
Mentari pagi sudah menampakan sinarnya masuk ke celah gorden yang masih tertutup. Sabrina menggeliat meregangkan otot tubuh yang terasa kaku. Berusaha bangun, namun terhalang tangan kekar yang masih melingkar di perut rampingnya seolah tak mau berpisah jauh dan hanya ingin bersama dalam kehangatan. Mengulang kegiatan tadi malam, seolah penyatuan penuh cinta itu tak ingin terlewat barang sedetik pun.
"Bagaimana kalau kita mengulanginya," bisik Alex tiba-tiba, ternyata suaminya sudah bangun sejak Sabrina berusaha melepas dekapan tangan kokoh itu.
"Aku capek, ini sudah siang. Lagian mau berangkat ke kantor 'kan," balas Sabrina membelai wajah Alex.
"Tapi aku masih rindu, bukannya subuh tadi aku sudah memberi jamu herbal biar semangat lagi." Alex mengelus lembut wajah Sabrina dan memberi kecupan di pipi.
"Nakal." Sabrina mencubit pelan tangan Alex.
"Ini juga karena kamu sudah mengacuhkanku berbulan-bulan. Aku nggak berangkat kerja, ingin seperti ini saja bermanja di tempat tidur. Biar si Rey saja yang mengurus semuanya." Alex membenamkan kepala, tangannya bermain pada benda kenyal nan padat yang selalu menjadi candunya.
Setelah baikan dengan Sabrina. Alex mengajaknya pulang kembali ke Jakarta bersama Bi Eis. Membuat Mami Tiwi merasa senang melihat putranya kini berubah dan akur dengan menantu tersayangnya.
Sudah satu minggu Alex berada di Jakarta dan dalam satu minggu ini Alex menghabiskan waktu hanya dengan Sabrina, sama sekali tak ingin kemana-mana hanya ingin bersama sang istri tercinta saja di dalam kamar melakukan sebuah percintaan yang terus diulang tanpa ada puasnya. Alex benar-benar dimabuk rindu dan begitu candu kepada istrinya itu.
Suara ketukan pintu kamar mengganggu rayuan Alex yang ingin mengulang kembali gairah penuh cinta bersama Sabrina. Membuat Alex kesal saja, siapa yang sudah mengganggu kesenangannya dipagi ini. Selesai memakai celana boxer, Alex membuka pintu.
"Mami," ucap Alex. Menggaruk kepalanya yang tak gatal itu. Pagi-pagi sekali sudah sudah berada di rumahnya, lagi asyik juga. Alex menghela napas panjang setelah sang mami meminta keduanya untuk sarapan bersama. Biasanya juga kalau sudah lapar Alex akan mengajak Sabrina makan.
"Awas ya kamu bikin mantu Mami kelelahan." Peringatan lagi. Seharusnya maminya itu tak usah galak-galak. Sudah baikan juga dan lagi Alex masih rindu pada sentuhan Sabrina dan suara racauannya.
Alex menggerutu sesudah menutup pintu. Mendekati Sabrina dan mengajak istrinya itu mandi bersama. Syukurlah, tak ada kegiatan ekstrem lagi dan kali ini Sabrina bisa terbebas dari sentuhan suaminya. Ia sudah nggak sabar ingin keluar dari kamar menghirup udara segar di luar sana.
"Mimi, maaf. Pasti capek," ucap Alex dengan sebutan sayangnya pada Sabrina. Pria itu membantu mengeringkan rambut Sabrina dengan hair dryer.
"Tidak apa-apa, Tuan," balas Sabrina sembari tersenyum.
"Jangan panggil Tuan lagi, berasa kayak pembantu dan majikan. Panggil Pipi saja, bukannya kita sudah sepakat untuk memanggil nama kesayangan." Alex berjongkok mengimbangi Sabrina, mengecup jari tangan sang istri disertai kata-kata cinta.
Setelah itu merogoh saku celana memasangkan sebuah cincin berlian di jari manis dan lentik milik Sabrina. Mengecup keningnya lagi, diakhiri dengan sebuah pelukan.
Di meja makan. Alex memperlakukan Sabrina dengan baik, mengambilkan nasi sampai menyuapinya. Malu pada candaan mertuanya, namun Alex menyuruh Sabrina untuk tetap acuh.
"Kenapa kamu selama satu minggu ini mengacuhkan Mami, Lex? Mami itu kangen sama Sabrina." Mami Tiwi mengeluarkan berbagai macam pertanyaan meluapkan kekesalannya. Apalagi maminya itu serasa jadi tahanan dan hari ini pun pergi sembunyi-sembunyi ke rumah Alex tanpa di barengi bodyguard.
"Ini demi kebaikan Mami. Aku tak mau Mami dan Papi dalam masalah."
Mami Tiwi menepuk pundak Alex. Kekhawatiran putranya menjadi kehati-hatian agar musuh tak bisa menjangkau keluarga mereka yang sedang bahagia dalam kerukunan.
"Kamu nggak usah khawatir. Papi sudah menceritakan semuanya pada Mami. Sungguh disayangkan, sikap baiknya hanya tipuan."
Mami Tiwi sangat kecewa mendengar kenyataan Andra yang menjadi dalang kerusuhan bahkan hampir melenyapkan nyawa Alex.
Sedangkan Sabrina belum paham dengan percakapan suami dan mertuanya itu. Karena ia belum diberi tahu kalau Andra adalah musuh dalam selimut yang harus diwaspadai. Alex juga mengacuhkan atas kasus penusukannya yang kini ditutup rapat oleh pihak berwajib dan Alex juga tak mau memperpanjang mempermasalahkan. Biarkan musuh merasa menang terlebih dulu dan setelah mereka lengah Alex akan membalasnya dengan sangat brutal.
Selesai berbincang dengan Mami Tiwi. Alex mengantarkan maminya pulang. Karena Papi Tanto begitu khawatir istri tercintanya tak ada di rumah.
"Kalian nggak main dulu di rumah Mami," ucap Mami Tiwi setelah sampai di rumah.
"Lain kali saja, Mi. Kami mau jalan-jalan dulu sebentar," jawab Alex menggandeng Sabrina masuk ke dalam mobil.
Sesampainya di mall. Alex mengajak Sabrina belanja pakaian dan keperluan lain yang tak pernah Alex lakukan pada Sabrina sebelumnya, kini ia ingin memanjakan sang istri berbelanja apa-pun yang diinginkannya.
Alex tak menyangka. Sabrina hanya membeli barang seperlunya saja, sangat berbeda dengan Karlina yang boros. Tidak, wanita sialan itu harus mendapat balasan yang setimpal.
Sebenarnya Alex adalah pria yang royal, makanya Karlina mudah memanfaatkan. Dan Alex selalu memanjakan pasangannya, kali ini Alex ingin memanjakan Sabrina dan membahagiakannya.
"Mimi, apalagi yang ingin dibeli? Masa cuma segini, tas keluaran terbaru dan sepatunya juga belum," ujar Alex sembari memeriksa kantong belanjaan yang kini dibawanya.
"Tu ... Pi. Eh ...."
Sabrina malah tergelak sendiri, menyadari kesalahan ucapannya. Mau bilang tuan dan pipi secara bersamaan.
"Lupa lagi sama panggilan sayang sendiri." Alex merajuk, pura-pura kesal cari perhatian.
"Belum biasa, Pipi sayang. Jangan ngambek gitu jelek tahu." Sabrina mencubit gemas hidung mancung milik Alex dan tergelak bersama penuh canda.
"Makan yu, aku lapar," ajak Sabrina memegangi perutnya.
"Ayo, mau di restoran mana?" tawar Alex sembari menggandeng tangan Sabrina menuju parkiran.
"Di warung bakso seberang sana," tunjuk Sabrina.
"Apa?" Alex merasa heran, kirain mau ditempat yang super mewah. Kebanyakan mantannya dulu termasuk Karlina suka mengajaknya makan di restoran serba mewah. Dan Sabrina ... tak dapat dipercaya.
"Ayo Pipi, aku sudah tak tahan. Rasa baksonya juga enak, cuma lima belas ribu saja. Apa kemahalan ya?" Sabrina menatap Alex yang masih tertegun.
"Nggak, murah banget," jawab Alex masih tak percaya. Bagaimana dengan rasanya, enak apa tidak.
"Kalau begitu ayo." Sabrina menarik tangan Alex agar cepat masuk ke dalam mobil.
"Mimi kenapa terburu-buru sih?"
"Nanti kehabisan, kalau sampai nggak kebagian makan bakso. Nanti malam nggak dapat jatah," ancam Sabrina serius.
Waduh, gawat ini.