Code Name: ANGEL K05

Code Name: ANGEL K05
179. Khouk Terluka


"Apakah dia sudah mati?" tanya Khouk. Dia datang mendekat, untuk ikut melihat ke bawah.


"Bagus jika belum mati. Aku bisa menyiksanya lagi!" sahut Ana dingin. Dia berbalik dan berjalan menuju tangga ke lantai empat.


"Lantai dua tadi sudah dilalap api. Kita harus mencari cara untuk keluar!" Khouk menyusul Ana yang hanya mengangguk.


"Kita cari dulu berkas-berkas yang bisa kita jadikan sebagai bukti kejahatan mereka!" ujar Ana.


Keduanya turun ke lantai empat yang menjadi kantor pimpinan biro. Ana dan Khouk memeriksa laci-laci dan mengambil beberapa file. Gedung itu terbakar. Jadi tidak ada aliran listrik yang bisa dipakai untuk memeriksa file di desktop kantor. Khouk membawa cpu yang ada di ujung meja kerja sekretari. Ana mengambil berkas-berkas yang sekilas dibacanya cukup penting.


"Pemimpin, Bagaimana keadaan di atas sana?" suara Gan terdengar.


"Kami baik-baik saja. Bagaimana di bawah?Apakah ada yang keluar dari lantai bawah?" tanya Ana.


"Ada. Mereka terlalu lemah untuk melawan. Jadi kami ikat dan amankan!" sahut Gan.


"Berapa orang yang selamat?" tanya Ana lagi.


"Sebelas orang!" jawab Gan.


""Berjati-hatilah dengan kelicikan mereka!" pesan Ana.


"Ya!'


Ana memeriksa ruangan lain yang menjadi ruang wakil pimpinan biro. Dia mendapatkan cukup banyak file dan laptop yang tak sempat disembunyikan.


"Khouk, apa kau sudah selesai?" teriak ana ke ruangan pertama.


"Sebentar! Masih ada beberapa yang perlu diambil juga." Suara Khouk datang dari ruangan ketiga. Ana menyusul ke sana.


"Ini ruangan cctv!" seru Ana.


"Ya! Dengan mengambil beberapa rekaman, kita bisa mengetahui kejadian di kantor ini," timpal Khouk sambil melepas cpu yang ada di situ.


"Bukankah itu berat?" tanya Ana.


"Ya. Tapi ini sepadan!" ujar Khouk.


"Apa kita akan turun dari sini atau dari lantai tiga?" tanya Khouk.


"Sudah terlalu banyak asap. Kita terpaksa turun dari sini!" balas Ana.


"Beruntung kita punya suit pelindung dan masker khusus. Kalau tidak, kita akan pingsan di tengah-tengah asap!" komentar Khouk.


"Berterima kasihlah pada Ammo karena sudah menyediakan berbagai peralatan ini!"


Ana membuka jendela kaca dan melihat ke bawah. "Lumayan tinggi," gumamnya. Khouk memberinya tali. Dengan cekatan keduanya mengikatkan tali pada kaki meja berukir yang berat di ruangan itu.


Tali dilemparkan lewat jendela ke bawah. Gan dan beberapa anggota klan sudah siap menunggu di bawah sana. Tali diikatkan ke batang pohon, tempat Ana tadi memanjat. Khouk memasukkan dua cpu yang diambilnya ke dalam kotak karton. Dia bersiap meluncurkan benda itu ke bawah.


"Ini berat! Hati-hati!" teriaknya dari atas.


"Ya!" sahut orang yang menunggu di bawah.


"Kotak itu meluncur lebih dulu dan mendarat dengan selamat.


"Sekarang anda harus turun lebih dulu, Pemimpin," ujar Khouk.


"Ana tak mau berdebat. Jadi dia mengangguk dan segera menyelipkan laptop yang diambilnya ke dalam jaket kulit yang dikenakannya. Dia bersiap untuk melompat turun.


"Cepat! Api sudah mulai terlihat dari jendela lantai tiga!" teriak Gan khawatir.


Ana melompat dan meluncur dengan cepat. Udara panas menyergapnya saat melewati jendela lantai tiga. Dia berhasil mendarat dengan selamat. Dengan cepat Ana menoleh pada Khouk.


Khouk sudah berdiri di bibir jendela dan bersiap melompat turun, saat ledakan dahsyat menggetarkan gedung itu dan menyemburkan api serta asap pekat ke seluruh jendela yang kacanya pecah berhamburan.


Orang-orang di bawah segera berhamburan, menghindar dari serpihan kaca yang beterbangan.


"Khouk! Khouk!" teriak Ana histeris. Dia berontak saat Gan menariknya lari dari tempat berbahaya itu.


Dari balik mobil yang menjadi tempat perlindungan, Ana masih berusaha melepaskan diri dari cekalan Gan dan seorang anggota klan lain. Dia ingin mencari Khouk.


"Sekarang masih sangat berbahaya. Kita tak tahu ada berapa banyak bom yang mereka simpan di gedung ini!" larang Gan matanya menatap Ana tajam.


"Jika kau yang ada di sana, aku juga akan berlari untuk menyelamatkanmu!" bentak Ana marah.


"Aku tahu anda seperti itu, Pemimpin. Dan kami bangga dengan sikap anda yang seperti ini. Tapi kami memang mengabdi untuk anda. Adalah kebanggaan bisa melayani dan melindungi anda. Kami tidak pernah rela anda membahayakan nyawa demi kami!" jelas Gan panjang lebar.


Sebuah ledakan kembali terdengar. Kali ini ledakannya beruntun. Semua orang sekarang berlindung di dalam mobil yang anti senjata.


Mata Ana berkaca-kaca. Pandangannya tertuju ke arah pohon yang diselimuti asap pekat dan jilatan api. Sebagian besar daun pohon itu sudah hangus karena diterpa udara yang terlalu panas.


Setengah jam kemudian.


Ledakan mereda, tetapi api telah mencapai atap gedung. "aku harus memeriksa ke sana!" Ana bersikeras.


Gan juga tak menahannya lagi. Bersama beberapa orang, mereka menyisir tempat itu, mencari keberadaan Khouk.


"Khouk!"


"Khouk!" teriak beberapa orang, memanggil.


Terdengar keluhan samar di dekat pohon. "Khouk di sini!" seru seseorang.


Ana berlari ke tempat itu. Tali masih membelit tubuh pria itu. Di tubuhnya terdapat luka-luka. Beberapa pecahan kaca masih menempel. Dia masih sempat berlindung di balik pohon. Tapi tampaknya dia harus menerima akibat dari ledakan dahsyat pertama.


"Dia terluka parah. Bawa dia!' ujar Ana.


"Ammo, Khouk luka parah!" ujar Ana.


"Sawyer akan menjemputnya. kau harus ikut bersamanya!" kata Ammo cepat.


Anggota klan melakukan pertolongan pertama. Pecahan-pecahan kaca itu tidak menancap di tempat fatal. Tapi mungkin Khouk membentur pohon atau terhempas ke tanah. Sepertinya hal itulah yang membuatnya kesakitan. Mereka mencabut pecahan kaca di bagian punggung, kemudian membalut tubuhnya dengan kain.


Mereka menunggu Sawyer tiba. "Kau harus membawa mereka semua kembali. Dan orang-orang yang diamankan itu, bawa ke tempat yang dikatakan Ammo. Sebaiknya kalian bersembunyi dulu di sana hingga situasi mendingin," perintah Ana.


"Tapi tugasku adalah melindungi anda, Pemimpin." Gan kembali protes.


Ana menatapnya tajam. "Khouk terluka. Hanya kau yang bisa menggantikan dia memimpin orang-orang ini. Sementara aku aman bersama Khouk. Bisakah kau mengikuti perintahku tanpa menyela?" tanya Ana.


Gan menunduk. "Baik, Pemimpin," sahutnya enggan.


"Aku mempercayaimu untuk menjaga mereka semua tetap aman di tempat persembunyian itu. Apa kau bisa menerima tugas ini?" tanya Ana lagi.


"Bisa!" sahut Gan cepat.


Suara helikopter terdengar. Tak lama terlihat heli yang biasa dibawa Sawyer. Burung besi itu mendarat di halaman depan gedung yang luluh lantak. Dengan cepat Khouk dimasukkan dan Ana mengikutinya.


"Kalian langsung pergi setelah aku pergi!" pesan Ana.


"Baik!" sahut mereka. Semuanya memasuki mobil masing-masing dan bersiap untuk pergi juga dari sana.


Sawyer membawa terbang helikopternya. Ana mengawasi Khouk yang diikat kuat pada brankar. Dia tak sadarkan diri saat ini.


********