
Pagi harinya. Alex sudah berangkat ke kantor, pria itu tak mengganggu atau pun membangunkan Sabrina. Alex juga tidak sarapan terlebih dulu, pergi tanpa pamit kepada Karlina. Membuat Karlina sangat marah, apalagi semalam Alex tidak menemuinya. Lebih memilih tidur di ruang kerjanya.
Karlina dengan emosi masuk ke kamar Sabrina, mendapati gadis itu masih tidur. Terlalu kesal, Karlina menyiram wajah Sabrina dengan Air seember kecil.
Sabrina terkejut dan terbatuk-batuk. Mengusap wajah yang basah menetralkan penglihatannya, ternyata itu Karlina. Kenapa wanita itu masih berada di sini? Apa wanita ini akan tinggal disini? Lantas kemana Bibi An dan Bibi Ar. Sabrina terlihat bingung.
"Kenapa, bingung? Kedua asisten tua itu sudah aku pecat, buat apa banyak-banyak pembantu jika sudah ada kamu."
Karlina menarik paksa tangan Sabrina. "Jangan bilang kamu dan Alex semalam sudah ...." Karlina berhenti bicara, memperhatikan bagian atas tubuh Sabrina.
"Iya, dia lebih suka bersamaku dari pada denganmu."
Plak.
Karlina geram, menampar pipi Sabrina. "Kamu wanita murahan, beraninya menggoda Alex. Dia itu hanya miliku saja!" sentak Karlina ingin menampar Sabrina kembali.
Namun, sigap Sabrina menahan tangan Karlina. Menghempaskan tangan wanita itu kasar. "Kamu pikir aku akan diam saja dengan perlakuanmu, tidak. Kamu itu hanya wanita licik yang mengincar harta saja," cibir Sabrina. Gadis itu melangkah menuju kamar mandi.
Karlina yang semula hanya diam saja, mendorong tubuh Sabrina sampai kepala terbentur pada tembok.
"Syukurin, mangkanya jangan berani melawan." Karlina tertawa melihat ringisan Sabrina memegangi keningnya yang membiru. Wanita itu segera keluar dari kamar Sabrina dengan penuh kemenangan.
Selesai mandi. Sabrina segera bersiap, hari ini ia harus pergi ke butik yang dipercayakan Mami Tiwi kepadanya.
"Mau kemana kamu? Belum puas kepalamu aku benturkan ke tembok."
Sabrina acuh tak peduli dengan ocehan Karlina, malas bertengkar yang mengakibatkan kemarahan Alex.
Karlina yang tak suka diacuhkan, melempar Sabrina dengan telur busuk. Membuat bajunya kotor. Karlina terbahak melihat Sabrina muntah-muntah karena aroma telur busuk yang menguar menusuk hidung.
"Apa?" Karlina berkacak pinggang.
Sabrina memberi tamparan keras, membuat wanita itu hampir terhuyung ke lantai. Setelah itu mengusap wajah Karlina dengan telur busuk yang menempel dibajunya.
Karlina menjerit dengan aroma mau busuk ditubuhnya, berlari menuju kamar mandi segera membersihkan tubuh. Kata umpatan masih terdengar jelas dari mulut wanita itu.
Puas rasanya Sabrina melakukan itu. Mertuanya benar, sesakit apa pun hatinya. Sabrina harus bisa melawan agar tak terus ditindas. Sabrina kembali ke kamarnya untuk mandi kembali, tak tahan dengan aroma bau busuk ditubuhnya. Sepertinya ia harus berendam lama agar aroma bau amis bisa cepat hilang dari tubuhnya.
***
"Sabrina, kenapa kamu tidak datang ke butik? Mami sudah menunggu kedatanganmu, kamu baik-baik saja 'kan? Apakah Alex menyusahkanmu lagi?" Mami Tiwi menelepon Sabrina. Namun, seketika ia terkejut saat melihat dahi Sabrina terluka karena Mami Tiwi melakukan video call.
"Kenapa dengan keningmu itu, Sabrina. Apa Alex bersikap kasar kepadamu, kalau memang seperti itu Mami akan memberinnya pelajaran."
"Mama nggak usah khawatir, aku nggak apa-apa kok. Aku kepleset di kamar mandi dan kepalaku terbentur tembok, itu saja."
"Sabrina kamu nggak menyembunyikan rahasia apapun kan dari Mami?"
"Tentu saja tidak, Mami. Mami nggak usah khawatir, aku baik-baik saja. aku bisa mengatasi masalah ini."
"Kamu yakin bisa mengatasinya sendiri tanpa bantuan Mami?"
"Yakin, Mi. Aku akan menjadi Sabrina yang pemberani."
"Syukurlah, Mami percaya kamu pasti bisa."