Code Name: ANGEL K05

Code Name: ANGEL K05
97. Pembalasan Dendam


Ana langsung mengeluarkan laptop dan duduk di meja makan. Dia mengetikkan beberapa tombol. Kemudian di layar muncul satu titik merah yang terus bergerak.


Saat terdorong, Ana sengaja menjatuhkan diri ke arah pria yang dibawa polisi. Dia menempelkan alat pelacak kecil ke sepatu pria itu. Sekarang dia melihatnya bergerak.


"Harusnya itu menuju kantor polisi," gumamnya.


Ana meraih ponsel. Mengirimkan link berita penemuan Gerry pada Ammo. Dia sedikit kecewa, karena Ammo dan Ariel tak bisa bergerak cepat untuk menemukan bawahannya. Ana berharap temuannya beberapa hari sebelumnya, dapat dimanfaatkan Ammo untuk mencari anggotanya yang hilang.


Namun sekarang Ana akan punya pelampiasan kekecewaan. Ada guratan kejam di wajah tua itu. Diperhatikannya titik merah yang kini benar-benar berhenti.


Ana mencari lokasi itu pada Map.


"Benar, itu kantor polisi. Kau tunggu saatmu!" ujarnya dingin.


*


*


Gelap sudah lama turun. Jalanan depan yang sebelumnya ramai, kini kembali sunyi. Ada mobil polisi terparkir di depan rumah itu. Ana memperkirakan, akan ada mobil polisi lain di jalan belakang rumah, karena penemuan jasad Gerry yang dekat dengan lokasi pembunuhan itu.


Ana memasang copy informasi --yang pernah diserahkannya pada Ammo--, di komputer. cukup lama dia mengetik dengan serius di meja. Hingga dia merasa puas melihat hasilnya.


Dengan pengalaman sebagai orang dalam, dia bisa melihat siapa-siapa saja agen rahasia negara Slovstadt, serta posisi mereka saat ini. Ana menyimpan semua data itu dalam memori terpisah.


Ana memandang nanar informasi di komputer. Itu informasi yang sangat mengerikan, jika bocor ke negara musuh.


Dan bagaimana mereka semua bisa terdeteksi? Apakah semua agen dipasangi implan pelacak seperti dirinya? Bukankah harusnya dengan cara ini, bawahannya akan mudah ditemui? Tapi kenapa mereka tak terdeteksi?


"Apakah belum semua agen yang dipasangi pelacak? Atau orang-orang tertentu saja?" Ana berpikir sendiri.


Terdengar suara di tivi. Berita baru terkait issue penyebaran agen rahasia dan tindakan intelijen serta pencurian informasi negara lain. Presiden Negara Slovstadt menolak mengakuinya. Dia membantah fan mengatakan bahwa itu hanya issue yang dihembuskan oleh pihak yang ingin merusak kerjasama dua negara.


Mereka juga mengatakan akan menyelidiki dan memburu pemberi informasi palsu tersebut.


Tapi berbagai spekulasi dan tanggapan dari para pemerhati, mengindikasikan bahwa informasi yang didapatkan kantor berita negara itu adalah benar.


Mereka membahas peristiwa-peristiwa peledakan sebulan belakangan yang menyasar propersi dan aset-aset negara Slovstadt.


Dugaan yang paling mendekati menurut mereka adalah tindakan tersebut dilakukan oleh agen rahasia yang dikhianati oleh pemerintah Slovstadt.


Menurut kalkulasi para ekspert itu, tak lama lagi orang misterius itu akan minta suaka dan perlindungan pada negara Giebellinch.


Kemudian bahasan mulai ramai pada bahasan, apakah Presiden Negara Giebellinch bersedia memberi suaka, atau tidak. Disertai pula dengan ulasan keuntungan dan kerugian dari tiap pilihan.


Ana menggelengkan kepala kecewa melihat tanggapan Presiden Slovstadt. Itu tanggapan politis. Ana tak mungkin mendengar pengakuan dari mulut polisi. Dia merasa dibuang begitu saja setelah jasa-jasanya selama ini.


Pukul sebelas malam. Breaking News yang ditunggu Ana muncul. Informasi pasti bahwa darah yang ada di lantai rumah di ujung jalan adalah benar darah Gerry.


"Bangsat!" umpatnya marah.


Berarti mereka adalah The Hunters. Pasukan khusus di Biro Klandestin. Khusus untuk memburu para pembelot dan yang merugikan pimpinan.


Ana kembali duduk di meja makan dan mengetik berbagai informasi anonim tentang Gerry serta informasi resminya, sebagai pancingan reaksi netijen. Dilengkapinya dengan dugaan dan issue bahwa dia dikejar oleh pasukan khusus yang disebut The Hunters. Karena tim mereka dianggap membahayakan pimpinan pusat Biro K. Dan orang-orang yang ditahan di rumah itu adalah pasukan The Hunters.


Ana mengunggah informasi itu melalui berbagai jalur informasi rumit, agar tak bisa dideteksi.


Pukul dua belas malam.


Ana masang pelapis dinding rumahnya. Kesan dari luar, penghuni rumah sudah tidur, sehingga rumah gelap gulita. Yang terlihat hanya lampu taman dan teras.


Ana turun ke basement. Berganti pakaian dengan baju lapangan. Baju yang diberi lapisan anti peluru oleh perusahaan Ammo. Ana mengisi penuh peluru pada dua pistol berperedam yang dimilikinya. Dilengkapi dengan magasin tambahan untuk keadaan tak terduga.


Ana juga menyembunyikan pisau dibalik sepatu bootnya. Ana memeriksa perangkat penutup kepalanya. Beberapa bom asap disangkutkan di pinggangnya. Ana meraih jaket kulit hitam dari gantungan. Dis memeriksa semuanya, dan merasa sudah lengkap.


Ditutupnya lagi pintu ruang penyimpanan. Dia melangkah mantap menuju garasi di bawah tanah. Memilih mobil yang paling mudah digunakan dan dapat membantunya saat terjepit.


Pilihannya jatuh pada mobil sport merah. Tapi Ana akan mengganti warnanya jadi hitam, agar mudah menyatu dengan malam.


Ana duduk di mobil, memeriksa semua perlengkapan perang yang ada di situ. Peluncur roket mini yang saat penyelamatan Maya dipakainya, sekarang kosong.


"Hah ... menyusahkan sekali," gerutunya.


Dia terpaksa kembali ke ruang penyimpanan dan mengambil roket pengganti. Setelah semua selesai, Ana menarik nafas panjang. Sekali dia ambil cara ini, dia akan sulit untuk mundur lagi.


"Nathalie, doakan aku," bisiknya. Dibayangkannya ibunya dan ayah yang dia belum ingat seperti apa rupanya.


Ana menyalakan mesin mobil. Dia langsung memasang mode Stealth, agar tak mudah dideteksi oleh banyaknya mobil patroli polisi diingkungan itu. Mobil itu meluncur dengan suara halus, menyusuri lorong bawah tanah miliknya.


Setelah yakin tak ada mobil di jalanan desa itu, Ana membuka pintu. Dengan cepat dia keluar dan memastikan tak ada yang melihat dinding batu itu terbuka dan tertutup. Setelah semua kembali seperti semula, Ana melajukan mobilnya perlahan.


Hingga di mulut tol, dia melenggang masuk ke jalan sunyi itu dan memacu mobilnya. Tak ada yang akan mengetahui mobil itu melintas, meski dia berada di sebelahnya. Mobil itu terbang dan yang tersusa hanya gesekan angin lembut biasa.


Dalam lima belas menit, Ana sudah berada di seberang kantor polisi. Dia sudah akan berbelok, saat empat mobil lain masuk ke halaman kantor polisi dan mulai menembaki para petugas jaga.


Ana terkejut setengah mati. Dengan cepat dia menyalakan kamera di kacamata penutup kepalanya. Siapa yang mendahuluinya? Tak mungkin bawahannya bisa menggerakkan banyak orang terlatih untuk membalas dendam kematian Gerry. Namun Ana tak mengenali satupun orang yang datang itu.


"Bodoh! Itu pasti bagian dari The Hunters yang ingin membebaskan kawan-kawan mereka yang ditahan!" Ana mengumpat sendiri.


Ana membelokkan arah peluncur roket ke tempat mobil-mobil yang menembaki kantor polisi.


"The Hunters ingin menyelamatkan teman-temannya yang ditahan? Kalian makan tuh!" ujarnya marah.


Sebuah roket ukuran kecil, meluncur menembus dan meledakkan mobil paling belakang. Mobil di sebelah dan yang didepannya ikut meledak sesaat kemudian. Teriakan membahana diselingi umpatan dan caci maki.


Kelompok yang bisa menyelamatkan diri, menembak ke arah belakang dengan membabi-buta, meskipun mereka tak melihat siapa yang meledakkan mobil itu.


Dengan teralihnya perhatian mereka, maka polisi jadi punya kesempatan melawan balik para penyerang yang telah melukai banyak petugas di bagian depan.


Tapi Ana tak menunggu di situ. dia sudah menyingkirkan mobilnya ke parkiran sebuah taman, dua ratus meter dari sana. Ana memasang mode Stealth pada pakaiannya.


Dia membuka pintu mobil dan keluar. Berlari cepat ke arah kantor polisi. Tak lama lagi, pasti bantuan dari kantor lain akan tiba, jadi peluangnya hanya kali ini, sebelum tahanan mendapatkan perlindungan ketat.


Ana memanjat pohon yang ada di halaman gedung samping kantor polisi. Dengan gesit dia naik lebih tinggi, untuk mencapai dinding lantai tiga gedung itu. Ana berpegangan pada dahan pohon yang menjuntai dekat dengan dinding.


Dahan pohon ini tak diwaspai karena di dinding ini tak ada balkon. Hanya ada sedikit bagian dinding yang timbul dan menjadi aksen gedung.


Ana berpindah dari dahan ke dinding dengan hati-hati. Tergelincir sedikit saja, bisa membuatnya jatuh.


Dengan radar infra red pada kaca matanya, Ana bisa melihat di mana orang-orang berada di balik dinding itu. Semua bersiap menunggu di satu posisi.


"Apakah itu pintu masuk? Atau pintu lift?" pikirnya. "Kenapa lantai ini sangat dilindungi? Kenapa mereka tak turun ke bawah dan membantu?" Ana belum mendapat jawabannya.


Ana melihat jendela di dekatnya. Dan di bagian itu, tak ada satu petugaspun menjaga. Ana mencoba membuka jendela, dan ternyata tak dikunci.


Perlahan dia masuk dan melihat bahwa itu adalah ruang pertemuan besar. "Pantas saja kosong," gumamnya.


Selanjutnya, dia kembali melihat, ada tidaknya petugas di balik pintu. Dan Ana terkejut karena ada orang yang berjalan mendekat ke pintu. Ana menyingkir.


Pintu terbuka. "Bawa para tahanan itu masuk ke sini!" perintah seorang polisi berpangkat lebih tinggi.


Beberapa orang dengan tangan diborgol, dibawa masuk ke dalam ruang pertemuan itu. Ana bersorak di hatinya. Tak perlu repot mencari lagi kalau begini.


Tunggu! Tahanan ini lebih dari dua belas orang. Lalu yang mana tahanan asli? Apakah ini bercampur dengan geng yang melakukan pelecehan di rumah sebelah?


"Ah, abaikan saja. Mereka penjahat semua!" batin Ana marah.


Seorang petugas memeriksa pintu dan jendela. Memastikan semua terkunci. Tiga orang polisi dengan senapan siap menyalak, menjaga ruangan di pintu.


Ana menggeleng. "Kalian bodoh atau bagaimana? Apa tak berpikir bahwa mereka sangat bisa mengatasi kalian bertiga?" pikirnya heran.


Benar saja. Tak butuh waktu lama, The Hunters dan anggota geng itu bekerja sama untuk mengatasi tiga polisi. Ana bisa membaca kode-kode mata yang mereka pakai.


Ana langsung melempar dua bom asap saat melihat lima orang bergerak serentak ke arah para polisi yang berteriak memperingatkan.


Semua orang terkejut menyadari bom asap yang datang entah dari mana. Ruangan itu penuh dengan asap putih yang mengepul. Kacamata infra rednya sangat membantu untuk bisa melihat sasarannya. Satu persatu orang-orang itu jatuh tanpa suara.


Ana melihat tiga polisi yang tergeletak sambil terbatuk-batuk dan menutup hidung serta mulut.


Digesernya tiga orang yang mengganjal pintu. Kemudian pintu dibuka, dan ketiganya segera didorongnya keluar. Pintu dikuncinya lagi dan ditahan dengan memindahkan meja pertemuan yang sangat berat.


Meski pelindung kepala dapat membuatnya bernafas bebas, namun Ana tak bisa berlama-lama. Suara sirine mengaung dari kejauhan adalah pertanda bala bantuan. Dia harus segera mengakhiri permainan.


Dibukanya jendela dan keluar perlahan. Sedikit asap yang lolos, tak terlalu kelihatan karena terhalang dahan pohon. Sebelum menutup lagi jendela itu, Ana melemparkan senjata-senjata rakitannya sendiri.


Teriakan membahana terdengar dari luar. Jeritan memilukan yang terdengar hingga ke halaman, dimana pasukan bantuan itu mendesak para perusuh.


Ana meraih dahan yang sama dengan saat dia naik tadi. Lalu menghilang dari sana.


"Dendam kalian sudah kubalaskan!" bisik Ana sambil melajukan mobilnya di jalan tol.


********