Hasrat Sang Majikan

Hasrat Sang Majikan
BAB. 41


Andra menggandeng tangan Sabrina, gadis itu sampai terkejut dibuatnya. Lagi-lagi Andra terkekeh, Sabrina memang gadis berbeda dari yang lain.


"Aku memegang tanganmu agar tidak jatuh. Kamu terlalu gugup, takutnya tersandung." Andra mengulas senyum di bibir tipisnya. Membuat Sabrina merasa malu.


Alunan musik klasik romantis mengiringi, sangat cocok untuk pasangan yang sedang dimabuk asmara. Namun, tidak bagi Sabrina. Ia dan Andra hanya sebatas teman dan lagi Sabrina adalah seorang istri. Tepatnya istri yang tak dianggap.


Para tamu yang melihat kebersamaan Andra dan Sabrina, menyangka mereka adalah sepasang kekasih. Mereka sangat serasi jika menjadi pasangan. Namun, Sabrina merasa risih dengan tatapan para gadis dipesta tersebut. Sepertinya para wanita itu adalah pemuja ketampanan Andra, sampai melirik Sabrina dengan tatapan menghina. Oke, wajar, menyadari diri orang tak punya yang diangkat dari kisah Cinderella menjadi putri dalam semalam. Dan setelah itu kembali pada wujud aslinya menjadi babu.


Sabrina tak akan mungkin meninggalkan sebelah sepatu high heelnya di pesta, agar sepatu itu ditemukan oleh pangeran dan setelah itu akan mencari-cari keberadaannya, menikah dan hidup bahagia. Hello, ini jaman moderen bukan dongeng jaman dahulu. Sabrina kamu harus sadar akan hal itu.


Andra memperkenalkan Sabrina kepada para petinggi perusahaan seakan mengenalkan bahwa Sabrina adalah kekasihnya, banyak yang memuji akan kecantikan Sabrina dan mencocokkan keduanya agar cepat menikah. Sabrina semakin gugup, takut kalau obrolan tersebut terdengar oleh Alex. Seperti apa reaksi wajahnya nanti pasti sangat menyeramkan bisa-bisa Alex akan menjadi drakula yang menyedot habis darahnya.


Sabrina melihat sekeliling, mencari sosok pria tersebut, untungnya saja Sabrina tak melihat keberadaan Alex. Sepertinya pria itu tidak datang karena sibuk dengan pekerjaan. Syukurlah.


Suara riuh dari para fans terdengar nyaring. Walaupun dia bukan artis ternyata Alex itu punya banyak fans juga, apalagi datang dengan Karlina seorang artis yang dikatakan sangat terkenal. Kedatangannya mendapat sambutan hangat. Pastinya Alex terkenal, dia adalah seorang pebisnis handal dan suksi di usia yang masih terbilang muda.


Sabrina tak kuasa mengangkat kepalanya, ia terus menunduk. Apalagi saat mengetahui Alex mencuri pandang dengan tatapan sinis yang sulit diartikan. Seandainya bisa, Sabrina ingin terbang, keluar secepatnya.


"Hai, Lex. Kamu datang juga." Andra menyapanya.


"Tentu saja aku datang, tak akan melewatkan hari dimana pamer kekasih yang sangat cantik." Alex melirik Karlina.


"Aku juga pamer dengan kekasih baruku yang jauh lebih cantik segalanya." Andra mengangkat tangan Sabrina dan mengecupnya.


"Mereka sangat serasi, Andra sangat pandai mencari pasangan," puji seorang pria di samping Alex.


Lobi hotel yang luas dan mewah itu menjadi tempat dansa, banyak pasangan yang sudah mulai berdansa dengan pasangannya. Andra dengan prilaku manisnya mengajak Sabrina berdansa.


"Aku tak bisa berdansa," ucap Sabrina gugup.


"Kamu ikuti saja langkahku." Andra meraih pinggang Sabrina.


Mereka berdansa mengikuti alunan lagu yang romantis, banyak pujian yang mengiringi kebersamaan Andra dan Sabrina. Memuji keindahan si gadis cupu yang bagaikan seorang putri.


Andra sangat menikmati kebersamaan berdansa dengan Sabrina, tapi tidak dengan gadis itu. Dia ingin secepatnya pergi, apalagi Sabrina bisa melihat dari kejauhan Alex tak lepas menatapnya tajam. Tatapan Alex seakan menggerogoti tubuh Sabrina saat itu juga.


"Sayang ayo kita dansa," ajak Karlina manja.


Alex yang sedang menikmati minumannya, pun mengikuti keinginan sang kekasih. Ia berdansa dengan penuh kemesraan.


"Gila tuh cewek, kulitnya putih mulus. Cantiknya kebangetan, gue jadi terbayang saat ia berpose seksi diranjang." Seorang pria berkumis tipis pengagum Sabrina. "Kayaknya masih polos, bisa di coba tuh," katanya lagi.


Alex seketika murka dan memukul habis-habisan pria itu, membuat suasana pesta menjadi kacau. Kegiatan dansa ikut terhenti setelah terdengar suara jeritan histeris dari para tamu wanita. Puas memukuli pria tersebut, dengan napas terengah-engah dan emosi membara. Alex menarik kasar tangan Sabrina dan membawanya pergi entah kemana.