Hasrat Sang Majikan

Hasrat Sang Majikan
BAB. 103


"Cewek edan!" Suara Rey menyentak sangat keras. Membuyarkan fokus makan bersama jadi terganggu.


Alex yang berada tak jauh dari Rey pun sampai tersedak. Melongo dengan ledakan amarah Rey yang tiba-tiba itu.


"Eh, ada tikus got," balas gadis bertopi hitam itu. Wajahnya penuh tantangan pada pria yang kini tengah emosi.


"Tanggung jawab kamu!" Posisi Rey kini berhadapan dengan gadis itu, mereka bersitatap.


"Gitu saja minta ganti rugi. Minggir!" Tangan mungil si gadis ternyata mampu menghempas tubuh Rey sampai tersungkur ke tahan. Menjadikan gelak tawa dan keriuhan diladang, menambah malu dan menurunkan martabat Rey sebagai pria.


"Gila tu cewek, ada tenaganya juga. Sialan!" gerutu Rey tak terima kembali dipermalukan.


"Hai, Kak. Kenalan dong." Gadis bertopi hitam itu mengulurkan tangan, mengajak Alex bersalaman.


Namun, Rey lah yang menjawat tangan si gadis dengan sedikit meremasnya agar kapok.


"Ganjen banget jadi cewek!" cibir Rey.


Menumbuhkan luapan emosi di dada si gadis yang kini menggertakkan gigi.


"Ngehina gue lo!" Tangan Rey dipelintir kebelakang, setelah itu tendangan dikaki pun Rey dapatkan.


Sial! Wanita ini ternyata pandai bela diri. Rey bisa merasakan dari cengkeraman kuat tangannya.


"Ingan nama gue baik-baik, Arma Briana! Gadis tangguh yang tak mudah ditindas, lo orang baru jangan songong!" Arma meneriakan kalimat tersebut tepat ditelinga Rey, sampai kuping Rey berdengung tak karuan.


Anehnya, kenapa Rey kalah. Dimana tenaga supernya itu, ia malah mirip ayam sayur yang lembek. Tak bertenaga sama sekali, seolah kepiawaiannya dalam beladiri sirna seketika.


"Arma apa-apaan kamu ini? Mau bikin malu Bapak, mau sampai kapan kamu itu bikin rusuh melulu."


"Nih cowok lembek biang keroknya!" Arma mendorong tubuh Rey. Namun, ditahan oleh pria berkumis tebal itu.


"Maaf, Bapak, Ibu, atas perilaku putri saya ini." Pria bernama Baron itu meminta maaf sembari tersenyum canggung, menarik putrinya agar mau dibawa pulang.


Namun, lambaian tangan dan kedipan genit. Arma berikan kepada Alex, membuat semua mata tertuju kepada pria berbadan atletis itu.


"Gila tuh cewek, genit amat. Kayak cacing kepanasan, tapi tangguh," ucap Alex pelan.


Namun, terdengar oleh Sabrina dan mendadak tersinggung. Karena merasa dirinya bukan wanita tangguh, bela diri saja masih setengah yang dipelajari.


"Sayang, kok makannya selesai?" tanya Alex heran. Daging ikan yang sudah dipisahkannya dari durinya belum habis dimakan Sabrina.


"Mendadak kenyang," balas Sabrina melipat tanggan didada. Entah kenapa, serasa ada duri yang yangkut di hati Sabrina.


Ish, bener-bener payah, masa gitu saja jadi sewot sih. Suami bilang tangguh sama cewek lain, aku yang kebakaran ubun-ubun.


Alex menarik sudut bibirnya, pasti cemburu karena ulah gadis tadi. Senangnya hati Alex melihat Sabrina merajuk, momen jarang terjadi.


Saking senangnya serasa Alex berada ditaman bunga yang berwarna-warni dengan aroma harum mewangi.


Sedangkan Sabrina tertuju pada pemandangan bukit dan air terjun, ingin sekali kesana untuk merendam kepala yang terasa panas.


Tangan Alex yang kini melingkar dipinggang Sabrina membuyarkan lamunannya. Ditambal lagi rasa geli, Alex menghirup aroma parfum dileher Sabrina yang masih wangi walau berkeringat.


"Aku hanya menginginkanmu, Sayang," bisik Alex membuat bulu kuduk Sabrina meremang.


Sabrina masih diam, membuat Alex semakin berulah. Mengecup leher Sabrina lebih dalam lagi.


"Pipi malu depan umum." Sabrina membalikkan badan, mata mereka saling bertemu.


Senyum penuh kemenangan Alex tunjukan, setelah Sabrina berhasil digodanya. Tangan Alex mengulur, mengelus kepala Sabrina. Merapikan anak rambut yang berantakan menyelipkan kebelakang telinga. Berdamai dan kembali mesra, saling bercakap ria dan tertawa.


Lihat putra kesayanganmu, Pi. Alex kini sangat baik pada Sabrina, Papi juga pasti senang melihat Alex akur dan menghargai istrinya. Pi, Mami kangen, ucap Mami Tiwi dalam hati.


Derai air mata membasahi pipi. Rindu yang teramat dalam pada sang suami yang kini hanya tinggal kenangan.


Kecupan dan pelukan hangat dari Sabrina juga Alex berikan kepada Mami Tiwi. Membuat sedih hilang dan berganti ceria.


"Ada kami, Mi," ucap Alex dan Sabrina.


"Kalian harus janji sama Mami, apa-pun yang terjadi jangan pernah sampai berpisah. Teruslah bersama dalam kerukunan." Mami Tiwi mengelus kepala Alex dan Sabrina.


"Aku juga dong, Mi," tawar Rey sembari merajuk.


"Ah, kamu payah. Bikin Mami malu, masa kalah sama cewek sih," sindir Mami Tiwi merangkul Rey.


Membuat Alex tergelak, tertawa sepuas hati atas kekalahan Rey.