Hasrat Sang Majikan

Hasrat Sang Majikan
BAB. 73


Karlina merasa senang, ternyata mudah sekali mencari informasi. Uang memang memudahkan jalannya, kebersamaannya dengan Alex selama ini membawa dampak baik bagi Karlina. Mempunyai para bodyguard yang gampang dibodohi, mengatasnamakan Alex dalam setiap rencana jahatnya.


Termasuk menyingkirkan Sabrina. Karlina mengatasnamakan Alex yang memerintah mereka, wanita ular itu ingin mengadu domba Alex dengan orang tuanya.


"Sabrina, wanita malang. Siapa yang bisa menolongmu." Karlina tertawa, tak sabar dengan kabar kematian Sabrina.


Setelah itu. Ia bisa menguasai Alex seutuhnya dan orang tuanya pun tak akan bisa berkutik sama sekali. Sangat menyenangkan. Karlina yakin, kalau Alex belum meninggal. Karena dia sendiri yang sudah membuat rencana kecelakaan tersebut, agar kedua orang tua Alex menjadi resah.


Namun sayang. Dengan adanya kabar kematian Alex akibat kecelakaan tak membuat pria itu keluar dari persembunyiannya. Ada kekhawatiran pada diri Karlina kalau Alex mulai mencium niat jahatnya.


Akan tetapi pria itu terlalu takluk pada pesonanya, sikap plin-plan Alex lah yang selalu Karlina manfaatkan. Kecuali jika Alex mulai mencintai Sabrina, maka semua rencananya bisa gagal. Hal itulah yang kini membuat resah Karlina dan ingin melenyapkan Sabrina.


Alex mulai berubah semenjak ada Sabrina. Tak lagi ada kehangatan sebuah sentuhan yang Alex berikan padanya. Pria itu sering menghindar dan banyak alasan jika Karlina meminta sebuah belaian mesra.


**


Sudah dua hari ini Sabrina merasa tidak tenang, banyak kejanggalan di rumah yang kini ditempatinya. Apalagi Mami Tiwi tak bisa dihubungi, ada apa ini?


Suara bel kembali berbunyi, sudah ketiga kalinya Sabrina dan Bi Eis membuka pintu. Namun, tak ada orang. Dan lagi dimana para pengawal yang menjaga rumahnya? Mereka sama sekali tak terlihat batang hidungnya.


"Bi, aku takut," ucap Sabrina, keringat dingin mulai membasahi dahi.


Bi Eis memegang tangan Sabrina. "Tenang, biar Bibi yang buka pintu," jawabnya sembari memegang tongkat baseball.


Perlahan Bi Eis membuka kunci dan setelah itu memegang kenop pintu sampai pintu terbuka, tak ada orang lagi. Siapa yang menjahili? Sangat menyebalkan, apalagi waktu sudah menunjukkan jam sebelas malam, keadaan sekitar rumah mulai sepi. Para tetangga sepertinya sudah pada tidur.


"Ayo Sabrina, kita tidur saja. Abaikan orang iseng yang nggak penting ini." Bi Eis menutup pintu kembali, belum sempat dikunci pintu kembali terbuka lebar karena didorong paksa oleh empat pria tak dikenal, wajah mereka memakai kupluk sehingga tak dapat dikenali.


"Kalian menyakiti Bibiku." Sabrina terpojok, tak ada celah untuk lari dan melawan empat pria berbadan kekar tersebut.


"Gadis cantik, ayo ikut!" tangan Sabrina diseret paksa. Mulutnya dibekap agar tak bersuara. Menangis yang Sabrina lakukan, apalagi melihat bibinya tergeletak dengan luka memar di pipi akibat pukulan demi membelanya.


Sabrina kembali melawan, menggigit tangan pria yang membekapnya dan memberi tendangan pada aset berharga si pria.


"Kurang ajar, cari mati. Jangan lari!"


"Kejar wanita itu, dasar bodoh!"


Berlari di kegelapan malam menyusuri jalanan sepi untuk meminta pertolongan. Tak boleh menyerah dengan keadaan, ia harus bisa menyelamatkan diri.


"Mau kemana kamu, hah!" Sebuah tamparan mendarat di pipi Sabrina, rasanya sangat perih. Sudut bibirnya sampai berdarah. Sabrina tak bisa lari cepat layaknya superhero, jika dia dikejar dengan motor. Tenaganya nggak akan kuat menandingi kuda besi yang mereka tumpangi.


"Apa mau kalian?" tanya Sabrina dengan nafas terengah-engah, letih. Tenggorokannya terasa kering karena berlari.


Seorang pria berambut gondrong mengamati Sabrina dari atas sampai bawah. "Mulus, tak boleh disia-siakan."


"Jangan mendekat, aku akan teriak." Sabrina gemetaran, bingung harus melakukan apa dalam situasi tegang seperti ini. Mereka berempat dan membawa senjata tajam, sedangkan Sabrina hanya seorang diri dengan tangan kosong.


"Disini jalanan sepi, disamping kirinya juga semak-semak," jawab pria itu menarik paksa tubuh Sabrina.


"Jangan, lepaskan!"


Bugh.