
Ana langsung menghubungi Ammo begitu sampai di lantai atas.
"Ya, hallo," jawab satu suara.
"Nick?" Ana terkesiap. "Bagaimana Nick bisa sering memegang ponsel rahasia Ammo?" pikirnya.
"Apa Ammo ada di situ? Kenapa kau yang selalu mengangkat teleponnya?" omel Ana dengan suara yang dibuat sebiasa mungkin.
"Tuan sedang ada meeting, Nona!" jawabnya.
"Berikan telepon ini padanya! Sekarang!" ujar Ana tegas.
"Baik!" sahut Nick.
Satu menit kemudian.
"Ya!" terdengar suara Ammo.
"Aku punya informasi rahasia. Jangan ada seorangpun yang mendengar di dekatmu. Bersikaplah biasa!" kata Ana hati-hati dan dengan suara pelan.
"Tunggu sebentar!" ujar Ammo.
Ana bisa mendengar Ammo menghentikan meeting-nya sebentar.
"Apa yang begitu penting?" tanyanya lagi.
"Aku akan mengatakannya setelah tak ada seorangpun di dekatmu!" jawab Ana.
"Ya. Katakan!" ujar Ammo sabar.
"Aku dapat informasi, bahwa ada agen dari Biro yang ditempatkan di dekatmu!" ujar Ana.
Ammo tak langsung membalas. "Siapa?" tanyanya akhirnya.
"Nick dan Rosie!" kata Ana hati-hati.
"Ap—" Ammo nyaris berteriak karena terkejut. Tapi dia segera menguasai diri.
"Kau yakin?" tanyanya lagi. Tapi ketenangan dalam suaranya sudah berkurang.
"Akurat! Dan kodemu di Biro adalah Scorpio. Aku pernah membaca perintah rahasia untuk menghabisi Scorpio, tapi karena itu bukan wewenangku, tak mengetahui bahwa itu dirimu, aku tak memeriksanya lagi. Namun sekarang, semuanya jadi jelas. Berhati-hatilah. Mereka orang yang siap mati, untuk membunuhmu!" Ana menegaskan peringatannya.
"Terima kasih. Aku berhutang padamu!" ujar Ammo.
Ana mematikan sambungan teleponnya. Dia percaya Ammo akan melakukan hal yang tepat untuk membereskan Nick!
"Tak heran, beberapa hal rahasia, bisa bocor ke tangan Biro. Ternyata setelah Rosie ketahuan, Nick yang menggantikan perannya!" Ana mengingat-ingat perihal penyerangan ke tempat perawatan Nathalie, James dan Oscar.
"Dan usaha pembunuhan Ammo saat menjemput Carl. Apakah itu sungguhan, atau sekedar drama untuk membuat Ammo makin mempercayai Nick?" pikir Ana.
"Atau, mereka ingin sekali jalan. Jika Ammo sial dan tewas, tugas selesai. Jika selamat, Nick dapat pujian dan kepercayaan. Licik!" umpat Ana.
Diambilnya lagi kotak obat dan mie dingin yang sudah mekar dari atas meja. Lalu menuruni tangga ke lantai bawah.
*
******
Ammo baru akan melangkah, ketika ponsel itu kembali bergetar. Panggilan dari Alexei.
"Ya!" jawabnya singkat.
"Dia sudah pergi. Dokter Dorjan bilang, kau mengusirnya. Tadi setelah melakukan cuci darah, dia pergi tanpa mengatakan di mana mereka bersembunyi," lapor Alexei.
Ammo menejamkan matanya. Ludahnya terasa pahit saat ditelan. "Apa yang harus kukatakan pada Ana?" batinnya.
"Tapi aku sudah menitipkan surat pada dokter itu. Agar diserahkan pada Ivan, jika dia datang untuk cuci darah lagi." sambung Alexei.
"Semoga ada titik terang," harap Ammo.
"Aku sudahi dulu!" ujar Alexei dari seberang.
Sambungan telepon pun terputus. Ammo menghela nafas berat. Barusan Ana menyampaikan informasi penting. Dan hutang itu belum dibayarnya. Sekarang ayah gadis itu kembali hilang entah ke mana, karena diusirnya! Padahal dia sedang dikejar-kejar The Hunters. Sedang sakit dan harus cuci darah.
"Apakah aku telah bersikap sangat kejam?" batinnya.
Ammo berjalan melewati Nick seperti tak ada kejadian apapun. Dia kembali masuk ke ruangan dan melanjutkan rapat. Nick tetap berdiri dan berjaga di balik pintu tertutup itu.
Ammo mengirim pesan pada Theo dan menyampaikan informasi itu. Memintanya memeriksa kamar Nick secara diam-diam. Jangan sampai terlihat oleh anggota lain, agar tak ada seorangpun yang melapor pada Nick yang sedang berada di kantor.
Ammo mengetik pesan lagi. "Kau yakin bisa mengatasinya?"
"Ada Kapten Smith di sini," balas Theo.
"Kau tak mencurigai Smith?" Ammo mengirimkan pesan lagi.
Bagaimanapun, Kapten Smith yang merekomendasikan Nick pada Ammo. Dari seratusan orang pengawal, kenapa Nick yang dipilih?
Pesan itu lama baru mendapat balasan. "Terserah Tuan saja. Tapi berhati-hatilah!" pesan Theo.
"Kukira kau benar. Jangan periksa dulu kamarnya. Mungkin saja dia menasang cctv yang terhubung ke ponselnya!" balas Ammo akhirnya.
Ammo sudah menemukan cara untuk mengatasi Nick.
"Baik, Tuan." Pesan Theo kembali masuk.
Ammo mengetik pesan lagi. Laporan perusahaan siang itu tak terlalu diperhatikannya.
"Bisakah kau datang ke sini sekarang? Ada tikus yang perlu dibereskan!" pesan Ammo terkirim.
Lima menit kemudian, pesan balasan masuk. "Ya!"
Ammo merasa tenang sekarang. Akhirnya dia bisa kembali fokus pada pekerjaannya. Rapat itu kembali hidup, dengan beragam kritik pedas dari Ammo.
Satu jam kemudian.
Seorang wanita cantik dengan rambut bergelombang dan dicat warna-warni, melenggang seperti peragawati di koridor menuju ruang rapat.
Nick menahannya saat ingin mendorong pintu ruangan. Pegawai kantor lain yang merupakan asisten para bawahan Ammo, tak berani ikut campur.
Meskipun mereka mengenal wanita itu, tapi tak ada yang berani berkonfrontasi pada Nick. Mereka tahu bahwa pria itu pengawal kepercayaan Ammo.
"Siapa kau! Berani sekali menahanku di pintu!" bentaknya keras.
Yang lain menjauh dari keduanya. Tak mau terseret dalam keributan yang baru saja terjadi.
"Siapapun yang ingin anda temui, semuanya sedang rapat. Silahkan menunggu di sana, seperti yang lain," jawab Nick.
"Kau tak tau siapa aku?" tanya gadis itu emosi. "Tanya mereka!" tunjuk gadis itu pada para asisten yang berdiri menjauh.
"Tak ada yang bisa menahan langkahku menemui Ammo!" teriaknya.
"Kau kupecat!" ujarnya murka.
"Susaaannn!" teriakan keras itu menggema di lorong.
"Ya, Nyonya!" Seorang wanita mengenakan sepatu hak tinggi lari tergopoh-gopoh. Empat bodyguard bertubuh besar dengan senjata lengkap, ikut berlari datang.
"Ya, Nyonya!" sahut wanita berkacamata itu lagi. Sebuah tablet telah siap di tangannya.
"Pecat dia sekarang!" perintahnya.
"Ya, Nyonya!" Wanita itu segera menulis memo pemecatan.
"Anda tak dapat memecat saya, Nyonya!" Nick menolak memo pemecatan yang masuk ke ponselnya.
"Kenapa tak bisa?" Nyonya itu menggerakkan jarinya. Dengan segera empat pengawal itu bergerak meringkus Nick. Mereka mengangkat tubuh Nick seperti mengangkat karung beras!
"Saya pengawal Tuan Ammo!" protes Nick.
Dia melawan perlakuan para bodyguard itu. Tapi kalah kuat dengan mereka. Tangannya mencoba meraih pistol dipinggangnya! Dan Nick terkejut. Pistol itu telah lenyap. Dia bahkan tak menyadari saat dilucuti.
"Biar kuberi tahu kau! Aku bahkan bisa memecat Smith, Sawyer, bahkan Theo! Tapi aku tak ingin dibenci Ammo jika melakukannya. Aku hanya memecat orang yang bersikap lancang padaku!" ujarnya ketus.
Lalu tangannya melambai. Empat pengawal itu membawa Nick pergi dari sana.
Ammo keluar ruangan. Dia telah mendengar keributan itu dari awal. Dilihatnya Nick dibawa pergi sambil berteriak.
"Hallo kakak!" ujar gadis itu gembira. Kemanjaannya muncul dan tangannya menggandeng tangan Ammo, memasuki ruangan bersama-sama.
"Selamat datang Eleanor!" sapa seisi ruangan.
"Salam ... paman dan bibi semua." Gadis itu menganggukkan kepalanya sedikit, tanda hormat.
******