
Sabrina menangis dipojok kamar. Entah kenapa ia menyesali setiap perbuatannya kepada Alex, bersikap kasar seakan bukan dirinya. Namun, Sabrina takut hanya menjadi budak permainan dan kembali kecewa.
Rasa nyaman dalam dekapan Alex sudah tumbuh dari sejak dulu pria itu sering mempermainkannya. Sabrina tak mengerti dengan perasaannya sendiri, kenapa harus ada rasa nyaman. Padahal dulu Alex sering menindasnya, hati Sabrina kini bertanya-tanya dengan perubahan sikap Alex, sulit mempercayai takut hanya kepalsuan belaka. Biarlah waktu yang akan menjawab semua kebenaran yang mengusik hati Sabrina kini.
"Sabrina, ada telepon dari Mami!" teriaknya dari balik pintu.
Sabrina menjawab panggilan Bi Eis. Gadis itu menuju kamar mandi untuk membasuh wajah agar tidak terlihat habis menangis. Setelah itu membuka pintu dan tersenyum, meraih ponsel yang diberikan Bi Eis dan kembali duduk di sofa di dalam kamarnya. Sedangkan Bi Eis kembali melanjutkan pekerjaan memasaknya.
"Mami, aku rindu," ucap Sabrina di telepon menahan air mata yang mulai membasahi pipi.
"Mami juga kangen, apa si bule menyusahkanmu lagi?"
"Tidak, semuanya baik-baik saja. Mami maaf, aku tak menjenguk."
"Tidak apa-apa, Mami baik-baik saja."
"Mami, aku sudah menendang putramu. Maaf aku tak sengaja."
"Tidak apa-apa Sabrina. Beri dia pelajaran sampai si bule itu menyadari betapa berharganya dirimu untuknya."
"Memangnya bagian mana yang kamu tendang?"
"Anu Mami, itu ...."
"Jangan bilang bagian rudal si bule yang kamu tendang."
"Betul Mami."
Dibalik telepon saja Sabrina begitu gugup, terbayang wajah mertuanya pasti sangat kecewa akan prilakunya.
"Ya ampun, kenapa bisa. Kalau tak merespon lagi gimana?"
"Habisnya Tuan Alex memaksa minta haknya sebagai suami, aku belum siap." Sabrina mulai terisak.
"Dasar si bule tak sabaran, tidak apa-apa. Biar si bule sadar diri. Makasih Sabrina, kamu masih tetap bertahan."
"Karena aku sayang Mami."
"Mami juga sayang kepadamu."
Pembicaraan mereka pun terputuh sesudah saling berucap rindu. Sabrina jauh lebih tenang setelah bercakap-cakap dengan sang mami. Beban yang sedari tadi dirasakan mulai hilang dalam benak.
**
"Apa rencanamu kali ini, Andra?" Karlina bertanya penuh keangkuhan, duduk di sofa samping Andra sembari menyilangkan kaki.
Andra beralih posisi berjalan menuju nakas samping sofa, mengambil sebuah foto dari sana. "Sabrina," jawabnya tegas dan memberi kecupan pada foto yang dipegangnya.
"Kamu tidak benar-benar mencintai gadis cupu itu' kan, Andra?" Karlina bertanya menyelidik, jangan sampai Andra mengatas namakan cinta untuk balas dendam.
Andra malah tertawa. Melempar foto Sabrina ke hadapan Karlina. "Cinta, apa itu? Aku hanya berpura, gadis polos itu bukan tipeku. Kamu tahu benar tentangku dan aku tahu benar tentang hidupmu. Rahasiamu ada padaku, Karlina."
"Dan rahasiamu juga ada padaku, ancamanmu tak berguna lagi. Alex sudah mengetahuinya, aku hanyalah wanita panggilan dimasa lalu. Dan Alex memberiku tempat terbaik dan menjadikannya budak cintaku. Seharusnya aku tak melepasnya, dan kau?" tunjuk Karlina kepada Andra, " tak lebih dari seorang pemain wanita di ranjang saja, aku pikir Alex lebih baik darimu. Karena hanya suka menyentuhku saja dan yang lainnya hanya pajangan kesepiannya saja."
Andra mendengkus kesal. Menatap hina pada wanita yang baru saja memberi sindiran padanya. Setelah itu menarik rambut panjang Karlina dengan kasar. "Kau beraninya menyamaiku dengan pria bodoh itu?" Andra semakin kasar mencengkram leher Karlina, sorot mata penuh amarah itu seolah siap mengakhiri hidup wanita didepannya.
"Kau kasar, Andra. Dan Alex tak pernah melakukan hal seperti ini padaku."
"Kurangajar." Andra mendorong tubuh Karlina sampai kepalanya membentur meja. Mengeluarkan berbagai macam umpatan seolah tak puas dengan kekasaran yang sudah ia lakukan. "Untuk apa bersikap manis pada wanita murahan sepertimu!" Jari telunjuk itu seolah memberi peringatan kuat. Karlina tak akan bisa melawan seorang Andra.
"Jangan harap Sabrina juga bisa luluh dengan kepura-puraanmu itu." Karlina geram pada pria yang sudah dibelanya itu. Ternyata bekerja sama dengan Andra tidak menguntungkan baginya, sama saja menjerumuskan pada kematian.
"Jangan pernah mengancamku, Karlina. Jika kau masih mau bersenang-senang didunia ini. Jangan pernah berpikir untuk lari dariku, karena kamu sudah terperosok pada setiap rencanaku untuk menghancurkan keluarga Alex."
"Aku jijik dengan sikap munafikmu itu, Andra." Karlina kembali duduk di sofa, sembari memegangi keningnya yang terasa perih dan ternyata menyisakan luka. "Jika aku tahu kamu sekasar ini, aku tak sudi bekerja sama denganmu."
"Ouh ... Sayang. Baiklah aku minta maaf." Andra menarik Karlina kepangkuannya. "Biar aku obati lukamu ini, agar kecantikanmu tak memudar." Andra menelepon seorang dokter untuk mengobati kening Karlina.
"Bukankah aku sudah bersikap baik, maka patuhlah akan semua perintahku." Andra mengelus pipi Karlina, "jangan pernah menyebut nama Alex didepanku lagi, pria bodoh itu harus berlutut dibawah kakiku," ujar Andra diakhiri gelak tawa.
"Lantas apa rencanamu untuk Sabrina?"
"Aku akan membuat gadis itu bertekuk lutut, setelah itu menghempasnya jauh. Aku tak sudi punya wanita bekas sentuhan Alex." Wajah Andra berubah masam, membodohi hati sendiri. Karena sesungguhnya Andra jatuh cinta pada pandangan pertama saat melihat Sabrina. Namun, rasa itu pudar setelah mengetahui Sabrina sudah menikah dengan Alex secara diam-diam.
Karlina menyunggingkan bibir, turun dari pangkuan Andra. "Rasanya tak mungkin kamu bisa menghempas Sabrina begitu saja, sedangkan dalam hatimu mencintainya bukan."
Prang.
Sebuah pot bunga pecah menyentuh lantai, berserakan kemana-mana. "Hatiku sudah hancur bagai pecahan kaca itu, jika kamu masih ingin hidup jangan pernah menyebut nama cinta didepanku." Napas Andra memburu, jari telunjuknya menjadi peringatan berat untuk Karlina. Bahwa ia tak akan pernah menjamah yang namanya cinta lagi. Cukup kesenangan sesaat yang memuaskan nafsu biologisnya. Setelah puas hempaskan dan ganti dengan yang baru.
"Baiklah, aku nggak akan membahas hal itu lagi," ucap Karlina mengakhiri pembicaraan. Menghindari pertengkaran dengan Andra itu jauh lebih baik, bertengkar dengannya tak akan pernah membuahkan hasil apa-apa yang ada malah akan kehilangan nyawa. Karlina tak pernah menyangka bahwa Andra memiliki sisi kasar yang sangat berlebihan, ringan tangan. Amarahnya gampang meluap-luap dan kepada siapapun ia bisa berbuat hal yang tak pernah terbayangkan ketika emosi itu datang menyapanya, hal itu jauh lebih mengerikan.
Setelah dokter yang Andra panggil mengobati kening Karlina. Andra meminta Karlina kembali menggoda Alex, yakin bahwa musuhnya itu masih mencintai Karlina dan gampang dipengaruhi oleh kemolekan yang Karlina miliki.
"Tentu saja, mudah bagiku mengerjakan hal itu. Alex pasti memaafkan kesalahanku yang sudah melukainya." Senyum semringah menghiasi bibir Karlina. Yakin dengan rencananya akan berhasil dan kembali menumbuhkan cinta dihati Alex kepadanya.
**
Selesai makan malam. Alex kembali ke kamar Sabrina. Namun, Sabrina tak ada. Terdengar gemericik air dari kamar mandi, istrinya itu pasti sedang mandi. Alex duduk ditepi dipan menunggu Sabrina keluar.
Pintu kamar mandi terbuka. Sabrina hanya fokus dengan rambut basahnya yang sedang dikeringkan oleh handuk, sama sekali tak melihat Alex yang kini sedang terpaku melihat keindahannya.