Code Name: ANGEL K05

Code Name: ANGEL K05
78. Perubahan Ana


"Theo, apa masih ada makan malam?" tanya Ammo.


"Sudah disiapkan, Tuan!" jawab Theo cepat.


Dia berjalan mendahului, untuk melihat persiapan di meja makan. Tadi Ammo sudah memintanya menyiapkan hidangan untuk beberapa orang.


Seorang pelayan lain melaporkan pekerjaannya pada Theo. "Kamar-kamar sudah siap," lapornya.


"Bagus!" Theo mengangguk sambil mengelilingi meja makan. Dia mengangguk puas.


"Kalian bisa ke dapur, sekarang!" perintah Theo.


Semua pelayan wanita menghilang di dapur saat Ammo tiba. Dilihatnya Theo berdiri di ujung meja, dekat kursi kepala keluarga.


"Mari kita makan dulu."


Ammo berjalan menuju kursinya yang sudah ditarik Theo. Kemudian duduk dan mempersilahkan teman-temannya untuk duduk.


Mereka menikmati makanan dengan santai, sambil mengobrol ringan. Theo yang sibuk melayani Ammo, merasa puas melihat semua hidangan di meja, dihabiskan tanpa sisa. Dia merasa bangga.


Sudah sangat lama tak ada tanu untuk jamuan makan. Taj ada lagi yang akan mencicipi hasil masakan koki rumah besar ini, selain Ammo. Sekarang, koki tua itu pasti sangat bahagia di dapur.


"Malam sudah larut. Lebih baik beristirahat saja sekarang. Besok pagi, kita bahas rencana selanjutnya," putus Ammo.


"Oke, Bos!" sahut Ariel.


Tapi Ana masih duduk diam di meja makan. Ammo meminta Theo mengantarkan tiga temannya ke kamar yang disiapkan.


"Aku akan berangkat tidur. Kau bisa tunggu Theo untuk menunjukkan kamarmu," ujar Ammo datar. Dia terlalu lelah dan sedang tidak mood untuk berdebat dengan Ana.


Ana hanya diam. Dia meresapi suasana rumah ini. Bayangan masa remajanya muncul. Dia mulai mengingat ruang-ruang ini.


Tanpa sadar, kakinya melangkah ke ruang keluarga. Dilihatnya sebuah piano besar di situ. Ana melangkah tanpa ragu ke sana. Dia duduk di kursi dan membuka penutupnya.


Dengan lembut, ujung jarinya ditarik menyentuh seluruh tuts dari ujung kiri hingga ujung kanan. Suara yang halus berirama naik, kemudian turun pun terdengar.


Ana tersenyum. Memori masa remajanya memguat. Dia bersiap, dan mulai memencet tombol-tombol piano mengikuti nitasi yang tiba-tiba muncul di benaknya.


Theo terdiam diujung sana, melihat wanita muda itu memainkan piano. Nada yang dulu sering dimainkan oleh gadis dari panti asuhan di ujung jalan.


"Siapa gadis ini? Kenapa Tuan membiarkannya berkeliaran? Juga tidak meributkan ketidak sopanannya di pintu masuk."


Theo berpikir keras. Tapi Theo merasa tuannya tidak terlalu mengistimewakan gadis ini. Karena tidak memintanya menyiapkan kamar khusus untuknya.


Musik telah berhenti. Ana menyadari ada orang yang mengawasinya. Dia menoleh dan jemudian tersenyum pada Theo.


"Hai, Theo! Aku tau kau pasti tak bisa mengenaliku," ujar Ana riang. Musik dan ingatannya yang kembali menyeluruh, nembuat gatinya berbunga.


"Maafkan orang tua ini, Nona," sahut Theo sopan.


"Aku Ana, yang dulu tinggal di Panti Asuhan ujung jalan sana!" seru Ana gembira.


Theo jelas terkejut. Diperhatikannya lagi wajah Ana yang berbeda dari ingatannya.


"Benarkah?" tanya Theo tak percaya. Kenapa Kau terlihat berbeda?"


"Ah, soal itu ... panjang ceritanya," keluh Ana.


"Aku ingin tidur sekarang. Di mana kamarku?' tanya Ana dengan mata membulat lucu ke hadapan wajah Theo.


Theo terlonjak kaget. Dis mundur selangkah dan menahan dadanya yang berdebur keras.


"Astaga, kau masih seusil dulu. Hahahaha." Theo tertawa dengan canggung.


"Mari kuantar ke kamarmu," sambungnya lagi. Sekarang, ketenangannya sudah kembali.


"Theo, rasanya tak banyak yang berubah, di sini," komentar Ana sambil melangkah.


"Memang tidak banyak yang berubah, Nona." Theo membenarkan penilaian Ana.


"Hanya makin sunyi. Tidak ada lagi Tuan Dan Nyonya Oswald yang selalu sangat ramah pada kami," komentar Ana lagi.


"Ini kamar Anda, Nona. Semua keperluan sudah disiapkan di dalam. Besok pagi, sarapan sudah akan siap pukul tujuh pagi," jelas Theo.


"Oke!" Ana mengangguk.


Theo kemudian berlalu, setelah Ana menutup pintu kamar. Dia masih harus membereskan beberapa hal di dapur, sebelum beristirahat.


*


*


Ana sudah siap dengan baju olahraga. Dia melihat Ammo juga turun dari tangga dan berjalan ke pintu. Theo menerima beberapa instruksi dari Ammo.


"Selamat pagi," sapa Ana dari karak empat meter. Dia tak ingin dianggap menguping pembicaraan orang lain.


Ammo melihat pakaiannya. "Kau mau jogging?" tanyanya.


"Ya. Apa kau juga mau joging?" tanya Ana lagi.


"Hemm. Ayo bersama," ajak Ammo.


Keduanya menuju halaman belakang. Di sana bertemu dengan kapten Smith yang juga sudah berpakaian olah raga.


"Ayo!"


Ammo mulai lari, diikuti kapten Smith. Ana mengikuti. Tapi, ada hal yang menganggu konsentrasinya. Di belakang mereka, ada satu pasukan pria berotot kekar dan bertubuh atletis, juga lari mengikuti.


"Ammo, siapa mereka?" tanya Ana.


"Hanya pengawal rumah ini," jawab Ammo santai.


"Penjaga rumah apanya? Ini sih satu kompi!" batin Ana. Dia geleng-geleng kepala dengan cara hidup Ammo. "Apa dia mau membuat pasukan sendiri?"


"Tunggu!" batinnya.


Dulu hidup Ammo sangat santai dan banyak bermain serta bersenang-senang, selain belajar.


"Apakah yang dikatakan Nick benar? Akulah yang merubah vara hidup Ammo? Kehidupanku yang berbahaya, membuat hidupnya mau tak mau juga ikut dalam bahaya." batinnya sedih.


Ana lebih sedih lagi, saat menyadari dari mereka berlima, orang paling awam seperti Adriana-lah yang lebih dulu jadi korban. Sanders juga jadi korban karena kepolosannya. Beruntung Ammo sudah mengantisipasi semua itu, dengan membuat perlindungan diri yang lebih kuat.


Menurut Ana, Ammo adalah orang yang berpandangan jauh ke depan. Dia sudah mengantisipasi segala hal yang mungkin terjadi, akibat dari ikut terjun ke dunia spionase bersama Ana dan George.


"Ana!" panggilan Ammo mengejutkan dan membuyarkan pemikirannya.


"Ya?" jawabnya sambil mengangkat wajah. Tapi di depannya tak ada seorangpun.


Diputarnya kepala untuk melihat ke arah lain. Ammo ada di belokan jalan taman, berjalan ke arahnya. Ana segera menghampirinya dengan bingung.


"Ada apa?" tanya Ammo.


"Tidak apa-apa. Aku merasa tenpat ini sepertinya familier," elaknya.


"Bagus sekali. Kita memang biasa kemping di sini saat itu. Tapi, taman ini sudah berubah. Lapangan berumput itu sudah berubah jadi kolam air mancur." Ammo menunjuk kolam air mancur tak jauh dari keduanya.


"Oh, pantas saja." Ana mengangguk-angguk sambil tersenyum. Keduanya kembali melanjutkan lari pagi.


"Aku tadi malam mulai mengingat tentang rumahmu, setelah memainkan piano di ruang keluarga," ujar Ana senang. Wajahnya terlihat berseri-seri.


"Itu sangat bagus. Aku senang mendengarnya. Mungkin aku harus membawa Sanders ke sini, dan kita kemping bersama, baru ingatannya bisa pulih." Tiba-tiba ide itu muncul di kepala Ammo.


"Kita harus mencobanya!" ujar Ana bersemangat.


Ana optimis itu akan berhasil. Jadi, tak ada salahnya dicoba. Mereka butuh informasi Sanders tentang pusat kesehatan yang melakukan operasi pada Ana. Dan bisa jadi, juga dilakukan pada orang-orang lainnya.


"Baik. Kita akan temui saudara kembarmu dulu. Kemudian menemui Sanders."


Ammo merasa senang melihat sikap Ana yang mulai lebih rileks dan ekspresif seperti saat mereka remaja. Berbeda dengan Ana yang angkuh, dingin, ketus dan kejam karena pengaruh Biro K.


*******