jualan. Alexander berpikir keras, bagaimana cara memberi tahu Sabrina kalau ia sama sekali tak pernah menyuruh orang untuk melenyapkannya. Alex benar-benar gundah dengan tuduhan tersebut.


Apalagi jika teringat kata cerai yang dilontarkan Sabrina, ia merasa tak terima. Alex rindu, ingin sekali mendekap gadis itu dan memanjakannya dengan sentuhan mesra yang sering dilakukannya dulu.


Alex mengakui dirinya sudah tak tahan jika belum menyentuh Sabrina. Awal bertemu ketika jualan jamu saja rasanya Alex ingin segera menerkam gadis itu sampai menangis. Rindu akan tangisan Sabrina dan racauannya di tempat tidur.


Jika dipikir untuk apa juga menyamar jadi orang jelek dan lagi Sabrina malah terlihat nyaman, sangat menyebalkan. Apa ia harus meminta haknya sebagai suami dalam penyamaran seperti ini? Tidak, rasanya itu tak bisa terjadi. Ia akan dituduh melakukan pelecehan. Akan tetapi Alex sudah tak sanggup menahan lebih lama lagi.


Alex menggerutu sendiri, memikirkan cara agar bisa bercinta dengan Sabrina. Gemas melihat semua yang ada pada diri gadis itu, dua bulan lamanya Sabrina telah mengacuhkannya dan kali ini harus berhasil mendapatkannya kembali.


"Tuan, kenapa lagi? Seharusnya ceria bukan, Nona Sabrina sudah ditemukan?" tanya Rey, mendapati wajah majikannya yang terlihat kusut.


"Aku mau, Rey," jawab Alex lesu.


"Mau minum kopi, Tuan?" Rey berpura tak paham, lebih seru mengerjai bosnya itu.