Code Name: ANGEL K05

Code Name: ANGEL K05
190. Siapa Dia Sebenarnya


Ana menjalani sesi terapinya bersama Profesor Stone. Berulang kali rekaman itu diputar di depan mata Ana. Bahkan Profesor Stone akhirnya mampu mendeskripsikan isi rekaman itu saat menghipnotis Ana.


"Gadis itu berbaring gelisah di sofa ruang kerja Profesor Stone.


Khouk yang mendapat berita bahwa Ana sakit setelah melihat sebuah rekaman, datang menemui Profesor Stone. Dia ikut memeriksa rekaman itu. tapi tidak mengenal siapa orang tersebut. Menurutnya, artinya orang itu bukanlah bagian dari klan. Setidaknya dia sedikit tenang, karena tidak ada pengkhianat dari klannya sendiri.


Khouk yang belum pulih dari operasi tulang rusuknya, tetap menunggui Ana di sudut ruang kerja Profesor Stone. Setiap kali Ana berteriak kesakitan sambil memegang kepala hingga hidungnya mengeluarkan darah, dengan cepat pria itu melompat dan meminta Profesor Stone menghentikan terapinya hari itu.


Profesor Stone hanya bisa menggeleng-geleng. Meski dibujuk seperti apapun, Khouk tak mau bernegosiasi. Setiap kali Ana kesakitan, maka terapi harus dihentikan.


"Kalau begini, kita tak akan pernah bisa membuka memori yang terpendam lama," keluh Profesor Stone.


"Anda yang harus mencari metode baru yang tidak akan menyakiti pemimpin klan kami!" jawab Khouk tegas.


"Tanpa usaha keras dan sedikit pengorbanan, kita tak akan mendapatkan hasil yang kita inginkan selama ini," bujuk Profesor Stone.


"Tidak!" jawab Khouk tegas.


Profesor Stone sudah melakukan tiga sesi terapi pada Ana. Semua berakhir di tengah jalan seperti ini, karena dihalangi Khouk. Dia mulai sedikit jengkel.


Setelah Ana terbangun dan beristirahat. Profesor Stone menyampaikan pendapatnya dan juga sikap Khouk yang bertentangan dengan metodenya. Dia harap Ana mengambil sikap terkait hal itu.


"Baik. Aku akan beristirahat di kamar." Ana berdiri dan kembali ke ruangannya. Khouk mengikuti keluar. Dia terus ikut ke ruangan Ana.


"Apa anda baik-baik saja, Pemimpin?" tanyanya.


"aku baik-baik saja, Khouk. Hanya harus minum obat ini untuk menghilangkan rasa sakit di kepalaku," ujar Ana.


"Aku akan ke kafetaria dan meminta sedikit makanan untuk anda, agar bisa minum obat," ujarnya.


"Terima kasih Khouk." Ana mengangguk setuju. Pria itu kemudian berlalu dari hadapan Ana. Dia menuju kafetaria untuk meminta sedikit makan bagi pemimpin klan-nya.


Ana lanjut ke kamarnya untuk beristirahat. Kepalanya memang sangat sakit. Dia tak bisa menyalahkan Khouk yang khawatir padanya. Ana belum ingin memikirkan solusi dari terapi yang tak pernah tuntas ini. Dia hanya ingin membaringkan kepalanya yang terasa mau meledak, di atas bantal.


Tak lama Khouk kembali. Di tangannya ada satu wadah makanan. dan juga sebotol air minum.


Anda harus makan dulu, sebelum minum obat," ujar Khouk khawatir.


Ana mengangguk dan duduk dri tepi tempat tidur kecilnya. Khouk mengawasinya dari kursi di depan meja satu-satunya di ruangan itu.


Selesai makan dan minum obat, Ana berbaring sesuai saran Khouk. Dia memang sudah tak dapat menahan rasa sakit itu lebih lama lagi.


"Saya akan berjaga di sini," ujar Khouk. Ana tak ingin berdebat. Jadi dibiarkannya saja pria itu duduk di situ.


Entah berapa lama dia tertidur. Tapi Ana bangun dan melihat KHouk tidur menelungkup di meja. Dilihatnya jam tangan. Ternyata waktu sudah menjadi malam. Tak mungkin juga mengikuti terapi malam hari ini.


Karena dia sudah tak dapat tidur lagi juga. Akhirnya diambilnya laptop dan memeriksa file cctv lainnya, untuk mendapatkan bukti-bukti lain dari kantor Biro K di Giebellinch yang telah mereka hancurkan.


"Sebaiknya anda beristirahat, jika memang ingin melakukan terapi lagi besok pagi," nasehatnya.


"Baiklah. Dan kau juga harus kembali ke kamarmu untuk beristirahat. Aku ingin kau sehat secepatnya dan melindungiku selama Gan tak ada!" tegas Ana.


Khouk sepertinya enggan pergi. tapi mata Ana yang tegas dan tajam, membuat Khouk tak bisa membantah.


"Baik, saya akan kembali ke kamar," sahutnya. Kemudian pria itu berdiri dari kursi dan menuju keluar.


"Berhati-hatilah," pesan Khouk.


Ana menggeleng melihat keparnoan Khouk. "Khouk, kapal ini milik Ammo. Semua orang di sini adalah orangnya. Jadi kau tak perlu terlalu khawatir. Dan tentang Profesor Stone. Aku sudah menjadi pasiennya sebelum bertemu denganmu. Dia bisa dipercaya. Dan tak akan membiarkanku kenapa-kenapa," jelas Ana.


"Saya tak bisa membiarkan anda menjerit kesakitan dan berdarah di depan mata saya," jawab Khouk jujur.


"Kau memang pengawal yang sangat baik. Tapi seperti yang dikatakan Profesor Stone, "Tak ada hasil tanpa pengorbanan'. Itu sangatlah benar. Aku harus melewati ambang rasa sakit itu, agar bisa membuka kembali memoriku. Kau pasti ingin semua rahasia gelap ini terbongkar, bukan?"


Ana memandang Khouk dengan pandangan yang membuat Khouk menunduk. Akhirnya pria itu mengangguk. Dia tak bisa mengalahkan kharisma yang dimiliki Ana. Itu memang pembawaannya dari lahir. Takdirnya untuk memimpin Klan Khaan.


Khouk melangkah kepintu dan membukanya. Dia keluar. Namun kemudian berhenti di ambang pintu. Seperti ragu untuk mengatakan sesuatu.


"Katakan yang ada di pikiranmu," perintah Ana.


Khouk berbalik. "Andai saja, anda bersedia meninggalkan semua ini dan kembali ke klan. Memimpin kami agar menjadi klan besar dan dihormati lagi oleh negara-negara lain seperti dulu. Bukankah itu sepadan sebagai ganti balas dendam yang hanya akan memakan korban?" Khouk mengatakan isi pikirannya.


"Aku paham maksudmu. Tapi seperti yang kukatakan sebelumnya, Aku belum bisa melangkah ke manapun, jika urusan ini belum selesai. Setelah seluruh tabir ini terbuka, aku akan kembali ke klan," janji Ana.


"Aku mengerti." Khouk mengangguk dan membungkuk sedikit. Kemudian menutup pintu kamar Ana. Langkah kakinya yang menjauh terdengar di malam yang sunyi.


Ana duduk merenung di tempat tidur, dengan laptop berada di pangkuan. "Apakah keputusanku ini benar?" pikir Ana.


Ana berhasil meminimalisir korban dari klan-nya. Tapi bagaimana dengan Ammo yang menghadapi langsung jantung pertahanan lawan? Berapa banyak kerugian yang dialaminya? Berapa prajurit setianya yang gugur di sana?"


Ana terhenyak. Seharian ini Ammo tidak menghubunginya. Berarti dia sangat sibuk menghadapi serangan dan mengawasi bawahannya dari langit.


Tapi seperti kata Khouk, hal ini pasti akan memakan korban. "Apakah dia akan menyesali keputusannya mendukung balas dendamku?" batin Ana gelisah.


Kepala Ana kembali memutar semua prediksi, tindakan dan resiko yang harus mereka tanggung karena tindakan ini. JIka kalah, maka yang paling dulu jatuh adalah Ammo! Dia akan menjadi buronan negara nomor satu setelah mendapat cap sebagai otak pemberontakan. Artinya pria itu bertaruh nyawa demi membalaskan dendam Ana.


Pria itu tidak hanya mengorbankan dirinya, tapi juga akan menyeret seluruh anggota keluarga besarnya dalam pusaran kehancuran! Ana tak bisa membayangkan hal seburuk itu menimpa kekasihnya. Dia harus mampu membalikkan keadaan. cara satu-satunya mendukung Ammo adalah mencari tahu pria di video yang terkait dengan kehidupannya. Begitu sulit menemukannya. Artinya dia orang yang berpengaruh dan dilindungi dengan ketat.


"Siapa dia sebenarnya?" Ana memegang kepalanya yang mulai sakit saat membayangkan raut wajah pria itu dalam ingatannya.


Dia kemudian menjerit keras dan kembali pingsan dengan hidung berdarah.


*********