
Sabrina membenarkan handuk yang melilit di tubuhnya. Kepalanya mendongak diiringi jeritan histeris.
"Jangan lihat!" Sabrina menyilangkan tangan menutupi bagian depan.
Sedangkan Alex malah tertawa terpingkal melihat ekspresi malu Sabrina.
"Jangan tertawa, tutup mata," titah Sabrina menunjuk ke arah Alex.
Sedangkan Alex malah maju selangkah demi selangkah, ingin menggoda Sabrina lebih jauh lagi. Akan seperti apa perlawanannya kali ini, apakah memberi tendangan lagi? Atau lebih parah dari itu.
Keterkejutan Sabrina malah dimanfaatkan Alex. Pria itu membuka satu persatu kancing kemejanya dan melemparkan sembarang. Kini hanya menyisakan cetakan otot perut yang sangat menggoda.
Sedangkan Sabrina membuang muka, acuh dengan apa yang kini Alex lakukan. Seolah tak melihat adegan yang membuat matanya menjadi rusak. Pergerakan Sabrina sudah terkunci, tubuh mungil dan menggoda itu terjebak didindin. Sedangkan kedua tangan Alex menghalangi dari arah kiri dan kanan. Namun, Sabrina tetap tenang walau sebenarnya merasa gugup.
Alex mendekatkan wajahnya ketelinga Sabrina. "Aku pinjam handuk, gerah mau mandi," bisiknya menggoda.
"Hanya itu?" refleks Sabrina mengucapkan.
Membuat Alex mengerutkan kening, memangnya apa yang ingin Alex lakukan. Apa Sabrina berpikir pada sebuah permainan yang mengasyikkan? Tentu saja hal itu tak bisa dilakukan. Alex tak mau memaksa, yang ada. Ia akan kehilangan aset paling berharganya. Jika hal itu sampai terjadi, Sabrina yang akan lebih dulu menyesali.
"Tentu saja, aku butuh handuk. Kalau nggak ada lagi, handuk yang kamu sedang pakai bisa aku ambil." Kedipan genit Alex luncurkan pada gadis yang kini tertegun, entah apa yang kini ada dalam benak Sabrina. Alex tak bisa menjangkaunya dan tak mau mengusiknya.
"Syukurlah," gumam Sabrina pelan, terlintas dalam benak gadis itu kalau Alex ingin memaksa melakukan sebuah percintaan.
"Tenang saja, aku tak akan memaksa jika kamu belum siap menerimaku dengan keikhlasan hatimu." Alex mengelus rambut Sabrina, "kalau bisa, aku ingin kamu mengepang rambutmu lagi."
Sabrina membelalakkan mata, berpikir kalau Alex akan kembali meledeknya dengan sebutan gadis cupu jika rambutnya kembali dikepang dan kali ini apa? Alex malah menginginkan rambut panjang sedikit pirangan itu diikat dua lagi.
Sabrina menyusuri wajah pria berahang kokoh itu. Mencari kebenaran dari sana. Namun, mata coklat milik Alex itu menunjukan keseriusan atas permintaannya.
"Baiklah." Bibir seksi itu seolah pasrah dengan permintaan suaminya. "Minggir dulu, aku mau ngambil handuk." Sabrina mendorong pelan tubuh Alex. Dan segera memberikan handuk yang sudah diambilnya dari lemari.
"Makasih," ucap Alex tersenyum manis. Jantungnya berdenyut cepat, semakin cepat dan terasa sesak untuk bernapas. Alex sampai memegangi dadanya sendiri, setelah itu membuang napas secara perlahan dan bergegas masuk kamar mandi.
Di depan cermin. Sabrina tersenyum penuh arti, mungkin ucapan Bi Eis bisa dipertimbangkan. Memberi kesempatan kepada Alex, berharap pria itu kali ini benar-benar berubah dari kesalahan yang pernah diperbuatnya. Bukannya rumah tangga itu harus saling melengkapi, jadi tugas Sabrina juga harus melengkapi Alex dan membawa pria itu kejalan yang benar. Apa harus bagaimana? Sabrina malah pusing sendiri.
Mengingat kasih sayang mertuanya selama ini yang sudah memperjuangkan. Ya, Sabrina mulai yakin untuk memberi Alex kesempatan kembali. Tak ada salahnya mencoba memperbaiki hubungan walau hati masih terasa ragu. Jika belum dicoba, tak akan tahu hasilnya bukan.
Selesai mengeringkan rambut. Sabrina mengepang dua rambutnya atas permintaan Alex, jantung berdebar saat memakai gaya lama yang selalu dipojokkan bahkan dihina. Sampai terjadi lagi, Sabrina tak segan memberi tinjuan dan tendangan yang lebih dasyat lagi.
Sebuah tangan mendarat dipundak Sabrina. Gadis itu nampak terkejut. Alex berjongkok mensejajarkan kepalanya, nampak pantulan keduanya di cermin. Telihat serasi, wajah cantik dan tampan menjadi satu.
"Terimakasih," bisik Alex ketelinga Sabrina. Membuat desiran aneh menyelusup kalbu terdalam.
Hanya mengangguk pasrah. "Pakai bajumu, Tuan. Nanti masuk angin."
Perhatian itu membuat hati Alex berbunga, tubuhnya seakan melayang tinggi keangkasa. Terlalu lebay jadinya jika Alex sampai mengutarakan. Sabrina pasti akan memeletkan lidah meledeknya. Tak peduli, Sabrina aku mencintaimu, jerit Alex dalam hati. Tak mau terburu-buru mengutarakan lagi, biar waktu yang perlahan menjawab.
"Manis," ucap Alex lagi menyentuh kepang dua Sabrina.
Lah, kemarin kemana saja? Kok baru nyadar sekarang. Matanya pasti tertutup debu sampai mendadak katarak.
Sabrina tak mau hanyut dalam situasi penuh rayu itu. Jangan sampai lupa daratan yang berakhir diranjang. Tidak boleh termakan rayuan, walau hatinya kini mulai berdamai.
"Duduklah, aku akan mengambil obat dulu, untuk mengobati lukamu itu, Tuan." Sabrina berniat berdiri. Namun Alex menahan.
"Biar aku saja yang mengambil kotak obatnya, dilemari 'kan?"
"Iya," balas Sabrina.
Setelah kotak obat itu Alex ambil. Pria itu duduk di tepi dipan, Sabrina mengoleskan obat pada luka dibahu Alex.
"Kenapa bisa seperti ini? Lukanya sangat dalam. Kenapa juga harus berkelahi?" oceh Sabrina membuat Alex semakin bahagia. Sesekali Sabrina meniup-niup luka Alex yang masih bengkak.
"Karlina yang melakukannya." Alex berbalik, tangannya menggenggam tangan Sabrina mengecup punggung tangannya. "Ini sebuah karma," lanjut Alex.
"Rasanya tidak mungkin, bukankah dia wanita yang sangat mencintsimu? Aku tak percaya." Sabrina melepas tangannya dari genggaman Alex, menutup kotak obat dan kembali menyimpannya dilaci. Mengambil kaos warna hitam dan membantu Alex memakainya.
"Itu paktanya, cinta butaku membuat diri sendiri celaka." Alex berharap Sabrina akan percaya.
Bungkam tanpa kata. Sabrina tak bisa mencerna ucapan Alex dengan cepat, rasa tak percaya lebih kuat dari pada pakta. Seorang kekasih tak akan tega melukai pasangannya sendiri, apalagi itu membahayakan nyawa. Namun, jika memang benar adanya. Faktor apa yang membuat Karlina bisa berutal seperti itu. Bukankah selama ini Alex begitu memanjakannya, apapun yang diinginkan Karlina Alex berikan. Sabrina sangat tahu akan hal itu.
"Apakah perubahan Tuan karena sedang kecewa?" Pertanyaan itu seolah memberi peringatan kalau Alex tak boleh lagi mempermainkan Sabrina.
"Tidak, Aku bersungguh-sungguh meminta maaf atas kesalahanku selama ini. Aku benar-benar menyesalinya Sabrina, dari sejak aku menikah denganmu memang ada ketertarikan yang berbeda. Entahlah, aku pun merasa bingung dan karena hal itu juga aku sering menolak keinginan Karlina yang membuat kami selalu bertengkar. Namun, hatiku hanya selalu tertuju untuk mencarimu tak peduli dengan kemarahan mantan kekasihku itu." Alex kembali menggenggam jemari Sabrina tak ada lagi kebohongan yang ingin disembunyikan. Ia benar-benar ingin berubah, menjalin bahtera rumah tangga yang bahagia dengan wanita di depannya ini. Wanita pilihan sang Mami yang dulu pernah ditolaknya mentah-mentah.
"Aku hanya butuh pembuktian, bukan janji palsu yang akan menusuk hati."
"Aku janji akan menepatinya, maafkan aku Sabrina."
"Iya, aku akan memberi kesempatan," jawab Sabrina, membuat Alex merasa sangat bahagia.