
Andra tak habis pikir, pria yang dianggapnya bodoh itu mempunyai seribu cara untuk menjebaknya. Untungnya saja ia tak jadi hadir diacara fashion show tersebut. Tujuan Andra hanya ingin melihat Sabrina secara dekat, tak bisa dipungkirinya kalau Sabrina semakin memikat hati Andra. Sepertinya kali ini ia harus bisa mendapatkan yang diinginkan dan tak boleh gagal lagi.
Ponsel Andra bergetar, nomor tak bernama membuat keningnya mengerut. Sepertinya ada yang ingin bermain-main dengannya, tak mempedulikan dan segera memencet tombol merah. Dua pesan masuk dengan nomor yang sama, membuat Andra menjadi penasaran. Siapa yang mengganggu ketenangan pikirannya saat sedang membayangkan Sabrina.
[ Jangan pernah berpikir aku akan diam saja dengan perlakuan curangmu, pria bodoh ]
[ Kamu sepertinya lebih duka bermain sembunyi-sembunyi dari pada terang-terangan ]
Pesan itu membuat kepala Andra berdenyut. Alex, pasti orang yang sudah mengirimnya pesan, pria sampah yang ingin menantangnya secara dekat, bisa dibuktikan siapa yang lebih kuat.
"Tuan, permintaan Anda sudah kami laksanakan." Pria gondrong bertato itu melapor, tugas yang diberikan Andra berjalan lancar.
Andra menarik ujung bibirnya, kabar bagus yang ingin didengarnya sudah terkabul. Sepertinya ini adalah keberuntungan Andra, sampai semua rencananya terasa mudah.
"Bagus, sekarang kamu bisa pergi."
"Baik, Bos."
Seringai itu terlihat penuh keangkuhan, siapa yang lebih dulu memulai perang pasti akan cepat jatuh tersungkur. Andra tertawa, suara tawanya menggema di sebuah kamar apartemen. Pria itu terlihat senang dengan setiap rencana yang sudah disusunnya.
"Bisa apa kamu tanpa harta, Lex. Dan Sabrina bisa jatuh dalam dekapanku. Wanita mana yang tak ingin dimanjakan oleh materi." Andra kembali tertawa.
**
Tepatnya jam tiga dini hari, Rey menghubungi Alex. Namun, tak kunjung tersambung. Sepertinya ia sedang dalam mimpi indahnya bersama Sabrina.
Rey gusar tak mendapat respon, tapi tak putus asa terus menghunbungi.
"Apa, ganggu orang tidur saja," suara parau itu terdengar emosi.
"Tuan, restoran sama butik milik Mami kebakaran."
"Apa? Oke, aku akan segera kelokasi."
Alex berniat membangunkan Sabrina. Namun, istrinya itu tidur nyenyak sekali. Tak tega jika membangunkannya, hati-hati Alex melepas tangan Sabrina yang melingkar diperutnya dan menggatinya dengan guling. Setelah itu turun dari tempat tidur dan bergegas menuju kamar mandi.
"Loh, Tuan mau kemana?" Alex berpapasan dengan Bibi An dilantai bawah.
"Ada urusan penting, Bi. Sabrina tidak tahu aku pergi karena masih tidur, aku juga nggak akan lama."
"Iya, Tuan."
Alex memilih menaiki motor agar cepat sampai ke lokasi.
"Sial!" Alex membuka helm, napasnya memburu penuh emosi. Restoran yang baru dibangun hangus terbakar.
"Tidak ada yang bisa terselamatkan, Tuan. Semuanya hangus dilahap api," jelas Rey.
"Tak ada korban jiwa?"
"Tidak, polisi sedang menyelidiki kasus kebakaran ini. Sepertinya ada unsur kesengajaan, cctv juga mati tak ada yang bisa dijadikan bukti."
"Bagaimana dengan butik, Mami?"
"Semuanya hangus tak ada yang tersisa. Kerugiannya sangat besar dari insiden ini, Tuan."
Alex menghela napas panjang. "Tak apa, ini ujian untuk keluargaku."
"Lex," panggil Pak Tanto.
"Papi kenapa bisa ada disini, Mami sudah tahu tentang kejadian ini?"
"Iya, Mami sampai syok. Namun, mau bagaimana lagi. Ini musibah untuk kita semua." Pak Tanto tak menyangka semua hasil kerja kerasnya akan sia-sia. Restoran dua lantai yang baru selesai dibangun, rencananya akan diresmikan besok mr jadi gagal total. Begitu juga butik baru tiga lantai yang akan diserahkan. pengelolaannya kepada Sabrina semua hancur juga dalam sekejap mata.
"Kita sebagai manusia hanya bisa berencana, Lex. Tuhan yang mengatur segalanya."
"Kamu benar, Lex. Papi juga lalai sering sekali meninggalkan kewajiban yang seharusnya Papi lakukan sebagai seorang muslim. Harta dan kekuasaan telah membuat Papi lupa pada pemberi kenikmatan."
Suara adzan subuh menggema dari masjid yang tak jauh dari lokasi kebakaran. Alex, Pak Tanto dan Rey menuju ke rumah Allah yang selama bertahun ini mereka tinggalkan. Menuju ketempat wudhu walau sebenarnya mereka lupa dengan cara berwudhu.
Memasuki mesjid diawali dengan kaki kanan. Duduk bersila di jajaran depan sembari menunggu selesai adzan. Ada ketenangan yang menyapa jiwa dari keresahan yang sedang dilanda. Ketenangan ini tak pernah Pak Tanto rasakan, begitu juga dengan hati Alex merasa damai.
Rey mengelus pundak Tuannya yang sesekali meneteskan air mata. Malu jika teringat akan semua dosa yang pernah dilakukan.
Selesai melaksanakan sunat mengikuti yang lain. Dimulailah salat subuh berjamaah, meski lupa dengan bacaannya. Namun, Alex berusaha khusu melaksanakan salatnya.
Alex teringat akan ucapan Sabrina, harus menyisakan uang untuk bersedekah. Dan memasukan beberapa lembar uang tersebut kedalam kotak mesjid.
"Lega hati Papi," ucap Pak Tanto mengelus dada.
[ Kamu juga akan merasakan sakit yang teramat dalam, kehilangan orang yang paling kamu sayang ]
Pesan misterius itu membuat Alex keheranan. Siapa orang gila yang mengirimnya teror? Tak ada kerjaan.
Alex mendengkus, membuang waktu hanya untuk membaca pesan tak penting. Ia melihat ke arah Papinya yang sudah mendahului menuju lokasi kebakaran.
Brak.
"Papi!" teriak Alex berlari kencang kearah pria yang tubuhnya terpental jauh tertabrak mobil truk.
Darah segar keluar dari kepala, napasnya mulai melemah. Kesadaran Pak Tanto hampir hilang, senyum kemenangan terpancar dari wajah yang dipenuhi darah.
Sedangkan si pelaku kabur dan kini sedang dalam pengejaran polisi.
Alex bercucuran air mata melihat kondisi papinya, jika pesan itu adalah ancaman nyata. Ia tak akan membiarkan papinya mendahului. Alex telah gagal menjaga orang yang paling dicintainya.
"Jadilah imam yang baik untuk Sabrina dan Mamimu. Maafkan Papi, Lex." Kata terakhir yang menyayat hati. Membuat Alex berteriak histeris. Baru saja ia akan meneguk manisnya madu, kini malah pil pahit yang harus ia telan.
"Rey, Papi!" Alex kembali histeris. Kondisi Pak Tanto sangat mengkhawatirkan.
Ambulan datang dan segera membawa Pak Tanto ke rumah sakit.
"Tahan, Pi. Aku akan berusaha menyelamatkan Papi." Alex berderai air mata, tak kuasa menahan duka dan amarah yang menggerogoti jiwa.
Sesampainya di rumah sakit. Pak Tanto dibawa ke IGD. Alex dan Rey menunggu dengan sangat cemas.
"Bagaimana keadaan Papi saya, Dok?"
"Maaf, kami sudah berusaha. Anda harus kuat." Dokter tersebut menepuk pundak Alex.
"Jangan bercanda Dokter, aku akan membayar berapapun biayanya asal Papi bisa selamat." Alex mengeluarkan nada tinggi.
"Ini bukan masalah uang. Akan tetapi Tuhan berkehendak lain, sabar."
Alex tak terima dengan keputusan dokter. Tak percaya ayahnya sudah tiada, kenapa Tuhan tak adil padanya. Disaat mulai bertobat, kenapa harus ada ujian berat seperti ini.
"Nggak adil, aku memulai memperbaiki diri. Kenapa kau ambil Papiku, Ya Allah. Harta yang lainnya bisa dicari, tapi kemana aku harus mencari Papiku jika rindu. Ah, Tuhan nggak adil!"
"Tenang, Tuan. Jangan pernah berkata begitu, Tuhan lebih tahu yang terbaik untuk setiap hambanya."
"Tapi kenapa harus disaat aku berdekat diri kepada-Nya. Bagaimana nanti dengan kondisi Mami Rey."
Sebuah pesan kembali menghentak amarah Alex.
[ Tersiksa rasanya bukan, kehilangan orang tersayang ]
"Brengsek! Andra!" maki Alex, berasumsi pria itu lah dibalik kematian papinya.