
45 menit kemudian.
"Kita sampai, nyonya," kata sopir itu sopan.
Mobil berhenti dengan halus, tepat di depan pintu lobby gedung perkantoran megah dan terkenal di kota ini. Gedung Oswald Strategic Tower. Satu kompleks dengan Oswald Boutique Hotel. Di blok lain Juga berdiri menara lain. Oswald Green Apartmen komplit dengan Mall megah di bawahnya.
Ana keluar setelah membayar sopir taxi itu. Dia masih berdiri di situ dan memandang ke arah jendela-jendela kaca yang tersusun tinggi menjulang. Taxi berjalan pergi.
Ana melangkahkan kakinya, menuju arah parkiran di basement. Gedung perkantoran telah sepenuhnya tutup di hari Minggu. Tapi beberapa orang masih keluar masuk melalui lantai basement.
Dia menuju satu pintu yang terlihat seperti umumnya pintu ruang maintenance. Dia meletakkan jarinya di alat pendeteksi sidik jari.
Klik!
Pintu itu terbuka otomatis.
Ana diarahkan pada satu jalur tertutup. Di sepanjang dinding, cahaya kebiruan berjalan turun naik. Itu untuk memeriksa apakah seseorang membawa senjata ke dalam. Di ujung sana ada seorang petugas berdiri dibalik bilik kaca anti peluru.
Dia langsung mengarahkan wajahnya ke depan layar yang memeriksa pola wajah dan iris matanya.
"Granted!"
Klikk!
Pintu di depannya terbuka.
Ana masuk dan segera harus berhadapan dengan pemeriksaan petugas yang tadi dilihatnya. Clutch Ana diletakkan di meja bersama Mimi.
Petugas itu memeriksa tubuhnya secara manual. Memeriksa senjata sekecil apapun yang mungkin disembunyikan.
Ana menggertakkan giginya menahan geram saat tangan petugas itu berhenti lama di atas dadanya. Ditatapnya petugas itu dengan tajam.
Pemeriksaan kembali dilanjutkan.
"Apa kau bosan hidup?!" kata Ana dingin saat tangan pemeriksa itu menekan pahanya dan berputar-putar memeriksa di bagian itu.
"Remember this. My code name is Angel K 05!" bisik Ana di telinga petugas mesum itu.
Tangan petugas itu langsung kaku. Dia segera menyudahi pemeriksaannya pada tubuh Ana. Tapi dia masih mencoba mencari celah kesalahan Ana untuk menutupi perbuatannya tadi.
Dibukanya clutch kulit dan menumpahkan semua isinya secara kasar di meja. Sebuah lipstik melayang jatuh ke arah lantai.
Ana dengan gesit menjangkaunya. Lalu memegang lipstik itu dengan ibu jari dan telunjuknya, diarahkan ke wajah si petugas.
"Apakah orang baru tidak mendapat training? Apa mereka tidak memberitaumu bahwa kau bisa meledakkan seluruh gedung bila benda ini jatuh ke lantai?!" bentak Ana marah.
'Ada apa dengan tempat ini sekarang?' pikirnya tak mengerti.
Ana lalu mendekati cctv yang berada di depan pintu masuk lainnya.
"Ammo! Aku mau dia dikirim ke camp pelatihan!" teriak Ana ke arah cctv sambil menunjuk petugas yang sudah terlihat gugup.
Petugas itu hanya bisa diam terpaku. Dia menyesali kecerobohannya.
Pintu penghubung telah dibuka, Ana mengayunkan langkah lebar. Dia sudah tak sabar. Dan selalu emosi setiap kali datang ke sini.
Seorang petugas berlari ke arahnya. Lalu mengikuti irama langkah Ana.
"Anda diminta langsung ke sana."
"Hemmm." Ana mengangguk tanpa mengurangi kecepatan langkahnya.
Mereka berbelok ke kanan untuk menggunakan lift khusus. Setelah menggunakan kartu pass si petugas, pintu lift terbuka. Keduanya masuk.
*
******
"Dia akan mengamuk lagi di sini!" Seseorang terkekeh melihat ke layar komputer.
Teman bicaranya tak menanggapi.
"Ammo, jika kau mencintainya, katakan saja padanya. Dia harus tau kebenarannya agar berhenti membencimu!" kata orang itu pada pria yang duduk di belakang meja besar di tengah-tengah ruangan.
Pria tampan itu menggeleng. Matanya terpejam. Dia tak ingin orang lain melihat luka yang terpancar di matanya.
"Kau selalu mendukungnya, melindunginya. Berkorban untuknya. Tapi dia justru mencurigaimu sebagai pengkhianat!" pria cerewet itu terlihat tak puas.
"Entah terbuat dari apa hatimu itu." ujarnya heran.
"Dia akan segera tiba. Pergilah jika kau tak ingin bertengkar dengannya." Ammo akhirnya buka suara.
Pria itu kembali ke mejanya. Merapikan barang-barang pribadinya, lalu berdiri.
Tok... tok...
Klikk!
Pintu ruangan itu terbuka. Dan seorang gadis cantik menerobos masuk sebelum pengantarnya sempat bicara. Pintu kembali ditutup.
Lalu gadis itu berhenti sejajar dengan meja yang ada di kiri.
"Hai James, kenapa kau tak segera angkat kaki dari sini!"
Itu bukan pertanyaan. Tapi perintah.
"Hai Angel. Aku memang ingin pergi makan siang. Kau mau dipesankan sesuatu?" tanyanya berbasa-basi.
Ana tak berminat menjawab. Dia menurunkan Mimi di lantai. Sementara itu James keluar ruangan diam-diam.
******