Code Name: ANGEL K05

Code Name: ANGEL K05
13. Stephany Austin


Sebuah mobil vw bettle kuning yang ditempeli stiker bunga ungu mencolok memasuki tempat parkir sebuah apartemen kelas menengah.


Tak begitu lama, seorang wanita tinggi semampai melenggang menuju pintu lobby. Gadis cantik itu mengenakan dress terusan rok pendek bergaya vintage. Warna putih berbunga pink. Dia memasuki pintu lobby bawah. Rambut ikalnya yang berwarna burgundy dijepit dengan manis di kiri kanan. Sebuah tote bag quilt ukuran sedang berada dalam jinjingannya.


Langkahnya santai dan berirama. Senyum ramah selalu terkembang. Dia berjalan menuju mail box dan mengambil semua surat yang ada di kotak bernama Stephany A.


Semua surat itu dimasukkan dalam tote bag. Dan dia kembali melangkah dengan riang. Memencet nomer kode apartemennya lalu....


Klikk!


Pintu masukpun terbuka.


Gadis itu melangkah santai menuju lift. Dia melewati meja reception tanpa menoleh.


"Nona Stephany Austin!"


Suara panggilan itu menghentikan langkahnya. Dcarinya asal suara.


Seorang gadis muda berwajah ramah memasang senyum di balik meja reception.


"Ya?" jawab Stephany.


"Manajer menitipkan surat untukmu," katanya ramah.


"Oh, baiklah...."


Stephany melangkah menuju meja reception. Gadis tadi sudah meletakkan sebuah surat bersampul coklat di atas meja.


"Katakan padanya surat sudah ku terima."


Stephany meraih surat itu dan memasukkannya ke dalam tas. Dia kembali melanjutkan langkah menuju lift.


Di Apartemen studio lantai 9. Gadis manis itu memeriksa semua surat. Membuat beberapa panggilan telepon dan menuliskan beberapa catatan di kertas. Lalu mengeluarkan ponsel dan membayar semua bill yang menumpuk. Seekor kucing putih asik berlarian ke sana kemari.


Satu jam kemudian, dia bisa menyandarkan punggung ke sandaran sofa. Memejamkan sejenak matanya yang lelah.


*


*


Dering ponsel membangunkannya. Dia sedikit terkejut. Lalu meraih ponsel dan mendengarkan.


"Aku sudah mengamankannya. Kau bisa ke sini kalau mau." Kata suara di seberang.


"Siapa?" tanya gadis itu.


"Yang menguntitmu tadi."


"Langsung bereskan saja jika tidak berguna!" suara gadis itu terdengar kejam.


"Oke!"


Klapp!


Telepon lipat jadul itu ditutup.


Dddrrrtttt....


Tangan gadis itu menyambar dengan cepat. Sebuah pesan masuk tanpa nomer pengirim.


JANGAN KE SANA! DIJAGA AGEN PEMERINTAH!


Gadis itu menutup telpon dan menuju kamar mandi.


Dengan wajah segar, dia membuka lemari pakaian. Memilih dalaman tank top biru tua. Dilapisi jaket dan celana panjang berbahan kulit warna hitam. Rambutnya dibiarkan tergerai. Dikenakannya sedikit make up untuk melengkapi penyamarannya malam ini.


Dia memasukkan spageti beku ke dalam microwave.


"Mimi, kau harus di sini untuk sementara ya. Jangan nakal saat aku tak ada."


Ya, gadis itu Ana. Menggunakan nama samaran Stephani Austin saat mengambil unit apartemen ini.


Ana mengelus kucing angora lucu itu. Dituangnya makanan dari box ke dalam food container hingga penuh. Diisinya dispenser air agar Mimi tak perlu kehausan. Harusnya itu cukup untuk 3 hari.


Selesai makan malam, Ana memasukkan Mimi ke dalam kandang besar. Dipastikannya tak ada yang kurang. Lalu bersiap untuk pergi.


Disambarnya kunci mobil, tas kecil dengan tali panjang diselempangkan di tubuhnya. Dan kacamata abu-abu berbingkai cokelat mempermanis penampilannya.


*


*


Sebuah mobil merah meluncur di jalanan ibukota. Jalanan masih cukup ramai meski jam sudah menunjukkan pukul 23:15.


Mobil itu berhenti di sebuah lahan kosong. Tapi Ana sama sekali tak khawatir meninggalkan mobilnya di situ.


Dia berlari cepat ke satu arah dibawah bayangan gelap pepohonan.


Setelah berlari sejauh kurang lebih 500 meter. Ana akhirnya berhenti di balik sebuah pohon. Di depan sana sebuah bangunan terlihat sepi. Hanya ada sebuah ambulans yang keluar dari sana sejak tadi.


Ana memasang kain penutup wajah. Membenarkan posisi kacamatanya. Mengunci posisi tali tas kecil itu agar melekat erat di dadanya. Dia mengendap-endap menuju pagar rumah sakit Sentral.


Ana menemukan posisi yang menurutnya tepat untuk dilompati. Ada sebatang pohon di balik tembok itu, yang bisa menyamarkan kehadirannya nanti. Dan tembok itu tidak tinggi. Dia bisa melompatinya tanpa alat.


Ana mundur beberapa langkah dari pagar. Dia bersiap dan mengambil ancang-ancang untuk melompat nan memanjat naik ke atas tembok.


Baru saja dia mau berlari. Seseorang menabraknya hingga jatuh ke samping.


Mereka bergelut dan berusaha untuk saling mengalahkan. Orang itu menahan tangan Ana di belakang punggungnya dan menindih tubuh gadis itu. Matanya berkilat. Tapi itu tidak terlihat jahat.


Tapi Ana tak ingin teralihkan. Dia bertekad untuk menjatuhkan orang itu dan melakukan rencananya.


Dengan usaha keras Ana berhasil melepaskan diri dan balik menindih orang itu. Ana menekan tangannya dengan keras untuk mengunci gerakan lawannya.


"Berdoalah sebelum mati!" desis Ana. Sebuah pisau kecil menempel di leher orang itu.


"Sssttt! Ana, ini aku," kata orang itu berbisik.


Anna terkejut. Tapi dia tidak mengendorkan pitingannya. Tangannya yang memegang pisau, menarik penutup wajah orang itu.


"Ammo?!"


******