Hasrat Sang Majikan

Hasrat Sang Majikan
BAB. 35


Malam harinya selesai makan malam. Sabrina berada di kamar, ia pulang ke rumah Alex jam tujuh malam diantarkan oleh supir Andra. Kebetulan Andra ada meeting mendadak jadi tak bisa mengantar Sabrina pulang. Namun, sesampainya di rumah. Sabrina tak mendapati siapapun. Karlina dan Alex tak ada dirumah. Syukurlah, Sabrina merasa tenang.


Selesai mandi. Sabrina merebahkan tubuhnya di kasur, pikirannya merasa gusar. Teringat akan pesta besok malam, sedangkan ia tidak mempunyai baju bagus. Dandanan seperti apa yang harus Sabrina pakai, ia merasa bingung karena tak pandai merias wajah.


Terdengar suara deru mobil masuk garasi dan suara tawa Karlina, nada bicaranya pun begitu manja. Wanita itu sangat bahagia, bibir merahnya tak lepas tersenyum. Pastinya bahagia, wanita itu baru pulang belanja bersama Alex. Beberapa paper bag ditentengnya, pasti itu barang-barang mahal dan bukan barang murahan.


Sabrina bisa mendengar hal itu karena posisi kamarnya dekat dengan garasi. Sehingga Sabrina bisa mengintip dari celah jendela.


Dasar pria aneh, pacar terus dimanjakan dengan uang, sekali jatuh pasti kamu akan ditinggalkan.


Sabrina menggerutu dalam hati. Kesal melihat pasangan menyebalkan itu. Eh, kenapa juga harus kesal. Toh, nggak ada hubungannya dengan Sabrina. Ingat, hanya istri sesaat saja. Setelah enam bulan harus berpisah.


Suara ketukan pintu membuyarkan lamunannya. Sabrina tergesa membuka pintu dan ternyata Alex. Tergesa Sabrina menutup pintu kembali. Namun, tangan Alex sigap menhan pintu tersebut dan kembali terbuka.


"Jangan geer dulu, aku kesini bukan ingin merasaimu. Sepertinya aku mulai merasa bosan, hanya ingin mengingatkan. Jangan berani pergi dengan pria lain, atau sampai membuatku malu. Ingat akan statusmu hanya seorang pembantu, nggak lebih dari itu."


"Sudah puas bicaranya, aku sudah ngantuk." Sabrina tergesa menutup pintu, tak mau lagi mendengar ucapan Alex, apapun yang ia katakan hanya membuat luka dalam dada. Hati Sabrina letih dengan semua ini. Alex semakin menunjukkan ucapannya, ingin membuat Sabrina merasa tersiksa dan kini itu yang ia rasakan. Sakit menjadi wanita yang tak dianggap sama sekali, arti pernikahan hanya untuk kepuasan di ranjang saja. Oh, Sabrina. Kenapa nasib mu begitu malang.


"Tidak sama sekali," tegas Alex.


Itu lebih baik. Aku juga capek jika hanya menjadi wanita pemuas amarahmu saja. Kini aku bagai barang murahan yang tak ada harganya sama sekali. Kenapa hatiku sakit dengan semua ini, kenapa hatiku perih menjadi istri yang tak dianggap.


Sabrina mencoba memejamkan mata. Namun, air bening itu tak hentinya menetes, bantal dan guling kini menjadi saksi tangisan pilu. Disela tangisnya, ponsel Sabrina bergetar, ada sebuah pesan masuk yang seketika membuatnya tersenyum usai membaca isi pesannya.


[ Gadis manis, maaf. Aku tak bisa mengantarmu pulang, aku harap kamu jangan bersedih. Besok sore, aku akan menjemputmu. Tersenyumlah, senyumu itu bagai rembulan yang menghiasi gelapnya malam, Andra ]


[ Tidak apa-apa, Tuan. Selamat malam dan selamat beristirahat ]


[ Sepertinya malam ini aku nggak akan bisa tidur, tak sabar dengan hari esok ingin segera bercanda lagi denganmu ]


Sabrina tak membalas lagi pesan dari Andra. Pikirannya menjelajah, apa yang sedang Alex lakukan dengan wanita itu. Bersenang-senangkah, pastinya. Barusan pria tengil itu mengatakan bosan kepadanya.


Sabrina memukuli guling dengan sangat gemas. Kenapa juga harus kepikiran pria mesum itu, seharusnya Sabrina merasa senang, Alex tak mengganggunya lagi. Tapi kenapa, ada kesepian yang menghantam relung hati.