
Di ruang kerja, Theo telah mengantarkan segelas kopi dan penganan ke sana, lalu menutup pintu kembali.
"Aku mengajakmu ke sini, untuk menanyakan hubunganmu dengan ayah. Aku yakin kau tak sekedar mengenalnya sambil lalu," tebak Ammo.
"Kau pengamat yang jeli. Aku yakin, tak mudah bagi musuhmu untuk mengelabui," puji Alexei.
"Jadi, katakan saja kejujurannya!" desak Ammo.
Alexei menyamankan duduknya dan bersandar di sandaran kursi yang tinggi. "Baiklah. Cerita ini mungkin akan sedikit panjang," katanya.
Ammo mengangguk, tanda siap untuk mendengarkan.
"Hubungan keluarga kita, dimulai dari kakekmu dan ayahku," jelas Alexei. Ammo menaikkan sebelah alisnya. Dia tak tahu jika keluarganya dan keluarga Ana memiliki hubungan seperti itu.
"Kita sama-sama berasal dari Slovstadt. Tapi kakekmu telah lebih dulu menjadi imigran di sini dan menapakkan kakinya dengan kuat."
"Kau tahu, masa-masa itu ... Slovstadt berada dalam masa sulit. Banyak warga yang kabur ke luar negri untuk mencari penghidupan yang lebih baik. Termasuk ayahku."
Ammo mengangguk mengerti. Dia bisa menemukan hal itu dalam pelajaran sejarah dunia.
"Rumah kakekmu adalah tempat pertama yang dituju setiap imigran dari dari Slovstadt. Mereka diberi perlindungan dan dipekerjakan. Seperti itulah ... Ayahku mendapatkan pekerjaan di pertanian. Dia menikah dengan salah satu imigran wanita. Itulah ibuku," jelas Alexei.
"Setelah menikah, ayahku ingin berganti kewarganegaraan. Kakekmu adalah penjaminnya. Dia juga memberikan sebidang tanah kecil untuk kami kelola sendiri. Tidak besar, tapi itu cukup untuk menghidupi keluarga kami secara sederhana."
"Aku ikut bekerja di pabrik pengolahan sayur keluargamu sejak remaja. Di situlah aku bertemu ayahmu. Dia saat itu sedang tugas magang bekerja pabrik itu. Seiring waktu, kami sedikit akrab. Dan ayahmu yang rendah hati, tak sungkan datang berkunjung ke rumah sederhana kami." Alexei mengenang masa remajanya.
"Meski tak lama, tapi pertemanan itu membekas di hatiku. Lalu kami berpisah. Tugas ayahmu telah selesai, dan aku diterima di sekolah tentara."
"Setelah kelulusan, aku pulang. Tak disangka, kakekmu mengundang keluarga kami untuk datang ke kediaman ini dan merayakan keberhasilanku. Itu dianggap sebagai contoh yang baik bagi putra putri imigran, agar mengembangkan sayap mereka. Tidak hanya terpaku pada pekerjaan pabrik, pertanian atau peternakan keluarga Oswald saja. Begitulah harapan kakekmu."
"Hari itu juga, Ayahmu melihat adikku, Valentina. Dia menyukainya. Tapi Valentine telah menyerahkan hatinya pada Ivan. Ayahku menanyakan keseriusan Ivan setelah kami pulang dari perayaan itu. Ivan mengatakan ingin menikahi Valentina. Ayahku tak bisa berbuat banyak, selain menikahkan keduanya."
"Aku sendiri tak mengenal Ivan dengan baik. Kukira dia pelajar biasa. Jadi aku tak terlalu memusingkan urusan cinta mereka."
"Hubunganku dengan ayahmu juga tidak terlalu dekat. Aku sungkan padanya. Tentu saja itu karena rasa hormat pada kakekmu yang membantu keluarga kami berdiri. Ditambah lagi aku mulai bekerja dan ayahmu akhirnya menikah. Hubungan kami terputus begitu saja."
"Beberapa tahun kemudian, aku mengetahui kematian Valentina. Aku mengabarkannya pada ayah. Tak kusangka ayah bertanya pada kakekmu. Beliaulah yang mencari informasi itu dan mengkonfirmasi kematian adikku."
"Setiap tahun aku mengambil cuti, untuk bisa mencari keberadaan Ivan, Ana dan Nathalie. Tapi nihil. Hingga kali ke empat aku ke sana, aku diikuti orang-orang tak dikenal."
"Sebagai warga negara asing, aku menghindari konflik. Aku toh hanya ingin mencari keponakanku, bukan mau melakukan sesuatu yang buruk!" geramnya.
"Lalu hari itu, aku tak bisa mengelak lagi. Mereka terlalu banyak, mengepungku dengan niat membunuh. Aku harus bertarung mempertahankan nyawaku. Dan ... aku kalah...."
"Antara sadar dan tidak, aku mengingat ayahmu. Entah kenapa, aku merasa hanya dia yang bisa ku percaya dan mintai tolong. Setidaknya, ayahmu dapat mengabarkan pada keluargaku, jika aku mati di Slovstadt."
Ammo mendengarkan dengan penuh perhatian. Itu harusnya adalah masa dia masih kecil.
"Aku terbangun di sebuah ruangan putih, dengan banyak alat yang menempel di tubuh. Aku panik dan segera bangun, untuk melepaskan semua alat itu. Tapi aku lupa, tubuhku belum pulih. Aku ambruk di lantai. Dan para perawat berdatangan menolong."
"Keesokannya ayahmu datang menjengukku. Aku merasa sangat lega. Dia menceritakan bagaimana orang-orangnya menyelamatkan dan menbawaku ke tempat aman, untuk dirawat. Bagiku, itu adalah hutang nyawa yang harus kubayar!"
"Dua bulan kenudian aku pulih. Tapi peristiwa itu membuatku kehilangan mata kiri. Meski ayahmu telah mengusahakan mata buatan agar aku bisa melihat dengan baik, aku tetap tak bisa terus berada di ketentaraan. Jadi aku keluar."
"Kutawarkan tenagaku sebagai penjaga, pada ayahmu, dia menolak. Katanya, dia tidak bisa mempekerjakan teman di posisi itu. Tapi dia akan minta bantuan profesionalku, jika suatu waktu membutuhkannya. Aku menyanggupi."
"Setelah itu, aku mengkoordinir beberapa mantan tentara, untuk dipekerjakan sebagai pengawal pribadi ataupun security. Itulah pekerjaanku sekarang. Tapi aku tak menyerah untuk mencari Ana dan Nathalie, melakui orang-orangku yang tersebar di mana-mana."
Ammo mengangguk puas. Penjelasan itu sangat runtut dan mudah dicerna. "Jadi, orang-orang di luar itu adalah para mantan tentara!" Ammo memastikan.
"Ya. Bagaimana pun, aku mengerti sulitnya mencari pekerjaan yang sesuai dengan bidang keahlian kami. Aku hanya mengelola usaha kecil, dan menyalurkan mereka pada client yang tepat," jelasnya.
"Hemmm ... menarik!" Ammo berpikir sejenak. "Bagaimana kalau kau bekerja untukku di kantor? Jadi, yang dikantor, akan kutarik lagi ke sini!" tanya Ammo.
"Aku belum bisa menjawabnya. Tapi kurasa sementara ini aku akan fokus menbantu Ana. Aku juga ingin membawanya pulang ke rumah. Mungkin akan lebih aman baginya berada di lingkungan keluarga, daripada tinggal sendiri!" Alexei menolak dengan halus.
"Betul juga.... Aku juga merasa khawatir melihatnya lari ke sana kemari dan melindungi dirinya sendiri. Bukan aku tak mempercayai keahliannya, tapi akan lebih baik jika ada orang lain yang berpengalaman di sisinya!" Ammo mengangguk.
"Baiklah, rencanamu yang terbaik. Aku takkan mendesak lagi.
"Kita harus bekerja sama untuk membongkar kebobrokan di Biro Klandestin. Sudah terlalu banyak korban yang jatuh akibat kejahatan mereka!" ujar Ammo geram.
"Aku harus membalaskan kematian Valentina, agar aku dapat bersimpuh di makam kedua orang tuaku yang meninggal dalam kesedihan!"
Suara Alexei tercekat di tenggorokan. Wajahnya memanas dan membuatnya mematung. Dia merasa menjadi anak yang tak berguna, karena tak mampu menemukan dua keponakannya yang hilang.
Alangkah mustahil dua anak kecil bisa menghilang seperti ditelan bumi. Tak diduganya ternyata keduanya berada di Giebellinch. Sementara dia mencarinya di Slovstadt. Siapa yang membawa mereka ke sini? Siapa pula yang melakukan percobaan dan operasi wajah pada Ana? Itu harus dipecahkannya.
Di mana Ivan? Di mana laki-laki itu? Mengingat pria itu membuatnya sangat emosi. Apa lagi Ana mengatakan bahwa ayahnya pergi dengan Nathalie di hari kematian ibunya. Bagaimana Nathalie bisa berakhir di panti asuhan juga?
Alexei merasa Ivan juga terlibat dalam Biro K. Itu sebabnya hidupnya rumit. Atau dia juga diburu oleh biro, seperti mereka memburu Ana dan Nathalie? Terlalu banyak teka-teki yang harus dipecahkan.
*********