Hasrat Sang Majikan

Hasrat Sang Majikan
BAB. 102


Alex memijat kaki Sabrina. Betapa marahnya ia, belum juga mendapati Rey pulang. Seandainya saja pakai mobil atau motor pasti akan cepat menjemput si mbah pijat itu. Lah ini sudah setengah jam mereka belum juga kembali.


"Masih sakit ya sayang kakinya?" tanya Alex dengan sangat khawatir.


"Sudah mendingan, nggak usah panik gitu. Lagian cuma terkilir doang," balas Sabrina dengan santainya. Meminta Alex untuk memapah berjalan, lagian Sabrina bukanlah seorang ratu yang harus dimanja dan bermanja dalam situasi kecil seperti ini.


Namun, Alex begitu memanjakan. Tubuh mungil itu melayang keudara, Alex menggendong Sabrina dan membawanya kelantai bawah. Dengan wajah panik takut kaki Sabrina ada yang patah.


"Pipi aku baik-baik saja!" teriak Sabrina merasa malu dengan sikap Alex yang berlebihan.


Baru juga Alex ingin menanyakan Rey. Disertai mimik wajah kecewa dan kesal. Namun, pertanyaan itu diurungkan. Rey sudah kembali dengan baju penuh lumpur.


"Wanita sialan!" umpat Rey kesal. Apalagi saat melihat Alex mentertawakan.


Jika saja Alex bukan majikannya. Rey akan melemparkan baju kotor tersebut ke wajah pria yang kini sedang terpingkal.


"Pipi turunkan," titah Sabrina masih dalam gendongan Alex, pria bertubuh tegap itu tak mau melepaskan. Terlalu sayang kini Alex pada Sabrina, sampai tak ingin membuat istri mungilnya itu terluka.


"Mana tukang pijat nya?" tanya Alex celingukan, mencari sosok asing itu.


"Si Mbah lagi nggak ada di rumah, lagi mijit ke kampung sebelah," jawab Bibi An.


"Tahu gitu tadi ke rumah sakit saja, bikin kesal saja." Wajah Alex berubah masam, duduk di sofa bersama sabrina dalam pangkuan.


Malu sekali Sabrina kini, merasa jadi pusat perhatian gara-gara kelakuan suaminya.


"Pipi lepaskan, aku mau duduk di sofa."


"Jangan berbisik seperti ini, pikiranku malah jadi traveling." Kerlingan genit itu membuat Sabrina merinding.


"Sabrina, apa kaki mu masih sakit?" tanya Mami Tiwi memastikan. Khawatir pada mantu kesayangannya.


Namun, sepertinya Mami Tiwi malah senang melihat Alex yang kini sangat perhatian pada sang istri.


"Tak apa, biar Mami bisa cepat nimang cucu," ungkap Mami Tiwi membuat wajah Sabrina memberengut.


"Kamu buruan mandi, Rey. Bau lumpur tahu, lagian nggak ada gunanya marah-marah disini. Kenapa nggak kamu tonjok saja tadi pelakunya biar puas." Mami Tiwi mencoba menetralkan wajahnya. Padahal sedari tadi ingin sekali tertawa melihat Rey yang seperti kucing kecemplung ke got.


"Jodohnya Den, Rey tuh, Mi," celetuk Bibi An. Sembari menutup mulut menahan tawa.


"Amit-amit! Ogah banget tuh cewek dijadikan pacar." Rey bergidig sembari berlalu ke dalam kamar.


Sedangkan tawa kembali menggema di ruang tamu. Sepertinya sangat bahagia dengan peristiwa naas yang menimpa Rey.


Sudah hampir satu minggu Alex berada di kampung Bibi An. Ia mulai menikmati kebersamaan dengan orang-orang di desa tersebut yang ternyata ramah dan mengasyikkan. Bahkan tak jarang Alex dan Sabrina beserta Rey, Mami Tiwi ikut ke ladang membantu para petani bercocok tanam.


Seperti siang ini, pertama kalinya Alex menanam jagung beserta para petani yang lain dan baru pertama kali juga Alex merasakan kesenangan dalam dada yang sekian lama belum pernah dirasakan. Kebersamaan dengan orang-orang biasa yang sejak dulu sangat dihindarinya.


Makan liwet bersama di atas daun pisang panjang disertai tawa dan canda, bahkan Alex tak merasa jiji memakan lauk bersamaan dengan yang lainnya.


Malah terasa sangat menyenangkan, begitu juga Sabrina. Gadis itu terlihat sangat riang teringat dulu ia sering melakukan hal seperti ini di kampung halamannya.


Mami Tiwi tersenyum getir ada sesuatu yang sangat dirindukannya. Seandainya sang suami masih ada di sampingnya, pasti kebahagiaan ini akan lebih terasa nikmat lagi. Apalagi melihat perubahan Alex yang kini jauh lebih baik lagi, tidak sombong, arogan, apalagi menghinakan orang. Sifat itu kini mulai luntur dalam diri Alex yang menjadi pria sederhana. Namun, penuh pesona.


Sepasang mata dengan senyum merona memperhatikan kegiatan makan bersama diladang jagung. Tatapannya tertuju pada Alex yang sedang menyuapi Sabrina.


Sorot mata mengagumi itu tak bisa dipungkiri, kalau Alex memang sangat mempesona.


"Hay, boleh gabung ya." Suara melengking itu membuat Rey yang sedang menikmati makan pun mendongak ke sumbersuara.


Seketika ia meremas kepala ikan bakar itu sampai hancur.