
"Minta maaf untuk apa?" Sabrina merasa bingung. Matanya tak lepas menatap manik mata yang penuh keseriusan itu.
"Karena sup yang kamu makan itu ada racunnya." Alex tergelak.
Sedangkan Sabrina panik bukan main, sampai memuntahkan makanan di mulutnya. Ia terbatuk-batuk karena tersedak, akan tetapi takut untuk minum.
Alex tertawa terpingkal melihat Sabrina kocar-kacir tak karuan, apa yang harus Sabrina lakukan jika racun itu sampai menyebar ketubuh. Pria itu benar-benar kejam tak berperasaan.
"Katanya mau mati, bunuh diri, candain segitu saja sudah panik. Modus ancamanmu itu." Alex memeletkan lidah.
Sabrina mengejar Alex yang berlari ke kamar sambil membawa sapu hendak memukul pria menyebalkan itu. Alex kembali tergelak menahan pukulan tangan Sabrina, mengungkung tubuh gadis itu dalam dekapan. Alex menarik cepat tubuh Sabrina ke dalam kamar mandi.
Teriakan Sabrina tak dipedulikan, toh nggak akan ada yang mendengar teriakannya. Alex kembali menyentuh bibir lembut itu dibawah guyuran shower, tangannya kembali nakal menjelajah kemana-mana. Kali ini suasananya berbeda, tak ada kekasaran. Hanya kelembutan yang dirasa, membuat Sabrina terbuai seakan melayang keangkasa.
Sentuhan demi sentuhan Sabrina rasakan tangan mahir itu membuat mulut yang tertutup rapat mengeluarkan suara lenguhan kecil yang tertahan, keduanya semakin terbuai dalam kenikmatan dunia yang sedang mereka lakukan sekarang, sampai tak menyadari yang dipakai sudah ditanggalkan.
Bermain di bawah guyuran air membawa sensasi yang berbeda, melakukan pemanasan agar hasrat keduanya semakin memuncak. Setelah itu berpindah ke tempat tidur dan melanjutkannya kembali di sana. Ini kali pertama Sabrina merasakan sebuah kelembutan sampai terbuai dengan kenikmatan, tak ada penolakan. Sabrina merasakan sebuah kenyamanan, seandainya Alex selalu seperti ini bersikap lembut, ternyata rasa ini sungguh mengenakan.
Selesai dengan kegiatan yang menguras keringat itu. Alex memeluk pinggang ramping Sabrina mereka berdua terlelap di bawah selimut tebal yang menutupi tubuh keduanya, rasanya damai. Sangat berbeda, dia merasakan sesuatu namun entah apa itu. Alex sendiri tak tahu akan jawabannya yang pasti ia merasa puas.
Sore harinya selesai membersihkan badan. Sabrina dan Alex duduk di ruang televisi, menonton bersama sambil memakan cemilan yang sudah mereka buat bersama, benar-benar damai. Alex sampai bermanja tiduran di pahanya.
Tidak ada penolakan dari Sabrina. Toh, Alex suaminya selagi pria itu memperlakukannya lembut. Kenapa tidak walau sekedar bermanja dan jika memintanya tidur kembali diranjang tak jadi masalah, asalkan tidak ada kekerasan. Namun, entah sampai kapan kelembutan ini akan mengiringi mereka, melihat sikap Alex yang selalu berubah-ubah. Sabrina takut kecewa dari bahagia yang kini sedang dia rasakan.
"Aku sering menyusahkanmu, bagaimana kalau kita berdamai." Alex membalikkan kepala menghadap Sabrina.
"Bukankah sekarang kita sudah berdamai dan lagi Tuan tidak menyakitiku seperti yang sering dilakukan sebelumnya."
"Apa kamu percaya, jika aku bercerita," ucap Alex, diiringi anggukan oleh Sabrina.
"Aku adalah seorang putra yang sangat kesepian, tempat inilah tempat satu-satunya curahan kesepianku, kamu tahu Sabrina." Alex menganti posisi, duduk menghadap gadis menatapnya lekat.
Saking kecewanya dengan sikap kedua orang tuanya itu. Alex memilih menyendiri di tempat ini, dimana tidak ada yang tahu akan tempat persembunyiannya ini, mencurahkan setiap keluh kesah di tempat ini sampai pada akhirnya setelah ia menginjak remaja. Mencoba mencari kesenangan baru bermain di klub malam mabuk-mabukan dan berakhir di atas ranjang.
Terutama saat ia mengenal Karlina. Gadis itu seakan memberi warna untuknya, memperhatikan, menyayanginya. Sampai terbuai kalau Karlina benar-benar wanita yang dikirimkan Tuhan untuk memberikan kebahagiaan. Namun hal itu nyatanya salah, terbuai permainan di atas ranjang membuat Alex semakin salah jalan sampai bergonta-ganti pasangan mencari kepuasan.
Namun sayangnya, dunia gelapnya itu sama sekali tak memberinya kebahagiaan hanya amarah yang mengungkung jiwanya. Ia malah sering bertengkar dengan Mami dan Papi nya saat mengetahui semua perilaku buruknya. Mami dan Papi sempat meminta maaf, karena merekalah kehidupan Alex hancur. Sempat ingin berhenti dari permainan ranjangnya itu. Namun ternyata, nafsu dirinya terlalu membara dan sangat sulit untuk ditinggalkan. Ia selalu ingin dan ingin melakukan itu sampai ia benar-benar merasa puas.
Bermain dengan Karlina sering Alex lakukan. Walaupun dia tahu bukan yang pertama bagi Karlina. Namun, tetap saja Alex terbuai dengan setiap permainannya. Terkadang Alex merasa bingung sendiri dengan perasaannya. Apakah itu yang dinamakan cinta? Alex pun tidak tahu karena belum pernah merasakan cinta, yang Alex tahu ia hanya selalu menginginkan Karlina berada disampingnya. Namun kali ini saat bersama Sabrina ada sedikit denyutan yang berbeda dalam hati, entah apa itu. Alex pun tak tahu dan tak bisa menguraikan rasa itu.
Kini Sabrina tahu, pria di depannya ini masih mempunyai hati cuma caranya saja yang salah. Ia melampiaskan setiap amarahnya kedalam sebuah lembah yang sangat menistakan dirinya sendiri.
Elusan lembut jari lentik itu mendarat di kepala Alex, Sabrina merasa kasihan. Ingin menjadi bagian dari kesepian pria itu.
"Kamu percaya dengan ceritaku?" tanya Alex memastikan.
"Iya, aku percaya," jawab Sabrina sendu.
Alex tergelak. "Sayangnya cuma dongeng belaka." Alex menggelengkan kepala, setelah itu mencubit hidung Sabrina.
Kesal merasa dipermainkan. Sabrina menggigit jari telunjuk Alex, sampai sang Tuan berteriak kesakitan.
"Kamu itu memang suka gigit-gigitan ya!" teriak Alex, menyusul Sabrina pergi keluar vila.
Sabrina tak menjawab, gadis itu duduk disebuah bangku panjang samping vila memberi makan ikan.
"Kalau memang itu sungguh terjadi kepadaku, apa tanggapanmu gadis cu ...."
"Cupu maksudnya, aku tak peduli lagi dengan dongengmu itu Tuan. Mau kenyataan, pun tak peduli yang akhirnya hanya sebuah kebohongan."
Alex tiba-tiba saja memeluk Sabrina, membuat gadis itu merasa sesak. "Gadis cupu yang lucu," ucap Alex melepas pelukannya, setelah itu mencubit gemas kedua pipi Sabrina.