
Alex terpaksa menuntaskan hasratnya di kamar mandi, setelah itu ia mandi dengan air dingin. Selesai mandi Alex bembaringkan tubuhnya disamping Sabrina, tak akan melepaskan gadis ini sampai ia benar-benar merasa puas. Sama-sama polos, Alex memeluk gadis yang belum sadar itu di bawah selimut sambil memainkan gundukan kenyal milik Sabrina.
Mengelus pipi Sabrina, menatap mata sembab yang tak berhenti menangis sepanjang kegiatan panas mereka. Kasihan juga si cupu, Alex menjadikannya pelampiasan amarah.
Sabrina akhirnya sadar dari pingsannya, ia merasakan ada yang sedang menyentuh tubuhnya. Ternyata Alex ada disampingnya, ya ampun. Sabrina pura-pura tidur kembali.
"Jangan pura-pura tak sadar untuk mengelabuiku," bisik Alex ketelinga Sabrina.
Sabrina acuh berusaha tetap tenang agar tak ketahuan pura-pura, bukan Alexander namanya kalau tidak langsung bertindak. Ia segera melancarkan kembali keinginannya yang belum tuntas. Tak akan pernah melewatkan kesempatan.
Pagi harinya. Sabrina sudah bangun, sedangkan Alex masih tidur pulas sambil memeluknya. Baru pertama kalinya Sabrina menatap jelas wajah Alex saat pria itu tidur, damai. Ternyata dia juga tampan. Hidung mancung, bibirnya seksi, rahang kokoh berbulu tipis.
Ah, apa yang kamu pikirkan, Sabrina. Pria ini tak pantas dipuji, dia tak berbelas kasih padamu.
Sabrina turun dari tempat tidur, melepaskan tangan Alex yang melingkar di tubuhnya. Namun, pria itu malah membuka mata.
"Mau lari kemana?" Alex mencekal tangan Sabrina.
"M-mau mandi." Terbata Sabrina menjawab. Tubuhnya terasa kaku untuk melangkah, pinggangnya pun terasa sakit.
"Jangan geer dulu, aku melakukan ini karena ...." Alex menghentikan ucapannya, masuk ke bak mandi berendam disana bersama Sabrina.
Ternyata, kemanisan pria itu hanya karena ada maunya. Lagi dan lagi Alex melakukannya. Sampai selesai mandi pun dilanjutkan di tempat tidur.
"Apakah Tuan belum puas juga?!" teriak Sabrina, tubuhnya letih. Lebih baik ia disuruh-suruh membersihkan rumah atau hal lainnya dari pada harus melayani kebuasannya. "Aku sudah capek, sudah belum?"
"Sedikit lagi, kamu terlalu berisik." Kali ini Alex benar-benar puas, ia tersenyum memandangi Sabrina yang ketiduran. Belum pernah ia merasakan ketenangan seperti ini, rasanya tidak ada beban sama sekali. Yang ada ia merasa bahagia.
Alex ingin mendaratkan kecupan di kening, tersadar bahwa yang dilakukannya salah. Untuk apa bersikap manis pada si cupu, yang ada ngelunjak nantinya. Alex kembali mandi, setelah itu bersiap ke kantor. Hari ini ia membebaskan Sabrina karena sudah memberikan kesenangan kepadanya.
Tepatnya jam sembilan siang. Sabrina masih terjaga dalam mimpi indahnya, sesekali ia menggeliat. Badannya terasa remuk oleh kegiatan semalam dan pagi tadi. Sabrina malas bangun, namun cacing di perutnya minta jatah terus.
Sabrina bangun dari pembaringan, menggeliat kembali, pria mesum itu pasti sudah berangkat ke kantor. Tak ada tanda-tanda kehadirannya, syukurlah. Perlahan menurunkan kaki, menginjak keramik putih yang terasa dingin. Rasanya perih sekali, berjalan pun malas. Maunya ada yang melayani memberikan makanan untuknya, tapi tak mungkin. Perlahan namun pasti Sabrina menuju kamar mandi. Selesai mandi ia menuju dapur, membuat nasi goreng untuk mengganjal perut yang keroncongan.
Selesai makan, Sabrina merebahkan tubuhnya di sofa. Menonton drakor kesukaannya, ditemani cemilan kentang goreng dan teh manis hangat agar acara menontonnya lebih asik lagi. Sesekali Sabrina bergidik ngeri jika bayangan semalam melintasi benak. Rasanya ia harus menghindari pria mesum itu, tak disangka. Dia yang membuat perjanjian, dia juga yang mengingkari.