
"Kenapa kamu harus pakai baju di kamar mandi, aku ini suamimu. Nggak sopan itu namanya," protes Alex usai melihat Sabrina keluar dari kamar mandi dan sudah berpakaian lengkap.
Lagi-lagi Sabrina hanya diam, acuh tak peduli dengan ocehan Alex. Sabrina bergegas membuka kenop pintu. Namun, Alex bergegas menahan tangan Sabrina, mendekapnya dari belakang.
"Aku akan pergi lagi keluar kota siang nanti bersama, Rey. Jadi aku merasa puas jika sudah menyentuhmu sesuka hatiku, jangan marah. Bukannya kewajiban seorang istri melayani suaminya." Alex membalikkan tubuh Sabrina, menjawil dagu sang istri dengan manja.
"Tapi ...."
Sabrina ingin protes kembali. Namun, sentuhan lembut di bibir membuat Sabrina bungkam. Dan hanyut pada kenikmatan.
"Siapkan bajuku ke dalam koper." Alex berbisik membuat Sabrina menjadi salah tingkah. "Atau, mau aku kasih jatah lagi. Lima menit cukup untuk hal itu, atau lebih pun jadi. Bagaimana?" Alex memainkan rambut Sabrina dengan tatapan nakal.
"A-aku siapkan bajunya." Terburu Sabrina memasukan baju Alex ke dalam koper dengan tubuh gemetar. Jantungnya pun ikut berdenyut kencang.
Alex kembali menggoda Sabrina yang terlihat salah tingkah. Membuat debaran di jantungnya semakin tak beraturan.
"Jangan seperti ini, Tuan. Ini sudah jam sembilan siang. Mana bos perusahaan datang telat, malu sama karyawan."
Alex melepaskan pelukannya. "Baiklah, berlama disampingmu membuatku jadi suatu ...."
Dasar mesum, memangnya pria ini pikir tubuhku ini robot apa? Bisa seenaknya di pakai dan setelah bosan di buang.
"Aku akan sangat merindukan bolu kenyal legit ini."
"Tuan!" cerit Sabrina, ketika Alex menyentuh gemas bagian atas tubuhnya.
Alex malah tergelak, pria itu keluar dari kamar sambil terus tertawa. Apanya yang lucu, justru Sabrina merasa jengkel dengan sikap aneh suaminya itu. Terkadang lembut, menyenangkan, romantis. Namun, banyaknya menjengkelkan. Sudahlah, Sabrina tak mau ambil pusing. Hal itu akan membuat kepalanya berdenyut kencang.
Selesai sarapan. Sabrina mengantar Alex sampai depan pintu sambil membawa koper. Keterlaluan memang, kalau ada maunya dibaikin. Sekarang disuruh bawa koper besar dan beratnya itu loh, bikin Sabrina ngos-ngosan.
"Ingat, jangan nakal ya selama aku pergi."
Sepertinya kata-kata itu hanya cocok untuk Alex, bukan Sabrina. Karena diluar sana akan banyak sekali godaan yang memanjakan mata seorang Alexander Wijaya.
"Pastinya," balas Sabrina melempar senyum.
"Anak baik." Alex mengelus kasar rambut Sabrina sampai berantakan. Setelah itu kembali tertawa, sepertinya pria yang bernama Alex itu lebih senang jika sudah menjaili orang.
***
Mobil sedan warna hitam sudah terparkir dihalaman rumah Alex. Suara klakson mobil terdengar nyaring, tak salah lagi pasti Mami Tiwi yang datang untuk menjemputnya. Bergegas keluar, niat hati ingin menyambut kedatangan Mami mertua. Dan ternyata yang datang itu Andra, membuat Sabrina keheranan.
"Tuan Andra," ucap Sabrina pelan, gadis itu nampak terkejut sekali.
Sedangkan Andra menatap Sabrina kagum, gadis itu terlihat segar dan semakin cantik saja.
"Apa kedatanganku mengganggu?" ucap Andra memecah keheningan.
"Tidak, Tuan. Kebetulan aku ada janji sama Mami Tiwi. Beliau mau menjemputku."
"Justru kedatanganku kesini ingin menjemputmu. Mobil Mami Tiwi mengalami bocor ban di persimpangan jalan menuju kesini, kebetulan aku lewat dan menggantikan beliau."
"Tapi ...." Sabrina merasa ragu.
"Tenang saja, aku berkata jujur," balas Andra usai melihat kekhawatiran di wajah Sabrina.
Tak lama ponsel Sabrina berdering, ternyata itu Mami Tiwi memberi kabar kalau dia sendiri yang menyuruh Andra untuk menjemput Sabrina dan setelah itu Sabrina pun mau ikut bersama Andra.
"Terimakasih, Tuan," ucap Sabrina setelah sampai di rumah Mami Tiwi.
"Bukannya kita sudah sepakat menjadi teman, dan kamu tak boleh memanggilku dengan sebutan Tuan lagi."
"Aku lupa," balas Sabrina sembari tersenyum.
"Senyummu indah, semut pun akan tergoda." Andra menatap lekat wajah Sabrina, ada rindu ingin menyapa bibir manis milik Sabrina.
Sabrina yang merasa risih dengan tatapan Andra, pun bergegas keluar dari mobilnya dan mengucapkan terimakasih.
Gadis itu hampir membuatku lupa daratan, memang gadis yang bikin penasaran. Apakah Alex tak pernah tergoda oleh Sabrina? Sedangkan gadis itu setiap hari ada di rumahnya. Dan penampilan Sabrina semakin cantik dan imut saja, menggemaskan.
Andra mentertawakan dirinya sendiri yang hampir kelepasan menyentuh bibir Sabrina. Kewarasannya seolah hilang jika sudah menyangkut Sabrina.
Sepertinya aku harus mencoba mendekati Sabrina. Sebelum Alex mendahului, menyadari Sabrina gadis yang lugu dan sangat menggoda. Alex memang bodoh, membiarkan bunga langka yang berharga hanya demi wanita yang sudah tak berharga seperti Karlina. Pria bodoh yang dibutakan cinta.
Andra kembali melajukan mobilnya menuju ke restoran. Sepanjang perjalanan, tak lepas memikirkan Sabrina. Andra jadi malu sendiri dengan tingkah konyolnya.