Hasrat Sang Majikan

Hasrat Sang Majikan
BAB. 11


"Kemana Sabrina?" tanya Tiwi, usai melihat Alex menuruni tangga siap untuk joging.


"Dia lagi main air," jawab Alex singkat. Buru-buru pergi sebelum ada ledakan bom atom.


Tiwi menuju kamar, mendapati Sabrina yang pucat di kamar mandi dengan baju masih basah. "Alex! Bule arab kurang ajar!" Suara Tiwi menggelegar, ledakan bom atom itu sudah terjadi.


Alex tak peduli, mengambil kesempatan untuk lari menemui kekasihnya dengan menaiki motor.


Tiwi melihat kepergian Alex dari kamar. Ia benar-benar geram, kewalahan dengan sikap putranya yang semakin menjadi.


"Alex tak memukulmu 'kan, Sabrina?" tanya Tiwi khawatir, kalau Alex akan mengasari Sabrina.


"Tidak, Mi. Tapi aku semalam tak bisa tidur sama sekali."


Mata Tiwi terbelalak. "Alex menyentuhmu lagi?"


"Tidak, aku hanya disuruh untuk tidak tidur saja. Kepalaku pusing, Mi."


Tiwi mengajak Sabrina sarapan, setelah itu Tiwi memberinya obat dan menyuruh gadis itu untuk tidur.


"Hukuman apa yang pantas untuk anak kita itu, Pi. Tangan Mami sudah gatal, ingin memberikan tinjuan pada si bule arab itu."


"Tenang, Mi. Nanti darah tinggi Mami kumat lagi, Papi nggak mau Mami sampai sakit."


"Gimana nggak darah tinggi jika kelakuan Alex menjengkelkan,"


Tanto memegang bahu Tiwi. "Papi tahu, kita atasi sama-sama si bule kampret itu."


"Bener ya, Pi." Tiwi menyandarkan kepala dibahu Tanto.


***


"Untuk apa kamu kesini, bukannya sangat sibuk? Sampai aku kamu acuhkan." Karlina mengerucutkan bibir, melepas pelukan Alex dan duduk di tepi dipan.


"Sayang, jangan acuhkan diriku. Oke, aku minta maaf." Alex duduk sejajar dengan Karlina. "Ini hadiah untuk kekasih tersayangku." Alex memberikan sebuah cincin berlian yang berkilau, menyilaukan mata Karlina.


"Jangan merayuku, aku sangat marah dan tak akan terlena oleh pemberianmu." Karlina memalingkan muka, berjalan menuju jendela dan berdiri disana. Melipat tangan memasang wajah masam.


Alex mengangkat dagu Karlina, seharusnya menjadi momen yang romantis karena sudah beberapa hari mereka tak bertemu. Namun, ternyata kekasihnya itu malah marah dan bersikap acuh kepadanya. Alex kembali merayu agar sang kekasih bersikap manis lagi kepadanya.


"Lantas, apa maumu." Alex menggenggam kedua tangan Karlina, mengecupnya mesra.


"Nikahin aku."


Ada jeda sebentar sebelum Alex menjawab. "Tapi ..." Tertegun dan bimbang, haruskah Alex memberi tahu Karlina atas pernikahannya dengan Sabrina. Belum saatnya ia tahu, tapi bagaimana jika Karlina mengetahui dari orang lain. Alex tak mau kehilangan kekasih tercintanya itu.


"Tapi apa? Kenapa kamu ragu untuk melanjutkan ucapanmu, jangan bilang kamu tidak setuju untuk menikah denganku." Karlina menghempaskan tangannya menjauh dari Alex.


"Bukan begitu, kamu tahu sendiri kalau Mami belum juga mau merestui hubungan kita. Dan aku malas jika harus bertengkar dengan Mami dan Papi.


"Usaha dong, kamu bujuk Mami dan Papimu. Katakan kalau aku adalah wanita yang pantas untuk menjadi pendampingmu."


"Tak semudah itu merayu Mami dan Papiku, Sayang. Kamu harus mengerti itu." Alex memegang bahu Karlina.


"Tapi aku capek dengan hubungan kita yang tak menentu ini, pacaran sembunyi-sembunyi. Bawa aku kerumah untuk bertemu Mami, izinkan aku agar bisa lebih dekat dengannya."


"Mami sudah mengetahui hubungan kita, apa yang tak pernah Mami bisa cepat ketahui."


"Itu bagus, Mamimu pasti akan sangat menyukaiku."


Alex duduk di sofa, memegangi kepalanya. "Aku sudah dinikahkan dengan wanita lain oleh Mami, maaf."