
Mami Tiwi sedang menangis di pelukan suaminya. Setelah melihat berita di televisi, seorang pemuda tewas jatuh ke jurang. Motor yang ditumpanginya sampai meledak karena menimpa bebatuan. Ciri-ciri pria itu sama persih dengan Alex, apalagi dalam satu minggu ini Mami Tiwi tidak bisa mendapatkan informasi keberadaan putranya itu.
"Bagaimana ini, Pi? Alex ...."
Menyesal telah mengusir putranya dan malah berakhir tragis. Alex meninggal dalam keadaan sangat memprihatinkan, wajahnya rusak sampai tak bisa dikenali dan luka bakar di tubuh Alex cukup parah. Namun, Mami Tiwi yakin itu adalah putranya. Postur tubuhnya persis sekali, tak salah lagi. Itu adalah Alex.
Menjerit histeris yang kini Mami Tiwi lakukan. Setelah itu tak sadarkan diri karena terlalu syok. Kabar meninggalnya Alex menjadi topik utama di stasiun televisi. Ada yang berasumsi kalau Alex itu sengaja bunuh diri karena sudah diusir oleh kedua orang tuanya dan tak bisa hidup susah.
Ada juga yang mengatakan kalau Alex putus cinta jadinya gelap mata dan melakukan bunuh diri. Ada juga yang mengatakan sebuah kecelakaan yang disengaja oleh musuh bisnisnya.
Mayat Alex sudah dikebumikan. Mami Tiwi tak hentinya menangis di pusara putranya itu sembari meminta maaf. Orang tua mana yang akan rela ditinggal mati oleh putranya apalagi dalam keadaan tragis. Papi Tanto terdiam membisu, masih tak percaya kalau putranya bisa pergi secepat ini.
Rasanya baru kemarin. Ia memarahi Alex dan sekarang harus terpisah untuk selamanya. Tak akan ada lagi Alex yang membuatnya kesal, air mata yang sejak tadi tertahan pun tumpah juga membasahi pipi. Ingin bersikap tegar demi sang istri nyatanya kerapuhan itu tak dapat disembunyikan.
"Mami, ayo kita pulang. Ini sudah sore," ajak Papi Tanto, prihatin melihat sang istri duduk lemah tak berdaya sembari memegangi pusara putranya.
"Mami masih mau disini, Pi. Menemani Alex, kasihan putra kita sendirian," jawabnya berderai air mata.
"Jangan seperti ini, Mi. Nanti sakit." Rey mencoba membujuk dan akhirnya Mami Tiwi bisa dibawa pulang ke rumah walau dalam keadaan tak sadarkan diri.
**
"Sabar, Sabrina. Ini ujian." Bi Eis memberikan Sabrina minum, sejak tadi gadis itu terus menangis tanpa henti.
Menjadi janda di usia muda rasanya seperti mimpi. Sabrina masih tak percaya kalau Alex sudah meninggal, kenangan kebersamaan pun bermunculan dalam benak membuat airmata Sabrina kembali mengalir deras.
Kenapa saat perpisahan tak bisa melihat wajah suaminya terlebih dahulu. Alex memang sangat menyebalkan. Akan tetapi rasa kehilangan jauh lebih menyakitkan. Sabrina mengelus foto Alex yang ia simpan di ponsel, saat mereka sedang asik menyantap ikan bakar kala itu. Sangat menyenangkan, ingin kembali merasakan momen itu dengan penuh cinta dan sayang. Namun, kini hal itu hanya akan menjadi angan yang tak akan pernah bisa jadi kenyataan. Alex sudah pergi untuk selamanya meninggalkan Sabrina dengan penuh kenangan.
"Tuan," lirih Sabrina. Hatinya hancur berkeping, perih, terasa teriris sembilu. Seharusnya Sabrina senang, bukan. Alex tak akan lagi menyentuhnya, mengatai, memerintah dan menjahilinya. Akan tetapi, Sabrina malah rindu dengan setiap tingkah laku dan sentuhannya.
"Makan dulu, ya. Bibi suapin," ucap Bi Eis, keadaan Sabrina sangat memprihatinkan. Gadis itu sama sekali tak berselera makan.
"Nanti sakit kalau tidak makan," bujuk Bi Eis berusaha tegar, walau nyatanya hati Bi Eis juga sangat terluka dengan musibah yang menimpa Sabrina.
"Aku nggak lapar, Bi," jawabnya, dan berlari menuju kamar mandi. Perutnya mual dan tak hentinya Sabrina muntah.
🌹🌹
Maaf, baru up lagi. Terimakasih masih ada yang setia menunggu cerita ini. Mohon dukungan like, komentar dan votenya juga. Biar novel ini bisa cepat naik level dan othor bisa semangat up. Terimakasih.