Hasrat Sang Majikan

Hasrat Sang Majikan
BAB. 118


"Arma, Sabrina. Kalian yakin tidak ikut makan?"


Zayran mencoba mencairkan suasana di meja makan.


Tetapi tidak ada yang menyahut, hening yang tercipta. Raga keduanya hidup, tetapi hati mereka mati. Larut dalam kesedihan.


"Tidak, Tuan. Kami permisi ke kamar," pamit Sabrina dan Arma.


"Mau sampai kapan kalian menyakiti diri seperti itu, kesedihan yang berkepanjangan tak akan pernah menyelesaikan masalah. Mau balas dendam itu butuh tenaga, kekuatan pisik dan mental."


Arma dan Sabrina menoleh pada pria yang kini berdiri dengan penuh keangkuhan. Keduanya kembali duduk, mengurungkan niat ke kamar. Mereka berdua meminta pada Zayran untuk mencari keberadaan Andra.


"Itu mudah, asal janji kalian juga harus ditepati."


"Sebenarnya siapa yang Tuan cari, jauh-jauh datang ke Indonesia?"


Zayran mengambil dompet, mengeluarkan foto yang telah usang. Memperlihatkannya pada Sabrina.


Seketika air mata Sabrina kembali menetes. Membuat Zayran heran dan mengajukan pertanyaan.


"Kamu kenal, Sabrina?"


"Pria di foto ini adalah mertuaku dan anak remaja ini adalah suamiku yang dibantai Andra."


Zayran tercengang. Mengusap dada yang bergemuruh hebat akibat luapan sesal dan amarah yang membara. Pertemuan dan fakta yang sangat menyakitkan.


"Wilson namanya," jelas Zayran lagi terbata.


"Iya, beliau Ayah mertuaku yang baik hati yang telah menaikan derajat seorang gadis desa sepertiku. Sedangkan remaja dalam foto adalah Alexander Wijaya, suami yang sangat aku cintai."


Zayran masih terlihat bingung. "Apa Wilson dan Tanto Wijaya adalah orang yang sama?"


"Iya," balas Sabrina dengan penuh keyakinan. Menyeka air mata yang terus membanjiri pipi.


Pria bertubuh jangkung itu lunglai, kembali duduk sembari memijat pelipis.


"Aku berhutang budi pada mereka."


"Bisakah, Tuan menolongku mengembalikan suamiku?"


Mata sayu Zayran menatap penuh iba pada Sabrina.


"Apa kamu yakin Alex masih hidup?"


"Sangat yakin."


Zayran merogoh saku celananya. Mengambil benda pipih yang sejak tadi bergetar.


"Laksanakan perintahku, fotonya sudah aku kirim. Andra harus membalas setiap rasa sakit yang keluarga Wilson rasakan."


**


Tubuh kurus tak berdaya itu dalam ikatan. Mengemis meminta segelas air, tetapi hanya sebuah cipratan air yang didapat. Walau begitu pria itu masih bersyukur bisa menikmati air yang mengenai wajahnya.


"Dekil, siapa yang ingin melihatmu."


Andra seolah tak bosan memaki pria yang sudah tak berdaya itu.


"Lex, kamu tahu. Sabrina tadi ada menelponku, dia bilang mencintaiku."


Seulas senyum terbit dari wajah yang kini ditumbuhi janggut tipis itu.


"Jangan terlalu banyak tertawa, nanti kamu menangis."


"Sial!"


Andra ingin menendang, tetapi tak jadi.


"Aku tidak mau mengotoro kaki ini, berikan dia makan. Agar bisa mempunyai tenaga menyaksikan pernikahanku dengan Sabrina."


Langkah lebar itu berlalu pergi diiringi tawa ceria, seolah kemenangan akan dimiliki.


"Aku percaya padamu, Sabrina," ucap Alex.


"Non Sabrina tidak akan pernah berhianat, Tuan," ujar Rey membangunkan Alex agar berdiri. Mereka berdua menikmati makanan sederhana di penjara bawah tanah. Andra sengaja membuat tempat tersebut agar Alex dan Rey tak ada yang menemukan.


Sedangkan Mami Tiwi menjadi pembantu di rumah Andra begitu juga Bibi An.


"Memasaklah yang enak Mami. Ada kejutan yang ingin aku berikan untukmu," ucap Anda dengan wajah ceria.


"Bukannya, aku selalu memasak yang enak untukmu."


"Ini harus spesial, Sabrina akan kemari. Pasti nama itu membuatmu senang, bukan? Tetapi bukan untuk memberimu kebahagiaan, melainkan kekecewaan."


"Tidak perlu banyak mengancam, jangan sampai kecewa yang kamu dapat. Orang yang terlalu tinggi hati akan jatuh sedalam-dalamnya."


"Hah, aku tak peduli dengan ancamanmu."


Andra menuju kamar, berdiri dekat jendela yang terbuka. Menghela napas panjang, resah yang kini dirasanya, rasa bersalah berkepanjangan menghantui pikirannya.


"Seharusnya tak begini," gumamnya mau ngusap wajah.


Sebuah foto yang tergantung didinding kamar menjadi kenangan yang menyakitkan untuk Andra. Setelah menemukan fakta yang membuatnya dipenuhi rasa bersalah.


"Kenapa, Pah?"


Setetes air mata jatuh membasahi pipi. "Aku sudah terlalu sesat melangkah dalam jurang kegelapan."