Hasrat Sang Majikan

Hasrat Sang Majikan
BAB. 95


Mami Tiwi belum bisa menerima kematian suaminya yang secara mendadak menurutnya. Masih seperti mimpi untuk dipercayai, padahal kini ia sedang menaburi bunga di pusara sang suami.


Hujan gerimis mengiringi pemakaman Papi Tanto, suara tangis para kerabat terdengar bagai melodi yang menyayat hati. Tak peduli hujan semakin deras mengguyur tubuh wanita yang kini mulai terisak perih.


Air mata yang sejak tadi tertahan kini mulai berjatuhan dan semakin deras membasahi pipi. Mami Tiwi menangis sejadi-jadinya, tangisan pilu yang meminta keadilan atas apa yang sudah terjadi pada suaminya. Tak menyangka kebersamaan yang terjalin indah hanya sesingkat ini.


"Mami, ayo kita pulang. Hari semakin sore, hujan semakin deras." Sabrina mengelus pundak Ibu mertuanya, wanita yang selalu terlihat anggun itu kini terlihat sangat kusut.


Alex memeluk maminya yang kini terdiam tanpa kata, pancaran matanya kosong. Semangat hidupnya berubah redup.


Tubuh lemas itu kini berdiri, tanpa bicara Mami Tiwi mau diajak pulang. Namun, baru tiga langkah saja tubuh lemas itu berhenti, menoleh kembali pada pusara sang suami.


"Papi, Mami pulang dulu." Lambayan tangan diiringi dengan tetesan air mata, hati serasa enggan pergi masih ingin menemani.


Alex yang melihat itu semua semakin teriris hatinya, begitu besar cinta Mami pada Papinya yang kini hanya tinggal kenangan. Alex melirik Sabrina disampingnya yang masih terisak, memegang erat jemari sang istri tak sanggup untuk berpisah jauh. Kini Alex mempunyai dua tanggungan yang harus dilindungi sepenuh hati.


Sesampainya di rumah. Alex dikejutkan dengan beberapa orang yang tak dikenal, wajah mereka terlihat garang dengan postur tubuh kekar.


"Mau apa kalian datang kesini?" tanya Alex kepada beberapa pria itu, mereka lebih terlihat jelas seperti depkolektor.


Beberapa pria itu memasang seringai di wajah, bahkan tawanya terdengar sangat meremehkan membuat Alex terheran-heran.


"Dalam waktu lima menit rumah ini harus secepatnya dikosongkan," titahnya dengan angkuh.


"Apa hak kalian mengusir kami?" Alex bertanya dengan napas terengah-engah menahan amarah.


"Tak perlu banyak bicara, kosongkan saja rumah ini secepatnya. Kalau tidak, kami akan melakukannya dengan cara paksa."


Alex mengusir beberapa pria itu agar pergi dari rumah papinya. Namun, mereka malah bertindak kasar dan terjadi saling pukul.


"Hentikan!" teriak Mami Tiwi. Perkelahian semakin tak terkendali.


"Tunjukan surat perintahnya." Mami Tiwi memberanikan bicara menutupi kesedihan yang dirasa.


Setelah membaca lembaran kertas yang terdapat di map tersebut. Tubuh Mami Tiwi hampir ambruk kelantai jika Alex tak menahannya, tak percaya dengan isi surat pernyataan tersebut.


"Ada apa, Mi?"


Mami Tiwi memberikan map tersebut. Alex membacanya dengan sangat teliti.


"Sialan kau, Andra!" umpat Alex merasa sangat dihianati. Sudah jatuh tertimpa tangga pula.


"Sekarang sudah jelas bukan, silahkan kalian secepatnya angkat kaki dari rumah ini," titahnya sembari berteriak.


"Mami tidak usah Khawatir, aku akan berusaha mengambilnya kembali. Itu bukan hak pria sialan seperti Andra dan pastinya si penghianat akan aku singkirkan." Alex menggertakan gigi, mengepalkan tangan. Murka dengan semua musibah yang bertubi menimpa.


Setelah mengambil barang-barang yang dibutuhkan oleh Mami Tiwi. Alex kembali melayangkan ancaman tak akan tinggal diam dengan semua penghianatan ini.


Bukannya merasa takut dengan ancaman Alex. Beberapa pria itu malah tertawa girang semakin mencemooh, menghina. Apa yang bisa Alex lakukan tanpa uang dan kekuasaan, mereka juga menyindir. Sepertinya Alex buta tidak membaca seluruh surat pernyataan tersebut kalau semua aset kekayaan milik Pak Tanto beralih atas nama Andra.


Akan tetapi, perusahaan yang Alex bangun adalah hasil kerja kerasnya sendiri. Tak mungkin prusahaan yang sudah sepenuhnya menjadi milik Alex beralih tangan kepada Andra juga. Penasaran pada penghianat yang kini menjatuhkan keluarganya bagai sampah.


"Tuan!" Rey datang dengan napas terengah-engah.


Rey menceritakan kalau penghianat yang sesungguhnya adalah Pak Denis tangan kanan Papi Tanto yang sangat dipercayai. Dia yang memanipulasi semua aset kepemilikan harta Papi Tanto atas nama Andra, musuh dalam selimut yang nyata adanya. Dan semua tanda tangan di surat pernyataan tersebut asli, sepertinya Papi Tanto tidak mengetahui apa isi surat tersebut dan hanya menandatangani saja.


"Pria tua bangka sialan!" umpat Alex geram, ingin rasanya memukuli pria itu sampai mati andai ada di depan mata.


Pakta lain bahwa Pak Denis dulunya adalah kepercayaan dari Papa--Andra.


"Bagaimana pembalasanku, hah. Lebih mengasyikan bukan." Suara menyebalkan itu membuat Alex semakin geram.


Andra keluar dari dalam mobil dengan begitu angkuhnya diiringi dengan beberapa bodyguard.


"Sialan kau, Andra." Alex berniat melayangkan pukulan. Namun, ditangkis oleh beberapa bodyguard yang mengiringi Andra.


Sedangkan mata Andra tertuju pada wanita yang kini sedang terlihat panik, berdiri disamping Mami Tiwi.


"Sabrina." Andra tersenyum penuh arti, melihat gadis yang semakin cantik dan menggemaskan.


Tangan Andra berniat menjawil dagu Sabrina. Namun, dengan cepat Mami Tiwi memerintil tangan Andra.


"Jangan berani menyentuh putriku!"


"Ancaman wanita tua yang jatuh miskin," hina Andra, menarik sudut bibirnya. Mendorong kasar Mami Tiwi sampai jatuh kelantai.


Sedangkan Alex dan Rey tak bisa berkutik. Beberapa bodyguard itu sudah melumpuhkan keduanya.


"Mami." Sabrina berniat menolong Mami Tiwi.


Namun, tangan Andra lebih cepat menarik tangan Sabrina dan merangkul pinggangnya.


"Lepaskan! Kamu pria keji tak berperasaan. Aku lebih jijik pada pria munafik sepertimu."


Andra membalikan tubuh Sabrina agar wajah cantiknya bisa dilihat secara dekat.


"Kamu jijik kepadaku, tapi pria itu lebih menjijikan bukan," tunjuk Andra kepada Alex, "dia sering tidur dengan wanita lain." Andra mulai memanas-manasi Sabrina. "Bayangkan berapa banyak wanita yang selalu Alex puaskan."


Sabrina memejamkan mata. Andra terpesona dan berniat memberi sentuhan pada bibir kemerahan itu. Namun, tak lama kemudian Andra meringis perih, bibirnya berdarah. Sabrina menggigitnya dengan sangat kasar.


"Berutal," ucap Andra mengelap darah di bibir dengan ibu jarinya. "Tapi aku suka," lanjut Andra lagi merangkul pinggang Sabrina erat, menghirup aroma wangi parfum di leher Sabrina.


"Sialan kau Andra, berani menyentuhnya. Ku bunuh kau!" teriak Alex dan kembali mendapat tinjuan dari salah seorang bodyguard--Andra.


Sabrina tak kuasa melihat sudut bibir Alex semakin terluka, darah yang keluar semakin banyak. Namun, isyarat mata Alex mengarahkan Sabrina agar tetap tenang.


Ketenangan Sabrina rasakan membuat otaknya berpikir cerdas, mengingat semua adegan beladiri yang pernah ia lihat dalam posisi yang sama seperti yang Andra lakukan. Dengan cepat Sabrina memakai langkah menendang aset berharga milik Andra dengan sangat kasar. Setelah itu menyikut bagian perut dan memberikan tonjokan di hidung.


Andra hampir terjungkal tak disangka pukulan Sabrina membuat hidungnya mengeluarkan darah. Ia tak menyangka kalau Sabrina mempelajari beladiri.


"Sabrina kau beraninya menendang pusaka berhargaku yang suatu saat nanti akan kamu rasakan!" ancam Andra sembari mengingis merasakan ngilu yang tak tertahan.


Sabrina berhambur memeluk Alex dan setelah itu memberikan kecupan singkat di bibir pria yang sangat dicintainya. Membuat Andra semakin geram. Namun, setelah itu menyuruh para bodyguardnya untuk melepaskan Alex beserta yang lainnya.