
Hari yang ditunggu-tunggu akhirnya tiba. Nathalie dan ibu tirinya menemani Anastasia berdandan. Dua pelayan pribadinya itu sangat terampil. Mereka ternyata juga sangat mengerti arti dari simbol-simbol yang terdapat pada baju pengantin yang disiapkan oleh bagian rumah tangga kediaman pemimpin klan.
"Pernikahan adalah hari yang tepat untuk mengambil langkah baru," nasehat ayahnya setelah Ana siap.
Ana mendengarkan petuah orang tua itu. "Sekarang saatnya kau melupakan segala masa lalu yang pedih dan menyakitkan itu di belakang. Lupakan semua dendam dan ketidak puasan di dalam hatimu."
"Mulailah rumah tanggamu dengan kedamaian. Hidup yang tenang demi penerus klan ini. Kau harus membawa perubahan bagi klan kita. Cita-cita besarmu memajukan klan hanya bisa kau raih dengan kerja keras sepenuh hati. Kami keluargamu, akan mendukung tiap keputusan baik yang kau buat."
"Kau bicara berputar-putar." Ibu tiri Ana menegur ayahnya. "Katakan saja maksudmu yang sebenarnya!" tambahnya lagi.
Nathalie dan adik laki-lakinya terkikik geli di belakang.
"Maksudku, dia sebaiknya melupakan semua urusan pembalasan dendam, meskipun ada ketidak puasan di hatinya. Bagaimana pun, sebagian besar orang-orang itu sudah mati dan juga sudah dihukum oleh Ammo."
"Aku hanya ingin tahu di mana ibuku dimakamkan." Ana menunduk. Hal itu memang menjadi ganjalan baginya.
"Biarkan Ammo yang mengurus urusan negara itu dan mencari tahunya. Kau tak perlu lagi turun tangan secara pribadi. Ayah dan terutama klan ini, tak ingin kehilangan pemimpin klan gara-gara dia tewas saat sedang memata-matai pihak lain!" kata ayahnya tajam.
"Paman akan ikut mencarinya. BAgaimana pun juga, ibumu adalah adikku. Itu tanggung jawabku," timpal Alexei.
"Kau sudah harus lebih menaruh perhatian untuk mencari istri!" tegur Yuri mengingatkan.
"Apa tak ada yang ingin menyarankanku untuk segera menikah juga?" Nathalie merajuk.
"Nah! Tenang saja. Paman hanya akan menikah setelah kau menikah!" tukas Alexei cepat.
"Padahal, aku ingin menjodohkan paman dengan Brandy." Ana terlihat sedikit kecewa.
"Brandy? Gadis cantik teman Ammo itu?" Alexei memaastikan. Ana mengangguk dengan ekspresi cemberut.
"Dia boleh juga." Alexei bertingkah seolah-olah sedang berusaha mengingat seperti apa gadis bernama Brandy yang disebutkan Ana.
"Paman! Barusan saja kau berjanji padaku!" tegur Nathalie kesal.
Alexei tertawa dan memeluk gadis itu. Kau kesayanganku. Mana mungkin aku mengabaikanmu. Tapi kalau ada gadis cantik yang bersedia menjadi istriku, aku tak mungkin menolak juga, kan?" katanya menggoda Nathalie.
Gan datang dengan kotak besar yang diminta Ana. Ana membuka kotak di tangan Gan. Diambilnya seuntai kalung permata dari sana dan menetakkannya di leher. Semua terpana.
"Indah sekali. Itu pasti perhiasan yang sangat mahal!" celetuk Nathalie.
Ana mengangguk. Hadiah dari Ammo. Warisan dari ibunya. Akan kukenakan saat upacara pernikahan," kata Ana.
Ibu tirinya membantu menasangkan pengait di belakang tengkuknya. Kemudian menyusul anting, gelang dan cincin yang serupa.
"Terima kasih, Bu." Ana tersenyum ke arah wanita paruh baya yang manis dan baik itu.
Seorang pelayan masuk dan mengabarkan bahwa rombongan Ammo sudah sampai di lapangan terbuka depan kediaman mereka.
"Apakah semuanya sudah siap dan aman?" tanya paman Ana pada salah satu pengawal Ana.
"Pemeriksaan terakhir, setengah jam yang lalu. Tuan Kouk dan Xander juga sudah menempatkan lebih banyak pengawal di sana!" jawabnya.
Paman Taban mengangguk. Tetap perhatikan tugas penting kalian. Melindungi pemimpin klan, sebanding dengan nyawa kalian!" katanya memperingatkan.
"Baik, Tuan." Pengawal itu mengangguk. Dia segera menghubungi pengawal lain yang berada di lapangan, tempat acara pernikahan dilangsungkan.
Ana mengangguk pada ayahnya. Pria itu segera mengerti. "Saatnya kita mengantarkan Pemimpin Klan ke tempat upacara pernikahannya," ujarnya.
Pria itu menggandeng tangan Ana. Mereka berjalan di belakang Nathalie dan adik lelakinya, Sacha. Di belakangnya, mengikuti ibu tiri dan istri Yuri. Setelah itu Alexei dan Yuri. Baru kemudian paman tiri bersama istrinya. Di belakangnya lagi adalah anak-anak mereka dan juga anak-anak Yuri.
Untuk mencapai laangan, rombingan itu harus menyeberangi jalan raya yang sekarang sudah dibentang dengan karpet merah sebagai penanda jalur yang harus dilalui oleh Ana dan keluarganya.
"Aku merasa gugup, Ayah," bisik Ana lirih.
Pria itu menepuk-nepuk punggung tangan Ana. Tarik napas panjang dan hembuskan perlahan. Lakukan itu beberapa kali sampai kau tenang. Kau pasti bisa melalui ini." ujar ayahnya menguatkan.
Sambil jalan, Ana menghela napas beberapa kali. "Apa anda butuh minum, Pemimpin? tanya Gan sambil menyodorkan botol minuman pada gadis itu.
Dengan cepat Ana meraih botol itu dan menenggak isinya. Air dingin itu terasa menyegarkan di tenggorokannya.
"Terima asih, Gan. Ini sangat membantu." Botol itu dikembalikan pada Gan, yang dengan cepat menggantungnya di pinggang.
Sebagian lapangan sudah penuh dengan rangkaian bunga dan susunan kursi yang dijejer rapi menghadap tempat upacara pernikahan. Para tamu undangan sudah datang dan duduk di kursi masing-masing.
Semua mata memandang takjub melihat gadis cantik itu berubah menjadi dewi di hari bahagianya. Sorotan lampu kamera dan video tak putus mengabadikan momen sakral itu.
Di altar, telah menunggu tetua klan, seorang pemuka agama dan juga Ammo. Pria itu tersenyum lebar memberinya semangat untuk melewati barisan bangku yang sangat panjang menuju ke altar.
Gaun panjang tradisional klan berwarna hijau jamrud dengan aksen bordir kuning keemasan di leher dan ujung lengan, dan bawah gaun. Plus perhiasan permata mewah yang dikenakannya, membuat keanggunan gadis itu makin tampak nyata.
Ayahnya mengantarkan Ana hingga ke altar, lalu menyerahkan tangan putrinya ke atas tangan Ammo. LAlu pria itu mengambil posisi di sebelah istrinya, di kursi paling depan.
Upacara pernikahan itu tidaklah semenengangkan yang dipikirkan Ana. Ternyata tak terlalu sulit juga untuk menikahkan pasangan sesama anggota klan. Kedudukan Ammo yang menjadi pejabat Presiden di negara Slovstadt, membuatnya tak perlu melewati test rumit untuk mendapatkan pengakuan dan persetujuan para Tetua Klan.
Rakyat yang tidak kebagian kursi, bertepuk tangan dan bersorak gembira saat upacara pernikahan selesai dengan lancar. Mereka berbaris rapi mengelilingi tempat upacara itu.
"Akhirnya, kau menjadi istriku," bisik Ammo sambil tersenyum mesra.
"Kuharap kau tidak menyesali hal ini," goda Ana.
"Tidak akan. Aku ustru sudah menyiapkan banyak rencana untuk bulan madu kita selama seminggu ini."
Ammo berbisik terlalu dekat dengan telinganya, hingga Ana merasa sedikit geli dan ada sensasi aneh yang membuat wajahnya memerah. Secara refleks, tangannya mendorong tubuh pria itu menjauh.
Ammo tertawa kecil melihat sikap malu gadis itu. Tangannya meraih pinggang ramping Ana. "Kau tak bisa lari lagi sekarang," katanya menggoda.
"Jangan memaksakan keberuntunganmu!" desis Ana dengan wajah merah padam. Dia merasa sangat malu melihat sikap Ammo yang sangat tak tahu malu itu. Beraninya memeluk pinggangnya di depan pandangan semua anggota klan!
"Cium ... cium!" terdengar teriakan yang memberi Ammo semangat untuk menaklukkan Ana.
"Kau dengar itu?" kata Ammo dengan senyum jahil.
"Memalukan!" Ana berusaha melepaskan rangkulan tangan Ammo, tapi tak bisa.
"Cium! Cium!"
Ammo tak menunggu kesempatan lain lagi. Dengan sigap, sebelah tangannya merengkuh tengkuk gadis itu dan membimbingnya ke arah wajahnya.
Teriakan cium ... cium terus terdengar. Dan disusul sorak sorai gegap gempita tatkala Ammo berhasil menaklukkan Ana dengan ciumannya di depan ratusan pasang mata yang menontong, termasuk sorotan kamera video!
"Jika tak kau lepaskan sekarang, aku takut kau akan berakhir di rumah sakit!" ancam Ana dengan rasa malu tak terkira.
"Kau istriku sekarang. Dan kita sedang di upacara. Jadi biarkan anggota klanmu bahagia melihatmu memulai hidup yang baru!" kata Ammo ngotot.
Ana tak bisa berdebat dengan pria itu. Jadi dengan terpaksa, mereka terus berangkulan selama beberapa menit dan memasang senyum kikuk di wajahnya.
Ibu tirinya menghampiri. "Mulai sekarang, kau adalah penjaganya, menggantikan ayahnya. Jadi jangan pernah lengah dan merasa bosan padanya!"
"Aku akan mengingat pesan Anda," jawab Ammo sembari mengangguk.
Keduanya masih menerima ucapan selamat dari para tamu dan kerabat Ammo.
"Ke mana kau mau membawa keponakanku berbulan madu?" tanya Alexei.
"Satu tempat yang sudah sejak lama ingin kukunjungi. Mungkin sekarang sudah waktunya melihat tempat itu," ujar Ammo.
"erdengar seperti sebuah petualangan, bagiku." Alexei menatap Ammo penuh selidik.
"Jangan kacaukan kejutanku!" keluh Ammo.
"Kau mau mengajakku berpetualang?" Mata Ana langsung berbinar bahagia,
"Kau suka?" tanya Ammo.
"Tentu saja. Itu selingan yang bagus untuk melupakan urusan klan selama beberapa waktu." Ana mengangguk senang.
"Sore nanti kita pergi!" ujar Ammo pasti.
Spontan Ana mencium pipi Ammo sebagai tanda terima kasih. "I love You!" katanya bahagia.
Moment langka itu berhasil diabadikan dalam rekaman video upara pernikahan mereka. Semua bersorak gembira melihat Pemimpin Klan mereka bahagia.
END
*********