Hasrat Sang Majikan

Hasrat Sang Majikan
BAB. 78


"Tuan, kenapa lesu seperti itu?" tanya Rey, saat melihat kedatangan Alex ke villa dengan raut wajah lemas sekaligus kecewa. "Mana Non Sabrina?" Rey kembali bertanya, celingukan mencari sosok majikannya.


Alex menjatuhnya tubuhnya ke sofa, menghela napas berat sembari mengusap wajahnya kasar. Setelah itu menggelengkan kepala. "Sabrina marah, Rey. Aku gagal membawanya."


Rey ikut duduk di sofa samping Alex. "Sudah aku bilang, jangan terburu-buru memberi tahu kebenaran diri Tuan."


"Tapi aku sudah rindu, Rey. Kamu nggak mengerti." Alex menatap Rey nyalang. "Bersama Xander Sabrina selalu tertawa gembira, dia nyaman saat bersama pria bertompel. Nyatanya itu adalah diriku sendiri."


Alex mendengkus, kembali menyalakan rokok. Entah sudah berapa cerutu yang dihabiskan. Sangat terlihat prustasi. "Aku cemburu Sabrina lebih menyukai Xander," ketusnya.


"Cemburu pada diri sendiri." Rey menahan bibirnya agar tidak tertawa. "Kalau begitu, jadilah Xander dengan wajah Alex."


"Sabrina sudah terlanjur marah," jawab Alex lesu, pria itu terlihat menarik napas dalam dan menghempaskan keudara.


Rey memberi saran agar Alex mengikuti cara Xander untuk menghibur Sabrina jika marah. Namun, jawaban Alex kalau Sabrina tak pernah marah kepada Xander.


"Berarti Xander tidak ngeselin seperti, Tuan." Kali ini Rey tertawa. Tak peduli walau Alex menatap tajam padanya.


"Tutup mulutmu, atau aku sumpal pakai pot bunya," ancam Alex. Namun tak membuat Rey berhenti tertawa.


"Pantas saja Non Sabrina malas bertemu dengan, Tuan. Tak bisa diajak bercanda sih, ngeselin. Nah, Xander sepertinya lebih nyenengin dan sabar. Heum ... sangat aneh." Rey menggelengkan kepala, sekeras mungkin membayangkan prilaku Xander.


"Baiklah, aku akan menjadi Xander kembali." Alex seketika menjadi semangat. Ia ingin bisa bicara sembari tertawa riang lagi bersama Sabrina.


"Jadilah diri sendiri, Tuan. Tak perlu menjadi orang lain untuk mendapatkan Nona Sabrina. Cukup perbaiki diri menjadi lebih baik."


"Terimakasih," ucap Alex membuat Rey ternganga, seumur mengikuti Alex. Baru kali ini ia mengucapkan terimakasih.


Alex memang tak salah memiliki bawahan sekaligus teman terbaik seperti Rey.


**


Alex dan Rey meluruskan kesalah pahaman yang terjadi. Meminta maaf atas kesalahannya dan berjanji akan menjadi suami yang baik untuk Sabrina dan melindunginya. Alex juga menyobek surat perjanjian yang pernah dibuatnya dulu saat awal menikahi Sabrina.


Namun sayang, Sabrina masih belum luluh dan gadis itu sama sekali tak mau menemui Alex, berdiam diri di kamar.


"Bibi harap, Tuan Alex bersungguh-sungguh dengan janji itu."


"Aku bersungguh-sungguh, Bi. Setelah Mami sembuh total, kita adakan resepsi pernikahan," ucap Alex penuh keseriusan.


"Tak perlu, aku mau cerai saja!" gertak Sabrina, gadis itu keluar dari kamar dengan rambut yang berantakan dan mata sembab. Sepertinya tak henti menangis semenjak kejadian tadi siang.


"Kenapa, Sabrina? Dan aku tak akan pernah menceraikanmu." Alex berdiri, berjalan mendekati gadis itu.


Sabrina mundur, tak mau berdekatan dengan buaya buas yang menyebalkan.


Alex terus mendekati, sampai tubuh Sabrina mepet ke pintu kamar yang tertutup. "Berikan aku kesempatan," ucap Alex penuh harap, pria itu kini begitu dekat sampai Sabrina bisa merasakan desiran napas menyentuh wajahnya.


Sabrina mendorong tubuh Alex. "Menjauhlah dariku!" sentaknya masuk kembali ke kamar sembari membanting pintu.


Awalnya Alex pikir, Sabrina akan mudah memaafkannya. Ternyata sangat membutuhkan perjuangan untuk membuktikan kalau kali ini ia benar-benar serius dengan ucapannya.


"Nanti Bibi bantu bicara pada Sabrina," ucap Bi Eis meyakinkan.


"Iya, Bi. Mohon bantuannya," ujar Alex.


Ditengah percakapan yang sedang terjadi. Ponsel Alex berdering dan segera menekan tombol hijau yang tak berhenti berkedip itu.


"Tunggu aku di apartemen," ucap Alex dan mematikan ponselnya.