
Ternyata Alexei cukup handal mengemudikan pesawat. Dia berhasil membuat Ammo terkesan.
"Apa kau juga seorang pilot?" tanya Ammo.
"Aku pilot kehidupan!" jawabnya filosofis.
Ammo terkekeh mendengarnya. "Kau orang yang menarik," ujar Ammo jujur.
"Ayahku tak pernah menceritakan tentangmu," ujar Ammo penuh selidik.
Tentu saja dia pantas heran. Jika Theo saja bisa mengenal Alexei, artinya pria ini dekat dengan ayah. Lalu kenapa dia tak pernah tau?
"Memang harus seperti itu. Tak semua hal jadi baik, jika kita tahu terlalu banyak," nasehatnya.
"Kau hampir sebaya dengan ayahku. Apa kalian teman semasa sekolah?" Ammo masih penasaran.
"Aku punya opsi untuk tidak menjawab, bukan?" ujarnya tertawa kecil. Menertawai rasa penasaran Ammo yang begitu besar.
Ammo akhirnya diam. Dia tak mendesak lagi. Dilihatnya jejeran gedung di bawah sana. Kota cantik dan gemerlap di saat malam. Tapi penuh intrik mengeriksn diantara para manusianya.
"Apakah kita akan mendarat di gedung yang tinggi menjulang itu?" tanya Alexei.
"Ya!" jawab Ammo.
"Baik. Kita mendarat!" ujarnya ringan. Seakan dia sangat terbiasa mengendarai kendaraan itu.
"Apa pekerjaanmu jika tidak mendapat permintaan bantuan?" tanya Ammo.
"Menjadi pilot pesawat kecil angkutan barang," jawab Alexei akhirnya.
"Hah ... pantas saja kau mahir. Ku kira kau pilot pesawat tempur!" Ammo terkekeh sendiri.
"Apa kau menertawai pekerjaanku? tanya Alexei datar.
"Tidak. Aku hanya terus saja menebak-nebak. Dan ternyata salah!" Ammo kembali tertawa.
Alexei menggelengkan kepala. "Apakah yang lucu dari salah menebak?" pikirnya tak mengerti.
"Kita sampai dengan selamat," ujar Alexei puas.
"Terima kasih. Bisa tunggu sebentar? Di sana ada ruangan tempat beristirahat. Tanya saja pada penjaga di situ." Tunjuk Ammo ke arah pintu masuk.
"Oke. Jangan khawatirkan aku," katanya.
Ammo turun bersama dua penjaganya. Kali ini Theo tak ingin kecolongan lagi seperti malam sebelumnya. Dia harus meyakinkan bahwa Ammo memiliki cukup pengawal.
"Bagaimana keadaan di sini?" tanya Ammo pada petugas di rooftop.
"Aman Bos. Mereka mencoba menyerang di depan pintu masuk. Tapi dapat dumpuhksn dengan segera!" jawab petugas itu.
"Kalian memang hebat. Terima kasih sudah menjaga gedung ini dengan baik!" ujar Ammo.
"Itu kewajiban kami, Bos!" balas petugas itu.
Ammo mengangguk dan berjalan memasuki lift, diikuti dua pengawalnya.
"Bos!" sapa penjaga lain yang menjaga lantai ruang kerja Ammo.
"Bagaimana keadaan di sini?" tanya Ammo.
"Aman Bos!" jawabnya senang.
"Bagus! Tetap tingkatkan penjagaan. Jangan lengah. Mereka sedang mencari celah kelemahan kita!" ujar Ammo.
"Siap, Bos!" sahut petugas tersebut.
Ammo mengangguk dan melanjutkan langkahnya.
Pintu ruang kerjanya tertutup. Jadi Ammo mengetuk lebih dulu. Tidak disarankan mengejutkan Ana yang selalu waspada. Bisa menbahayak diri sendiri.
"Masuk!" terdengar suara dari dalam.
"Apa aku boleh masuk?" senyum Ammo lebar begitu membuka pintu.
"Ahh, akhirnya kau datang. Aku sudah lelah dan ingin istirahat di rumahku." Gadis itu langsung berdiri dari kursi Ammo.
"Bisakah kau tunda kepulanganmu?" tanya Ammo.
"Kau butuh bantuanku lagi?" Ana menaikkan sebelah alisnya, penasaran.
"Aku mau mengajakmu menghadiri pemakaman Carl," sahut Ammo.
"Apa kau yakin aku pantas hadir di sana?" tanya Ana lagi.
Bukan tanpa alasan dia bertanya begitu. Gadis itu menyadari bahwa di kalangan keluarga kaya, ternama dan bangsawan, acara keluarga seperti ini mungkin tidak mengijinkan orang asing ikut serta.
"Ya. Kau temanku satu-satunya. Dan Bibi Harriet juga mengenalmu. Kurasa, dia takkan keberatan," sahut Ammo.
"Kau punya keluarga besar," tambah Ana.
"Abaikan yang lainnya. Mereka tak lebih penting dari Bibi Harriet!" ketus Ammo.
"Baiklah." Ana mengedikkan bahunya tak peduli.
"Di mana orang-orang ini kau tahan?" tanya Ammo setelah melihat rekaman cctv penyerangan itu.
"Di basement," sahut Ana.
"Penjaga gerbang itu bagaimana?" selidik Ammo.
"Mereka membunuhnya! Masih ada di ruang bawah juga, menunggu keputusanmu," balas Ana.
"Aku mau lihat orang-orang itu." Ammo berdiri dan melangkah ke pintu.
"Aku terap di sini," ujar Ana.
"Ya. Lebih baik begitu." Ammo mengangguk setuju.
Ammo memasuki lift ditemani salah satu penjaga yang ada di situ. Mereka menuju basement, dimana orang-orang yang pingsan disetrum itu ditahan.
"Terima kasih. Kalian sudah bekerja keras!" ujar Ammo tulus.
"Siap, Bos! Sudah Tugas kami!" sahut mereka serempak.
"Aku mau melihat teman kalian yang tewas," ucap Ammo.
"Siap, Bos! Lewat sini!" Pemimpin kelompok itu menunjukkan arahnya.
Ammo mengikuti pria itu ke satu ruangan tertutup. Itu ruang istirahat mereka. Jasad penjaga yang tewas, dibaringkan di atas meja, ditutupi dengan selembar kain putih.
Ammo bisa lihat, petugas penjaga itu mendapatkan hibgga lima tembakan. Dan satu peluru menembus jantungnya.
"Koordinasikan dengan Kapten Smith, agar dia bisa segera diantarkan pada keluarganya," pesan Ammo.
"Siap, Bos!" jawabnya sigap.
"Di mana orang-orang yang membuat keributan itu?" tanya Ammo.
"Kami taruh di gudang, Bos!" jawab pria itu.
"Bawa aku ke sana!" Ammo keluar. Pria itu juga ikut keluar dan menunjukkan di mana gudang berada.
"Apa kalian sudah menginterogasi mereka?" tanya Ammo.
"Siap, Bos. Letnan Nicholas sedang menangani mereka!" jawabnya cepat.
Ammo mengangguk. Mereka terus berjalan ke sayap lain di lantai itu. Beberapa petugas lain bersikap siaga melihat kedatangan Ammo. Setelah 100 meter, Ammo mulai bisa mendengar suara teriakan samar.
"Gedung ini perlu mengganti sistem peredam suaranya," guman Ammo.
Di depan sebuah pintu besar dan tertutup rapat, mereka berhenti.
Petugas di sana mengetuk pintu dan mengabarkan kedatangan Ammo.
Ammo masuk dan melihat, gudang itu telah berubah jadi tempat penyiksaan. Percikan darah tercecer di mana-mana.
"Bos!" sapa Letnan Nicholas.
"Ya. Bagaimana situasi di sini?" Ammo melihat berkeliling ruangan. Para tawanan itu menggeliat-geliat kesakitan.
"Mereka belum buka mulut, Bos!" sahutnya.
Ammo berjalan mendekati orang yang diikat di kursi. Darah sudah memenuhi wajahnya.
"Kau mau bicara, tidak?" tanya Ammo.
"Cuih!"
Orang itu meludahkan darah dari mulutnya ke arah Ammo. Seorang penjaga kembali emosi dan memukulnya lagi. Tapi orang itu hanya terkekeh mengejek.
Ammo berjalan ke arah salah satu penjaga di situ. Diambil pistol yang ada di pinggang pria itu, kemudian membidik dan melesatkan pelurunya. Suara tembakan membahana di ruangan dan mengejutkan tawanan lain.
Tawanan di kursi itu langsung terkulai. Ammo menyerahkan pistol itu kembali dan membersihkan bekas mesiu yang mengotori tangannya.
"Tanyai mereka semua. Waktu mereka hanya 15 menit. Jika tak berguna, bunuh saja!" perintah Ammo sebelum melangkah pergi.
"Siap, Bos!" sahut Letnan Nicholas.
Ammo keluar dari ruangan itu dan masih berbicara dengan beberapa petugas lain. Dia melihat situasi luar melalui cctv. Kemudian memberikan instruksi-instruksi baru.
"Apa kalian sudah mengerti?" tanyanya.
"Siap, Bos! Mengerti!" jawab mereka.
"Baik, aku pergi dulu. Langsung kabari jika ada hal mencurigakan!" pesan Ammo.
"Siap, Bos!"
Ammo kembali ke lantai atas. Ana sudah menunggunya. "Kau lama sekali," protesnya.
"Aku harus ganti lagi pakaianku. Sebentar!" Ammo berjalan menuju kamar pribadinya.
Ana kembali duduk di sofa dengan kesal. Dia sudah bosan melihat ruangan tertutup itu. Terasa menyesakkan jika harus disitu lebih lama lagi.
"Ayo!" Ammo muncul dan langsung mengarah ke pintu. Ana mengikuti.
"Kalian harus tetap waspada!" Ammo mengingatkan penjaga.
"Siap, Bos!"
Ammo masuk lift bersama Ana menuju rooftop. "Kau apakan orang di bawah, sampai bajumu bernoda?" tanya Ana.
"Kutembak mati!" sahut Ammo dingin. Dia menghubungi Alexei untuk bersiap.
Ana menggeleng. Dia belum pernah melihat sisi Ammo yang ini. "Fiuhh ... mengerikan juga," batinnya.
Ammo berjalan keluar lift dan meninggalkan pesan pada penjaga. "Setelah aku pergi, pasang lagi pelindung rooftop!" perintah Ammo.
"Siap, Bos!" jawab petugas di situ.
Sekarang Ammo sudah naik helikopter bersama Ana. "Di mana Sawyer?" tanya Ana.
"Sawyer istirahat. Ini Alexei, teman ayahku. Dia yang membantu Theo melindungi rumah dari serangan." Ammo menjelaskan.
"Oh, hebat!" Ana mengangkat jempolnya ke arah Alexei.
"Terima kasih," timpal Alexei.
"Alexei, ini Anastasia, temanku sejak kecil." Ammo memperkenalkan mereka.
"Salam kenal, Nona!" sapa Alexei.
"Ternyata dugaanku salah," batin Alexei.
********