Code Name: ANGEL K05

Code Name: ANGEL K05
197. Kembali ke Klan 2


Perjalanan kereta cepat itu tidak terlalu lama. Mereka berhenti di tempat transit. Kemudian dilanjutkan dengan menaiki lift yang dibangun di sisi tebing curam.


Ana dapat melihat pemandangan indah kaki gunung dari kotak lift yang dibuat dengan kaca tahan peluru.


Apakah seluruh gunung dan kaki gunung di sana adalah tanah klan?" tanya Ana.


"Khouk mengangguk. Setahu saya, begitu, Pemimpin," jawab Khouk.


"Apakah ada penjagaan di seluruh perbatasan kita?" tanya Ana lagi. Dia butuh dasar-dasar pengetahuan tentang daerah kekuasaannya.


"Ya. Sekeliling gunung ini dijaga oleh anggota pengamanan klan. ada sebelas post penjagaan yang telah dibangun dan beroperasi. Yang kita datangi tadi adalah post penjagaan dan pemeriksaan satu. Di situ ada lebih banyak penjaga, karena menjadi titik penting dan pintu masuk klan." Khouk menjelaskan dengan sederhana.


"Lebih detailnya, anda bisa tanyakan pada rapat dengan para penasehat klan, nanti," tambahnya lagi.


Ana mengangguk. "Apakah ada anggota klan yang tinggal di kaki gunung, selain para penjaga perbatasan?" tanya Ana ingin tahu.


"Tidak ada. Kebijakan Klan sangat tegas. Yang tidak tinggal dengan kelompok, bukan lagi anggota klan. Kecuali seperti saya yang mendapat tugas keluar. Yang pergi tanpa ijin, tak akan diijinkan kembali lagi. Namanya telah dicoret dari daftar anggota klan!" jawab Khouk.


Ana mengerutkan dahinya. "Lalu bagaimana dengan orang-orang yang telah membantuku untuk menghancurkan kantor BIro?" tanya Ana heran.


"Sebagian mereka adalah anggotaku. Sebagian lainnya tidak. Tapi, meskipun mereka berada di negara mana, jiwa mereka tetaplah jiwa Klan Khaan. Itu sebabnya mereka langsung bersumpah setia pada anda. Tapi, tetap saja mereka tak bisa kembali ke sini," ujar Khouk.


Ana diam mendengarkan penjelasan Khouk. Dia punya pemikiran berbeda tentang keanggotaan klan yang dibuat oleh para penasehat.


"Kita sudah sampai, Pemimpin." Khouk memberi tahu.


Ana mengangguk dan menunggu lift super tinggi itu berhenti. Saat pintu lift terbuka, Khouk keluar lebih dulu dan menahan pintu lift agar tetap terbuka. Ana melihat ruangan di depannya agak gelap. Apa mereka melobangi dinding gunung?" pikirnya.


Kakinya melangkah keluar dari lift. Di langkahnya yang kedua, ruangan tiba-tiba terang benderang. Terlihat berbagai pita dan hiasan digantung di beberapa tempat. Namun tak ada seorang pun disana.


"Hiasan apa ini?" tanya Ana heran. Khouk menggeleng tak tahu. pria itu berjalan disamping Ana untuk membawanya menuju jalan keluar.


Barulah mereka melihat tim penyambut yang terdiri dari para pria dan wanita muda dengan aneka warna pakaian panjang dan indah. Di antara mereka ada Nathalie yang langsung berlari menyambut dan memeluknya.


"Akhirnya kau kembali. tempat ini sangat indah. Aku senang di sini. Kau juga pasti akan menyukainya," ujar gadis itu. Ana tersenyum senang melihat perubahan sikap Nathalie.


"Di mana ayah?" tanya Ana, karena tak melihat keberadaan ayahnya di situ.


"Hari ini jadwal ayah cuci darah. Kau bisa menemuinya nanti," jawab Nathalie. Ana mengangguk mengerti.


"Pemimpin."


Suara seseorang mengalihkan perhatian Ana dari Nathalie. Seorang pria berambut putih panjang sebahu, berdiri di hadapannya. Ana memandang pada Khouk, dan pria itu cepat tanggap.


"Ini Qadan, Ketua Penasehat, Pemimpin," ujar Khouk memperkenalkan pria itu.


Ana mengangguk, dan menunggu. Dia tak membalas uluran tangannya. Dan Khouk kembali cepat tanggap. Pria itu maju ke depan Ana dan langsung berjongkok untuk memberi penghormatan.


Ana menatap tajam pada Ketua penasehat yang terbengong. Pria itu akhirnya tersadar dan segera ikut berjongkok memberi hormat dan bersumpah setia padanya. Semua orang lain yang datang menyambut, akhirnya melakukan hal yang sama.


"Maafkan keteledoranku, Pemimpin. Kami bermaksud membawa anda ke hadapan seluruh anggota klan dan memberikan penghormatan bersama," ujarnya beralasan.


"Heh!" Reaksi Ana yang seperti itu sungguh tak disangka oleh Ketua Penasehat itu.


Khouk dan Nathalie menunjukkan jalan keluar bagi Ana. Mereka mengabaikan sepenuhnya pria yang mencoba merendahkan posisi Ana.


Ternyata di luar telah menunggu banyak orang yang mengelu-elukannya. Dan mereka langsung berjongkok dan mengucap sumpah setia, saat dia berjalan melewati barisan penyambut itu. Ana tersenyum dan melambaikan tangannya pada mereka.


"Apa kau yang mengerahkan mereka semua?" tebak Ana pada Nathalie.


"Kau harus hargai sedikit upayaku," sungut Nathalie.


"Kita mau ke mana?" tanya Ana lagi.


"Pulang!" jawab Nathalie.


"Apa para penasehat itu tidak ingin melumatku di acara sidang?" tanya Ana jenaka.


"Ayah sudah menduga itu. Dan dia meminta pertemuan itu ditunda hingga dia selesai cuci darah. Dia bersikeras hadir di acara itu. Dia sangat melindungimu," ujar Nathalie dengan sedikit rasa iri.


Ana langsung memeluk punggung gadis itu untuk menenangkannya. Mereka berjalan bersama menuju kediaman Ana yang sudah dipersiapkan ayahnya jauh-jauh hari. Khouk mengikuti dengan setia.


"Jadi pertemuan itu direncanakan kapan?" tanya Ana.


"Malam nanti. Ketua penasehat bilang itu acara makan malam penyambutan," jawab Nathalie.


"Tapi kau dan ayah pasti tahu bahwa makan malam ini tak akan sederhana, bukan?" Ana terkekeh geli.


"Yeah, kau sangat pintar menebak dan mengejekku. Coba tunjukkan kepintaranmu pada para penasehat yang kaku seperti batu gunung itu!" sungut Nathalie.


"Tenang saja," ujar Ana.


"Khouk, sesampai di rumah, kau bisa kembali ke keluargamu dan beristirahat," perintah Ana.


"Terima kasih, Pemimpin," angguk Khouk. Matanya terlihat senang. Ana hanya tersenyum tipis.


Setelah melewati sebuah gerbang yang dijaga oleh orang-orang berseragam. Akhirnya mereka tiba di sebuah bangunan megah yang diberi ukiran di sana sini.


"Inilah kediaman Pemimpin Klan Khaan," ujar Nathalie sambil mengembangkan tangannya.


"Megah sekali. Kalian juga tinggal di sini, kan?" Ana memastikan.


Nathalie menganggukkan kepalanya. Mereka melewati dua penjaga di depan pintu gerbang dalam setelah taman. Mereka langsung berjongkok dan bersumpah setia.


"Kurasa aku akan membawamu ke tempat kau bisa istirahat. Nanti kita bisa berbincang lagi, setelah ayah kembali dari Rumah Sakit," ujar Nathalie.


"Oke!" Ana setuju. Dia memang sangat lelah. Perjalanan yang sangat panjang, dan waktunya sangat pendek, menjelang acara makan malam.


"Ini kamarmu. Segalanya sudah disediakan ayah jauh-jauh hari. Dan tadi aku juga sudah meminta pelayanku menyiapkan makanan. Jadi jangan khawatir. Beristirahatlah sebentar."


Nathalie membuka pintu kamar Ana yang super besar dan hanya diberi sekat untuk membedakan area peruntukannya.


"Beristirahatlah. nanti aku kembali dan mendandanimu untuk acara malam," Nathalie membungkuk dan mengundurkan diri.


Khouk masih berdiri di sana. "Permisi, Pemimpin. Ijinkan saya memeriksa seluruh ruangan ini lebih dulu."


"Lakukanlah tugasmu. Setelah itu kau boleh istirahat." Ana mengangguk mengerti.


"Aku akan meminta Ammo juga mengirimkan Gan serta orang-orangmu kembali ke sini," ujar Ana.


Khouk tak menjawab. Dia memeriksa seluruh sudut, hingga membuka jendela dan memandang ke luar. Ana memandang kagum padanya. Sungguh pengawal yang bertanggung jawab dan penuh pengalaman.


Khouk ikut mencicipi semua sajian di atas meja. Setelah itu dia mengangguk. "Semua aman. Anda bisa beristirahat. Sebentar lagi, orangku akan datang menggantikanku menjaga anda," ujar Khouk.


"Terima kasih, Khouk," ujar Ana tulus. Dipandanginya pria yang sedang melangkah keluar itu. Kemudian terdengar suara Khouk berbicara di depan pintu. Ada dua suara lain menjawab. Lalu pintu kamar Ana ditutup, untuk memberinya ketenangan.


Dicicipinya beberapa makanan yang disajikan, untuk pengganjal perut. Kemudian membanting tubuhnya di kasur. Dia sangat lelah. "Pejamkan mata sejenak, jangan pikirkan apapun. Rilex, Ana. Semua akan baik-baik saja," gumamnya.


*********