
Mami Tiwi sudah berada di kamar Sabrina, ternyata gadis itu tidur. Ia duduk di tepi dipan memperhatikkan wajah Sabrina dan mengelus pipinya, seketika air mata menetes membasahi pipi. Mami Tiwi merasa kasihan, seharusnya gadis baik dan polos ini tidak mendapatkan pria seperti putranya yang suka bermain wanita. Namun, suratan takdirlah yang sudah mempertemukan keduanya dalam sebuah ikatan.
"Mami, maaf aku ketiduran."
"Kamu tidur lagi saja, maaf Mami sudah mengganggu istirahatmu." Mami Tiwi mengecup kening Sabrina, dan menyelimuti gadis itu.
***
"Sial! Kenapa harus gagal, menyingkirkan wanita tua dan gadis cupu gitu saja nggak becus. Sekarang malah mendekam dipenjara, bodoh!" umpat wanita berambut ikal tersebut, melempar gelas yang berisi minuman beralkohol ke lantai. Rencana yang seharusnya berjalan mulus, berakhir berantakan. "Apa yang harus aku perbuat sekarang, haruskah aku yang melakukannya sendiri. Ya, sepertinya begitu. Kini aku yang akan turun tangan, dengan cara kasar itu tak mungkin. Dengan cara halus pasti bergasil."
Dengan penuh rasa percaya diri si wanita merasa rencana baru yang akan di susunnya pasti berhasil. Menyeringai penuh keangkuhan wanita itu lakukan, berjalan gontai kearah jendela yang terbuka. Berdiri disana menyesap nikotin dan membuang asap tersebut keudara.
Tak ada yang bisa bermain-main lagi denganku, gumamnya angkuh. Melempar sebatang roko yang tinggal setengah itu keluar dari jendela. Setelah itu tertawa, menyenangkan diri dari kegagalan yang di dapat dan keberhasilan yang akan diraih. Walau kenyataannya belum pasti berhasil, akan tetapi wanita berambut ikal itu teramat yakin akan keberuntungannya.
Ponsel milik wanita itu berdering. Senyumnya mengembang sempurna, usai mengetahui siapa yang meneleponnya. Berniat mempermainkan, segera mematikan ponsel miliknya. Ingin mengetahui keseriusan sang pria mengejarnya kembali.
***
Sabrina sedang asyik membaca buku di kamar. Tak lama terdengar suara pintu terbuka, membuat gadis itu menoleh kearah pintu.
"Tuan!" Sabrina terkejut.
Alex tiba-tiba saja memeluknya. Ekspresi wajah yang sulit diartikan antara marah dan rindu yang menggebu, menghujani Sabrina dengan banyak kecupan di wajah. Namun, Alex mencengkram tangan Sabrina dengan kasar. Setelah itu ia berbisik.
"Kamu senangkan dipegang Andra seperti ini. Apalagi yang pria itu lakukan, hah? Aku sudah bilang, jangan dekat-dekat dengan pria lain sebelum pernikahan ini berakhir. Jangan membuatku malu, Sabrina!" sentakan itu keluar dari mulut Alex. Sampai akhirnya Alex hilang kendali dan merasai Sabrina dengan sangat memaksa.
"Apa kamu puas, Sabrina?" tanya Alex dengan tatapan yang sangat membingungkan.
Sabrina terdiam, bukannya merasa senang dengan sentuhan. Tubuhnya malah terasa linu, luka memar di badan akibat pukulan para penjahat itu masih terasa.
"Kenapa kamu menangis? Belum puaskah dengan kenikmatan yang aku berikan." Ada guratan kepanikan dari pertanyaan itu.
Alex menyuruh Sabrina duduk, pria itu meneliti tubuh Sabrina dari depan sampai belakang. Ternyata masih ada memar di bagian punggung dan tangan, masih terlihat sedikit kemerahan.
"Apakah ini masih sakit?" tanya Alex mengelus luka memar tersebut di punggung Sabrina.
"Iya, sedikit."
Refleks Alex memberikan sapuan lembut disetiap luka memar tesebut, ada desiran rasa bersalah menyelesup ke dalam kalbu terdalam.
*Kenapa ego dan amarahku selalu kalah oleh air mata wanita ini? Mantra apa yang gadis cupu ini berikan. Sampai membuatku tak berdaya.
♥️
♥️*
Selamat membaca, semoga masih setia menunggu kelanjutan cerita ini. Tanpa dukungan dari pembaca othor bukanlah apa-apa.