
Melihat kawanan itu kembali beraksi. Rey kini lebih waspada, takutnya mereka dibekali senjata api yang bisa membuat suasana lebih mencekam lagi.
Rey kini berdiri sejajar disamping Arma. "Aku bantu," ucap Rey penuh keyakinan.
"Gue bisa sendiri," jawab Arma angkuh.
"Jangan suka meremehkan lawan, hal itu bisa membuat kita terjebak dalam kekalahan." Rey menggiling lengan bajunya sampai siku. Siap bertempur menghadapi ke empat berandal yang tak mau mengalah.
"Sebelum Sabrina bisa kami bawa, jangan harap kalian bisa selamat. Kami memang kalah, namun kalian tak tahu kalau kawanan kami masih banyak." Mereka kembali tertawa, ketiga deru motor bising kembali datang.
"Sial! Lebih baik lari dari pada mati sia-sia, pastinya mereka membawa senjata api," ucap Rey.
Membuat Arma mengerutkan kening. Heran sekali, seperti buruan saja. Apa keluarga Rey sebenarnya buronan yang mau bersembunyi. Sampai memilih mundur, hal itu menjadi teka-teki yang harus Arma pecahkan.
"Takut lo, Rey. Sekarang katakan persembunyian Alex, kami hanya ingin membawa Non Sabrina pulang."
Membuat Arma semakin pusing saja, belum memahami permasalahan yang sebenarnya.
"Sampai kapan pun. Non Sabrina tak akan pernah aku serahkan," jawab Rey tegas.
Keyakinan kuat Rey membuatnya kembali di serang, perkelahian babak kedua terjadi. Kini Arma bersama Rey saling melindungi diri dan waspada.
"Gue kira lo lembek," ucap Arma ketika punggung mereka beradu.
"Kita lari," bisik Rey pada Arma. Dua lawan delapan orang dengan senjata tajam, sedangkan mereka berdua dengan tangan kosong hanya mengandalkan kekuatan otot saja.
"Lo itu penjahat Rey." Arma malah mengalihkan pembicaraan membuat Rey kesel saja, dalam situasi genting seperti ini masih saja banyak pertanyaan yang ia ajukan. Karena rasa penasaran yang kini mengusik diri.
"Nanti aku jelaskan," balas Rey hendak menarik tangan Arma.
Namun, suara tembakan terdengar nyaring membuat Arma terkejut.
"Awas!" teriak Rey menarik Arma ke dalam pelukan.
"Akhk!" Suara Rey mengerang sakit, kala peluru itu manembus pundaknya.
"Rey!" jerit histeris Arma.
"Lari!" teriak Rey menarik tangan Arma. Mereka memilih masuk ke hutan yang sulit dilalui kendaraan.
"Sial mereka lari ke hutan yang sulit dijangkau!"
"Kejar, sampai mangsa ditemukan!"
Masuk ke semak-semak mencari kedua mangsa yang sulit ditemukan.
"Bodoh! Kenapa nggak lo tembak mati saja tuh si Rey dan cewek murahan itu. Sekarang hilang tanpa jejak."
"Pandai juga mereka bersembunyi. Ah, goblok, sialan! Masih beruntung juga tuh cowok. Pokoknya kita cari sampai dapat."
"Jangan sampai si bos marah, kita bisa dipenggal!"
"Duit adalah pilihan kita, dulu kita berhasil menabrak si Tanto sampai mati, sekarang kita harus cari Alex dan Rey. Kita akhiri hidup mereka juga."
Arma kini mengerti. Alex dan Rey adalah korban keserakahan orang biadab. Seandainya Arma bisa menghubungi bapaknya meminta bantuan.
Sayangnya mereka kini terjebak di sebuah semak belukar yang dalam, diatasnya terdapat tanaman ilalang yang tebal dan tinggi. Sehingga kawanan penjahat tak bisa menemukan mereka.
Tuhan masih memberi perlindungan dan petunjuk jalan untuk menyelamatkan diri.
Namun, Arma sangat mengkhawatirkan Rey yang kini dalam dekapannya. Lubang sempit itu membuat tubuh Rey dan Arma sangat dekat, bahkan tangan Rey memeluk tubuh Arma.
Si gadis tahu kalau Rey kini sedang menahan sakit akibat melindunginya. Baru pertama ini air mata Arma menetes haru, ada pria yang dengan rela melindungi. Jadi mellow ni preman betina.
Peluru yang bersemayam dipundak Rey harus segera di keluarkan, bisa berbahaya dan menyebabkan infeksi parah.
'Kenapa para bedebah itu tak kunjung pergi?' Seandainya ia punya senjata, pastinya mereka sudah kehilangan nyawa.
Rey memang sangat kesakitan di pundaknya. Namun, yang lebih mengerikan dalam benak Rey saat ini. Bagaimana jika ada hewan ganas yang masuk celananya, mengajak kenalan pada aset berharganya yang selama ini selalu tersegel rapi.
Ingin secepatnya keluar dari lubang yang membuatnya pengap, lebih lagi sesak dibagian bawah. Karena kini mereka berpelukan, membuat benda kenyal itu beradu dengan tubuh depan Rey. Dan lagi tubuh Arma wangi, membuat pikiran Rey mengumbara.
Pertama kali dalam hidup Rey. Bisa sedekat ini dengan wanita, karena Arma jua. Ia bisa merasakan enaknya menyentuh bakpau kembar.
'Ah sial, sedang sengsara juga masih kepikiran mesum.'
"Bos ternyata disini ada jurang, apa mereka terperosok!"
"Sepertinya, kalau gitu mereka pasti sudah mati. Kita lebih baik pergi sebelum jadi mangsa hewan buas."
Delapan kawanan itu pergi. Dengan hati senang merasa berhasil sudah menyingkirkan Rey.
Namun, hal itu menjadi pelajaran. Rey harus bisa lebih waspada lagi untuk menjaga keluarga tuannya.
"Aku tak tahan," bisik Rey pada Arma.