Code Name: ANGEL K05

Code Name: ANGEL K05
158. Latih Tanding


"Apa kau ingin mencoba?" tawar Ellie yang melihat ketertarikan Ana.


"Aku pemula," Ana meragu sejenak. "Tapi, yeah ... kenapa tidak!" Akhirnya dia mengangguk setuju.


Ellie berdiri saat dua murid di gelanggang, selesai. Dia memanggil Ana untuk mendekat.


"Di sini ada pemula yang tertarik untuk mencoba. Siapa yang bersedia uji coba?" tanya Ellie pada murid-muridnya.


Seorang wanita dengan sabuk ungu mengangkat tangannya.


"Oke Tracy, kau boleh maju." Ellie mengijinkannya. Tak ada level yang lebih rendah lagi di situ. Gadis itu maju ke tengah gelanggang dan berhadapan dengan Ana.


"Ingat, ini hanya sesi latihan. Tidak boleh berniat menyakiti!" Ellie mengingatkan. Ana dan Tracy mengangguk.


Ellie kemudian merentang kedua tangannya untuk menempatkan kedua gadis itu di posisi masing-masing. Kemudian dia mundur ke pinggir gelanggang. Lalu berseru. "Mulai!"


Tracy membungkukkan badannya sedikit, memberi penghormatan. Ana juga mengikuti langkah Tracy. Lalu keduanya mulai memasang kuda-kuda dan saling mengawasi.


Setelah dua menit berlalu hanya saling mengawasi, Ana paham kalau gadis di depannya takkan mengambil inisiatif menyerang. Dia bersikap defensif, mungkin takut menyakiti Ana.


"Baiklah, biar aku yang mulai menyerang!" ujar Ana. Tracy mengangguk dan bersiap.


Dengan cepat Ana melompat tinggi, menetak punggung Tracy dengan jari telunjuknya. Kemudian bersalto diudara dan mendarat sambil berjongkok di sisi lain. Tracy terkejut dengan langkah cepat dan gerakan tak terduga itu. Dia kena pukul sekali. Tidak sakit, tapi itu jelas mengurangi poinnya.


Ammo tersenyum melihat gerakan Ana. Itu sama sekali bukan gerakan Ju jitsu. Itu langkah pertarungan khas Ana. Melompat dan melayang sambil memukul atau menendang musuh dari udara. Jika Ana menggunakan pisau seperti di lapangan sungguhan, makan sentuhan di punggung Tracy tadi sudah bisa membuat gadis itu jatuh tersungkur tak bergerak lagi.


Ellie dan Peter tertegun melihatnya. Ternyata Ana bukanlah gadis lemah yang buta cara bertarung. "Mungkin dia juga bagian dari anggota rahasia yang diikuti Ammo," bisik Peter pada Eleanor. Istrinya mengangguk.


"Lalu untuk apa dia butuh pengawal? Sekedar penyamaran sebagai gadis yang lemah?" pikir Ellie.


Di tempat penonton, tiga pengawal itu harus mengakui bahwa kemampuan Ana bukanlah di level pemula. Gadis itu sangat ahli dalam pertarungan lapangan. Dia mengincar titik berbahaya manusia. Jika dia memegang belati tentara, maka lawannya akan langsung meregang nyawa dengan jantung tertancap pisau dari belakang.


Tracy berbalik dengan cepat. Sekarang dia semakin waspada terhadap Ana. Jika dia kalah, itu akan merendahkannya, kalah dari seorang pemula teknik bela diri. Gadis itu mengakhiri sikap defensifnya.


Dia melangkah mendekati Ana dan berancang-ancang. Tangannya maju ke depan, siap-siap untuk mencari kesempatan menyerang Ana.


Ana tersenyum tipis. "Ini baru menarik," batinnya. Dia juga bersiap dan berdiri lebih dekat dengan Tracy. Kedua gadis itu memasang kuda-kuda, bersiap membuka serangan dan mendapatkan kesempatan menjatuhkan lawan.


Tracy melompat maju sedikit menyamping dan berusaha menjangkau badan depan Ana untuk menariknya jatuh.


Ana menghadapi langkah Tracy dengan mengelak, memundurkan punggungnya ke belakang, sekaligus menarik tangan gadis itu, menyilang badannya dan menghempaskannya ke lantai di sisi kiri.


Namun, meskipun jatuh, Tracy tak menyerah. Tangan Ana justru digenggamnya kuat dan ditariknya agar ikut jatuh. Kakinya mengait kaki Ana, hingga tubuh gadis itu oleng. Mereka berdua bertindihan.


Sekarang Ana berada di atas dan sedang berusaha mengunci Tracy. Tapi gadis itu dengan cerdik menggeser tubuhnya kesamping sambil kedua kakinya mengait pinggang Ana, lalu bangkit dan berhasil membanting tubuh Ana di atas matras.


Ana berusaha keras untuk bangun dan lepas dari kuncian. Tapi Tracy tak melepaskan tekanan lututnya dari dada Ana, meski gadis itu berupaya keras untuk mendorongnya ke belakang.


Di sisi lain, Ellie menghitung hingga sepuluh. Ana tak dapat melepaskan diri hingga akhir. "Tracy menang!" ujar Ellie.


"Kau cukup hebat untuk seorang pemula. Hampir aku mengira Tracy akan kalah," puji Ammo.


"Yang benar saja. Jangan mengejekku!" sungut Ana cemberut. Ammo merasa hatinya hangat melihat Ana cemberut manja seperti itu.


"Kak, sekarang giliran kita!" panggil Ellie dari tengah lapangan. Dia sudah bersiap. Dan ada Peter juga di sana.


Ammo tersenyum sumbang. Sekarang giliran dia yang akan dibanting Ellie. Pria itu bangkit dan melangkah dengan senyum lebar terpampang di wajah tampannya.


Melihat hal itu, Ellie memperingatkan murid-murid wanitanya.


"Hei, kalian jangan jatuh cinta pada kakakku. Gadis cantik itu adalah calon istrinya!" ujar Ellie pura-pura melotot.


Kata-katanya disambut derai tawa para murid di ruangan. Ammo merasa dirinya tak berdaya jika menghadapi Ellie.


"Ayo, fokuslah.. Bukankah kau sangat ingin menjatuhkanku? Aku takkan membiarkanmu menjatuhkan namaku di depan Ana!" tantang Ammo.


"Oh ... aku jadi sangat bersemangat mendengarnya," sambung Ellie.


Peter menatap Ammo tajam. "Ini hanya pertandingan. Jangan berniat untuk menyakiti!" ujarnya memperingatkan.


"Kau ini sekarang adalah seorang wasit. Jadi jangan memelotitiku!" protes Ammo.


Ucapannya mengundang tawa memenuhi ruangan.


"Selain sebagai wasit, aku juga sebagai suami!" Peter menjawab dengan nada ngotot.


"Ah ... katakan saja apa maumu? Mau aku mengalah lagi?" Ammo masih belum selesai dengan debatnya.


"Hei, sudah sekesai ngobrolnya apa belum? Apa kami bisa makan-makan dulu menunggu kalian ngobrol?" ujar Ellie tak sabar.


"Suamimu itu tidak bisa me jadi wasit di pertandingan kita!" Ammo masih protes.


"Baik." Ellie menoleh ke para penonton di sekeliling matras. "Kau, ke sini dan jadi wasit!" tunjuk Ellie pada seorang pria dengan sabuk orange.


Orang itu segera berdiri dan melangkah ke tengah arena. Kemudian mengangguk dan merentangkan tangan untuk mengatur posisi dua orang yang akan berlatih tanding.


Ellie dan Ammo bersiap di tempat masing-masing.


'Mulai!" ujar wasit.


Ellie dan Ammo saling menghormat sebelum pertandingan. Kemudian keduanya memasang kuda-kuda dan saling mengawasi dengan ketat. Jarak keduanya tidak berjauhan. Masih memungkinkan untuk saling menendang lawan dari tempatnya.


Ammo masih mengingat gerakan-gerakan ju jitsu, meskipun telah lama tak berlatih di dojo. Latihan beladiri ini seperti halnya naik sepeda. Sekali dia mengetahui caranya, maka dia akan terus mengingatnya. Seperti sebuah insting, gerakan tersebut akan keluar dengan sendirinya jika dia bertemu musuh dalam jarak dekat.


Pada dasarnya, Ammo mempelajari banyak seni bela diri. Hal itu sangat penting baginya, terkait keterlibatannya dengan Biro Klandestine. Dia harus bisa melindungi dirinya sendiri, tak boleh terlalu mengandalkan ratusan pengawal untuk menjaga selembar nyawanya.


*****