
Pagi hari yang sangat menyebalkan untuk Alex. Tak ada senyuman ceria dari si gadis kepang dua, tak ada lagi tangisan si gadis cupu saat Alex menyentuhnya. Rindu, kata itu tak dapat dipungkirinya.
Alex menyibak selimut yang menutupi tubuh, berjalan mendekati foto yang menempel di dinding.
"Pagi cupu. Nggak rindu apa kamu sama aku, pergi kok lama-lama. Istri pergi tanpa seizin suami dosa hukumnya." Alex mengelus foto Sabrina, begitu lama dan sampai diresapi. Menganggap foto tersebut adalah Sabrina asli, dipeluknya foto Sabrina sambil memejamkan mata. Setelah itu menciumi foto tersebut sampai puas.
Saking fokusnya menciumi foto Sabrina. Kedatangan sang mami ke kamar sampai tak terdengar. Mami Tiwi menggelengkan kepala, tak percaya dengan apa yang dilihatnya.
Satu dekheman tak juga membuat Alex sadar dengan kehadirannya. Dua dekheman belum juga menyadarkan putranya, tiga dekheman dan teriakan Mami Tiwi membuat Alex terperanjat sampai bingkai foto yang dipegangnya jatuh kelantai.
Alex membalikan badan sambil cengengesan, menggaruk kepalanya yang sama sekali tidak gatal.
"Bingkai fotonya kusam banget, Mi. Jarang dibersihkan ya," ucap Alex mendahului, sebelum maminya berucap yang macam-macam.
"Kangen saja pakai gengsi," ucap Mami Tiwi geram.
Sedangkan putranya itu hanya acuh saja, sembari melangkah keluar dari kamar.
"Pagi, Pi," sapa Alex, seolah tak pernah terjadi masalah.
"Pagi," jawab Tanto datar.
Alex menuju kamarnya, duduk di sofa dekat jendela yang sudah terbuka. Meraba saku celana mengambil ponsel dari sana.
"Selidiki alamat yang aku kirim tadi."
"Baik, Tuan."
Alex tersenyum senang usai bicara lewat telepon dengan suruhannya. Tak lama lagi, rindu yang terpendam akan segera dituntaskan.
Alex makan dengan wajah yang berseri-seri. Membuat mami dan papinya keheranan. Mami Tiwi berpikir. Alex terlihat bahagia karena ia akan menemui Karlina, membuat selera makan sang mami seketika hilang.
"Awas saja jika kamu sampai menemui Karlina!" sentak Mami Tiwi disela makannya.
Alex mengerutkan kening, heran dengan sikap maminya yang selalu marah tiba-tiba. Padahal ia merasa tak berbuat salah.
"Makanya, Mi. Kembalikan Sabrina padaku dan aku nggak akan menemui Karlina lagi," ucap Alex dengan raut wajah serius.
"Sabrina ... cari saja sendiri."
"Kalau begitu, aku sama Karlina saja. Buat apa mencari wanita yang sama sekali tak menghargai suaminya sendiri."
"Alex!" Papi Tanto mulai murka kembali, awalnya hanya nyimak pembicaraan istri dan putranya. Namun, lama kelamaan ia ikut geram. Apalagi Alex terus menyebut nama Karlina.
"Ah, bosan aku. Hanya pertengkaran yang selalu terjadi dan itu karena si cupu." Alex meninggalkan meja makan. Tanpa pamit kepada kedua orang tuanya. Alex pergi meninggalkan rumah mami dan papinya.
Mami Tiwi hanya bisa menangis sambil memegangi kepalanya yang mulai terasa pusing. Papi Tanto membawa sang istri ke kamar agar bisa istirahat.
Sepanjang perjalanan menuju rumah. Alex terus menggerutu kesal sampai memukul setir, harus kemana lagi mencari Sabrina. Lama-lama Alex bisa gila menahan rasa rindu yang sudah sangat memburu.
Ia juga sangat kesal kepada orang tuanya, bersama Karlina tetap tak direstui dan selalu penuh ancaman. Sedangkan Sabrina kini belum bisa ia temukan dan tak tahu dimana keberadaannya.
Mobil Alex sudah terparkir dihalaman rumahnya. Bergegas ia turun dari mobil dan melangkah masuk ke rumah. Kedatangannya disambut ramah oleh kedua asisten yang setia menjaga rumah.
Seketika Alex tersenyum puas setelah membaca pesan dari ponselnya.