Hasrat Sang Majikan

Hasrat Sang Majikan
BAB. 96


Alex mengaduh kesakitan ketika Sabrina mengobati luka lebam di wajah, benar-benar kurang ajar si Andra itu menyuruh sang bodyguard memukuli Alex membabi-buta. Begitu juga Rey yang kini sedang diobati oleh Bibi An. Ia pun sama mengaduh karena merasa perih.


Luka yang dirasa semakin bertambah, akan tetapi Mami Tiwi tidak mau rasa itu terus berlanjut berkepanjangan sedangkan musuh kini sedang bertepuktangan akan keterpurukannya.


Air mata yang sejak tadi terus menetes membasahi pipi kini dihapusnya, tak boleh lagi bersedih walaupun nyatanya hati masih teriris perih akan kehilangan sosok suami yang sangat dicintai. Namun, jika Mami Tiwi lemah. Bagaimana dengan putranya--Alex pasti akan semakin terpukul. Apalagi perusahaan kini telah diambil alih oleh para penjahat terkutuk itu.


"Kamu harus mengikhlaskan rumah dan perusahaanmu diambil alih oleh Andra," ucap Mami Tiwi kemudian.


Alex tak terima apa yang menjadi miliknya harus diambil alih oleh orang lain. Sedangkan perusahaan otomotif dan showroom mobil miliknya itu adalah hasil dari kerja kerasnya sendiri, akan tetapi kenapa bisa perusahaannya pun diambil alih oleh Andra.


"Andra mengincar kelemahanmu sejak dulu, Lex. Dia memanfaatkan sikap plin-plan dan kebutaan cintamu pada Karlina, mereka bersekutu sejak lama. Sayangnya kamu tak menyadari hal itu."


Mendengar ucapan maminya membuat Alex malu dan kembali menyadari kesalahan dimasa lalu. Alex bangkit dari duduknya dan berlutut, bersimpuh memohon ampun pada sang mami atas kebodohannya. Mengakui selama ini terlalu naif dan dibutakan oleh jabatan serta harta yang berlimpah. Nyatanya apa yang dimilikinya itu hanya sebatas titipan yang sewaktu-waktu bisa hilang dari genggaman.


"Aku minta maaf, Mi. Terlalu banyak durhaka sampai lupa daratan," ucap Alex bersimpuh di kaki maminya.


Mami Tiwi membangunkan Alex. "Ini juga salah Mami karena sudah terlalu lalai dan tak bisa mendidikmu dengan baik."


Alex memeluk maminya. "Bukan salah Mami, aku yang suka membangkang dan tak mau menuruti perintah Mami. Aku janji akan merebut yang memang menjadi milik kita lagi."


"Tak perlu jika itu malah membahayakan dirimu, biarkan saja mereka berpesta pora dari hasil haram. Kita masih bisa bersama walau dalam kesederhanaan itu lebih baik. Kemarilah anak-anakku," titah Mami Tiwi kepada Sabrina dan Andra. Setelah itu saling memberi pelukan.


Alex menyusuri rumah terlebih dahulu sebelum rumah itu ditinggali oleh orang lain. Rumah ini adalah saksi dari kerja kerasnya selama ini, bagaimana mungkin bisa menjadi milik orang lain hanya dalam hitungan menit. Alex menuju kamar bersama Sabrina, menatap langit-langit kamar beserta isi-isi di kamarnya tersebut. Ingin selalu tetap disini bersama Sabrina dalam kedamaian. Alex duduk di tepi ranjang menghela nafas berat, setelah itu menggenggam jemari Sabrina yang kini duduk di sampingnya.


"Kini aku sudah sangat jatuh, masih maukah Mimi menemani," ucap Alex menunduk pasrah, wanita mana yang ingin hidup dalam kesusahan sedangkan kini ia tak punya apa-apa yang bisa dibanggakan.


Alex berusaha mengingat setiap kejadian yang mungkin berasa janggal untuknya dan setelah ingatan itu muncul Alex mengepal kuat. Andra pernah menyodorkan sebuah map berwarna biru menyatakan harus segera ditandatangani. Alex menuruti tanpa curiga, mereka masih akur kala itu. Andra berucap kalau berkas tersebut sebagai tanda kerjasama, dan saat itu Karlina sedang bermanja di pangkuan sampai Alex tak membaca terlebih dahulu surat yang sudah ditandatanganinya


Andra membalaskan dendamnya dengan cara yang sangat elegan namun kasar. Sudah berani menghilangkan nyawa seorang pria yang paling Alex sayang.


Sabrina menangkup wajah Alex yang berpaling darinya. Memberikan kecupan lembut di kening, mengatakan. Apa-pun keadaan Alex saat ini Sabrina akan tetap menemani.


Air bening itu tak tertahan, lolos membasahi pipi Alex. Bersimpuh, meminta maaf kepada Sabrina selama ini sudah menelantarkan dan menyia-nyiakannya.


"Tinggalkan saja aku, cari pria yang lebih baik yang bisa membuat Mimi bahagia." Alex terisak-isak.


Sabrina berjongkok mengimbangi Alex, menghapus air mata tersebut. Tak disangka seorang pria angkuh, sombong, mengobral cinta bisa menangis tersedu-sedu seperti ini. Usapan lembut Sabrina berikan di pipi Alex.


"Yakinlah, dari setiap kejadian pasti ada hikmahnya. Yang suatu hari nanti bisa kita petik hasilnya."


Alex memeluk Sabrina lagi, mengucapkan terimakasih sudah mau bertahan dalam keterpurukan.