
Karena haus, Sabrina bangun dari tidurnya. Diliriknya jam yang menempel di dinding menunjukan pukul dua dini hari, malas untuk bangun. Tapi mau gimana lagi, tenggorokannya terasa kering.
Sabrina melirik Eis disampingnya, mau membangunkan tapi tak tega. Bibinya itu pasti capek juga.
Nggak akan terjadi apa-apa kok.
Sabrina berjalan menuju dapur, sebenarnya ia takut gelap. Apalagi jarak dapur dan kamar tidurnya lumayan jauh, rumah majikan bibinya itu sangat besar. Tak seperti rumah kecilnya di kampung, hanya butuh lima langkah saja menuju dapur.
Sesampainya di dapur, Sabrina mengambil botol mineral dari kulkas. Cahaya remang-remang itu membuat bulu kuduk Sabrina berdiri, ia mencari stop kontak menyalakan lampu agar lebih terang lagi.
"Ngapain!"
Suara Alex mengagetkan gadis itu, minuman yang dipegangnya pun jatuh kelantai. Untungnya saja berbahan plastik, jadi tidak sampai pecah.
"Nyuri makanan!" tegur Alex saat melihat piring berisi nasi dan ayam goreng yang Sabrina letakkan di meja makan.
Sabrina menggeleng takut sambil menunduk, pria di depannya ini pun tak memakai baju.
"Kalau orang lagi ngomong itu dilihat wajahnya, jangan menunduk terus. Bosan aku lihatnya," ucap Alex, pria itu duduk di kursi menikmati makanan yang sudah Sabrina siapkan di meja.
"Itu ...."
"Apa, mau bilang ini punyamu. Ngambil lagi sana, repot amat."
Sabrina kembali mengambil nasi dan ayam goreng. Namun, lagi-lagi Alex menyusahkannya menyuruh Sabrina duduk di lantai.
"Itu lebih cocok untukmu." Alex segera pergi ke kamar setelah selesai makan.
Sabrina menghapus air matanya yang berjatuhan membasahi pipi. Bagaimana bisa ia menikah dengan pria tak punya hati seperti itu, akan seperti apa rumah tangganya nanti. Padahal Sabrina mengharapkan menikah dengan pria yang tulus mencintainya, bukan malah membencinya seperti ini.
Perut yang semula lapar kini terasa kenyang, makan enak pun terasa hambar. Sabrina kembali bersedih meratapi nasibnya yang malang.
"Bibi, aku tidak mau menikah dengan pria itu. Kita pulang saja ke kampung," jawab Sabrina dalam dekapan Eis.
"Tidak, Sabrina. Tuan Alex harus bertanggung jawab atas perbuatannya, Bibi nggak mau kamu jadi bahan gunjingan orang. Apalagi sampai hamil."
"Tapi, Bi ...."
"Bu Tiwi sudah berjanji kepada Bibi akan menjagamu, percayalah. Suatu hari nanti Tuan Alex akan bersikap baik padamu."
"Aku akan menuruti perintah Bibi." Sabrina kembali terisak.
***
Tiwi sedang menikmati sarapan pagi bersama Tanto di meja makan. Sedangkan Alex masih bersiap di kamarnya, setelah selesai ia bergegas menuju meja makan agar bisa sarapan bersama dengan kedua orang tuanya.
Alex menyapa kedua orang tuanya dan segera duduk di samping maminya, selesai makan Alex meminta kunci mobil dan ATM yang disita sang mami. Namun, Tiwi sama sekali tak peduli dengan ucapan putranya.
"Mami," ucap Alex lagi.
Tiwi masih acuh, tergambar jelas kekecewaan dari wajah wanita cantik itu.
"Mami, aku mau ke sorum. Siangnya mau menemui klien." Alex merasa heran karena terus diacuhkan, ia berpikir akan kejahilannya saat dini hari kepada Sabrina dan menuduh gadis itu mengadu yang tidak-tidak.
"Naik sepeda atau jalan kaki." Tiwi memicingkan mata, setelah itu memelototi Alex sampai putranya itu tersedak saat minum.
"Yang benar saja, Mi. Jalan kaki?" Alex menatap tak percaya kepada papinya atas keputusan sang mami.
"Aku akan menghubungi, Rey." Alex mengambil ponsel dari saku celananya.
"Rey akan mengantar Mami dan Sabrina ke butik," ketus Tiwi dan memanggil Sabrina yang sedang berada di dapur.