Hasrat Sang Majikan

Hasrat Sang Majikan
BAB. 97


"Apa kamu nggak malu punya suami pendosa sepertiku?" tanya Alex melepas pelukannya, setelah itu berdiri kembali duduk di tepi tempat tidur.


Sedangkan Sabrina masih duduk dilantai, kepalanya bersandar di lutut Alex.


"Kenapa harus malu, tidak ada manusia yang bersih dari dosa termasuk diriku juga penuh kesalahan dan kekhilapan. Aku juga tak merasa diri ini benar, lebih baik kita fokus memperbaiki diri. Yang lalu biar berlalu menjadi pelajaran berharga agar kedepannya tidak terulang lagi."


"Kamu percaya aku akan berubah?" tanya Alex menarik tangan Sabrina agar kembali duduk disampingnya.


"Aku percaya, akan tetapi. Aku tidak janji untuk tidak pergi jika kesempatan ini Pipi khianati."


Alex melepas genggamannya dari tangan Sabrina, berjalan menuju jendela dan berdiri disana. Pikirannya melanglang buana, takdir hidup yang rumit kini harus dijalaninya.


Sabrina memeluk tubuh Alex dari belakang. "Aku sangat mencintai suamiku yang hebat ini."


"Aku tak sehebat dulu. Sekarang sudah sekarat."


"Kata Pak haji, sekarat itu jauh lebih menyakitkan. Pipi mau cepat mengalami hal itu."


Alex menggeleng cepat, membalikan tubuhnya memeluk Sabrina.


"Aku belum siap mati, dosaku masih bertumpuk. Apalagi musuhku masih berkeliaran." Alex mengecup bibir Sabrina sekilas.


"Terimakasih, sudah mau bersabar menghadapi pria bodoh sepertiku. Maaf untuk kesekian kalinya, selalu meremehkan dan menghinamu. Membatasi kegiatanmu sampai aku melarangmu kuliah dan mengurusi butik Mami. Penyesalan memang datang belakangan dan aku merasakan itu, sangat menyesal." Alex menunduk malu, menyadari dirinya yang kelewat batas. Entah apa isi otaknya saat itu. Alex pun tidak tahu dan tak mengerti.


Alex memeluk Sabrina erat, tak mau berpisah dengan wanita yang sangat dicintainya.


Mami Tiwi masuk ke kamar Alex, bertanya kepada putra dan menantunya. Apakah sudah selesai membereskan pakaian? Namun, ternyata belum. Alex merasa berat meninggalkan rumah yang sudah lama ia tempati, mengingat betapa semangatnya mengembangkan usaha agar bisa memiliki rumah dari hasil jerih payahnya sendiri.


Mengelus pundak Alex yang kini Mami Tiwi lakukan agar putranya tetap tegar dan sabar. Badai pasti akan cepat berlalu dan berganti dengan warna pelangi yang sangat indah.


"Biar Mami bantu berkemas."


Alex memperhatikan gerak-gerik maminya, wanita yang selalu nampak anggun dan cantik itu terlihat begitu tegar. Walau nyatanya Alex tahu dalam hati maminya itu pasti sangat teriris perih, baru saja ditinggalkan oleh sang suami. Kini harus menerima pahitnya menjadi gelandangan, entah ke mana mereka akan pergi.


Tidak banyak yang mereka bawa, hanya pakaian seadanya saja dan beberapa barang berharga lainnya yang mungkin bisa dipakai bekal untuk mencari tempat tinggal baru.


"Rey, aku tak bisa lagi menggajimu. Kamu bisa mencari majikan baru yang lebih mensejahterakan." Alex tersenyum getir dan memberi sisa upah milik Rey yang belum dibayarkan dari sisa tabungan.


"Aku sudah berjanji setia dan tak akan mencari majikan baru. Karena Mami dan Tuan adalah keluarga terbaik yang aku miliki, masalah tempat tinggal tak perlu khawatir. Bukankah rumah yang aku miliki adalah pemberian dari Tuan dan layak untuk ditempati bersama."


"Iya, Mami. Bibi juga nggak akan mencari majikan baru, Mami yang terbaik," lanjut Bibi An.


"Terimakasih untuk semuanya," ucap Mami Tiwi menyeka air matanya karena terharu.


Terimakasih pada pembacaku yang baik hati. Masih mau mendukung Alex dan Sabrina. 🙏😘